
Kegalauan hati nyatanya memang bisa membuat mood seseorang menjadi kacau, tak terkecuali Tiara. Seharian ini tidak ada senyum manis di wajahnya seperti biasanya, hingga rekan kerjanya pun tidak berani menegur. Beberapa kali juga dia melirik ponselnya, berharap Alex mengirim pesan atau menghubunginya.
Tapi nihil, lelaki itu seharian ini tidak ada kabar sama sekali. Tiara tersenyum kecut. Meraih tasnya karna jam pulang kantor telah tiba.
Tin Tin
Bunyi klakson mobil membuat gadis itu menengok.
"Naik.." tariak Dion dari dalam . Gadis itu pun menurut, bergegas naik ke dalam mobil mewah itu.
"Kenapa muka mu kusut Ra..? " tanya Dion akhirnya setelah laju mobil mulai membiak jalanan.
" Ga papa kak.. " jawab Tiara dengan kepala menyandar dan mata memejam.
"Ga papa gimana, coba cerita. Kamu kuyu banget kayaknya. "
Tiara menghela nafas panjang, membuangnya perlahan. Semalam tidurnya memang tidak nyenyak karna memikirkan hubungannya dengan Alex.
"Kita cari tempat makan dulu ya. Sekalian temani kakak makan.." Dion memberi usulan, setidaknya gadis itu tidak akan menolak jika beralasan menemaninya.
Dan di sini lah mereka sekarang, restoran pilihan Dion.
"Kenapa kakak pilih makan di sini.. ?" iseng Tiara bertanya dengan mata memindai semua tempat berharap bertemu orang yang di harapkan.
"Eh, ngarepin. apa sih Ra. bola bekel biar glinding aja ah.." tak sadar gadis itu tersenyum sendiri hingga Dion yang menjelaskan tentang pertanyaan Tiara tadi di buat bingung.
"Tiara... " Dion mengibaskan tangannya di depan wajah adiknya itu.
"Ehk, maaf kak. Tadi kakak ngomong apa..? " jawab gadis itu malu.
"Kamu mikirin apa sampe senyum sendiri gitu, dah kayak OGB.. " ujar Dion.
"Haha... astaga, aku lagi ke inget panggilan seseorang kak. Aku menamainya bola bekel.. Dan tiba-tiba aku merasa geli sendiri dengan panggilan itu. "
Tawa lebar dengan mata terbuka penuh, dan ke antusiasan bercerita membuat Dion mengerutkan keningnya, dia tau Tiara tidak terlalu banyak teman. Gadis itu sedikit tertutup dengan dunia luar.
"Apa orang itu special..? " tanya Dion.
Tiara menggeleng pelan, tawa lebarnya tadi langsung sirna " Dia orang yang sangat menyebalkan bagiku.. !"
Dion tersenyum miring. "Mungkin ada sisi lain yang special dari dia, selain menyebalkan seperti katamu tadi. " goda Dion dengan sesekali mendongak menatap wajah adiknya itu.
Tiara mencebik dan setelah itu seorang pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka. Mereka langsung mulai menikmati makanan itu di selingi obrolan ringan.
Setelah melihat Tiara mengelap ujung bibirnya dengan tisu. Dion langsung menegakkan duduknya.
"Jadi ada apa? kenapa kamu keliatan galau.. ?"
__ADS_1
Gadis itu meraih jus jambu miliknya, menghela nafas pelan sebelum mulai menceritakan semuanya pada Dion. Dion mendengarkan secara seksama tanpa menyela sedikit pun.
"Berat juga ya hubungan kalian.. " ucap Dion setelah keponakannya itu selesai menceritakan semuanya dengan wajag sendu.
"Lihat saja nanti ke delan, jika ada itikat baik dari Alex, lanjutkan rencana kalian.. jika tidak.. " Alex menggantung ucaoanya saat Tiara mendongak menatapnya.
"Percayalah.. jodoh ga akan ke mana Tiara.. " Dion mengusap punggung tangan Tiara untuk menenangkan gadis itu.
###
Di sebuah toko lain. Bara dengan telaten mengikuti adik bungsunya masuk di peralatan sekolah. Gadis kecil itu memilih beberapa pulpen, buku juga aneka printilan untuknya.
"ckk.. katanya cuma buku gambar.. " Ujar Bara saat adiknya menenteng begitu banyak benda.
"Sekalian Bang.. heehe. " Laila langsung menuju kasir.
Bara berdiri di belakang Laila dan langsung membayarnya ketika kasir menyebutkan jumlah yang harus di bayar.
Laila keluar dari toko dengan wajah sumringah , 2 kantong belanjaan membuat gadis itu tersenyum lebar.
"Abang, aku mau es krim.. " ucap gadis itu sambil menatap penuh minat logo es krim terkenal.
"Ayo beli.. " Bara mengecek ponselnya yang berbunyi. Ternyata panggilan masuk dari papanya.
"Laila, kamu ke sana dulu. Abang angkat telpon.. "
Dion menoleh saat merasa ada seseorang di belakangnya .Di lihatnya seorang gadis belia dengan 2 kantong plastik toko buku ternama .
Tiba giliran Tiara, gadis itu maju memilih varian untuknya juga Dion.
"Vanila 2 ya mbak. "
Tak lama pun pesanan siap dan Tiara membayarnya. ''Terima kasih. " ucapnya tersenyum sambil mengambil kembalian baki.
Laila maju saat Tiara menyisih. "2 rasa coklat mbak.. " Gadis itu celingukan mencari abangnya. Tapi tak terlihat bayang abangnya sama sekali.
"Aduh, abang kemana sih.. " Menyesal tadi dia tak melirik abangnya dulu dan justru langsung memesan. Sedang dia tak membawa dompet, karna merasa tidak penting. Kan pergi dengan abangnya.
"Semuanya 45 ribu dik.. "ucap mbak penjual.
Laila pucat, dia tidak membawa uang.
"Aduh mbak, bentar ya aku cari abang aku dulu, aku ga bawa uang. " gadis itu merasa tak enak hati. Dan juga menyesal tak membawa dompetnya.
"Kalau ga ada uang, jangan jajan donk.. " ketus rekan penjual itu yang di sikut oleh mbaknya.
"Memang abangnya di mana.. ?" tanya mbak penjual dengan senyum.
__ADS_1
"Tadi aku kira di belakang aku mbak.Bentar ya aku telpon.. " Gadis itu gemetaran hampir menangis sangking takutnya, dia meletakkan belanjaanya. Untungnya tak da orang lain yang iku mengantri di belakangnya.
Tiara yang berdiri di sisi stand lsngsung maju, dia tidak tega melihat gadis itu memucat hampir menangis. Membuka dompetnya mengeluarkan selembar uang merah " ini untuk es krimnya gadis itu mbak.. "
"Baik mbak.." mbak penjual langsung memberikan es krim pesanannya pada Tiara.
Tiara melangkah mendekat ke gadis yang terlihat sedang memegang ponselnya .
"Abang di mana. ?" tanya gadis itu menahan tangis.
"Abang di toilet, kamu di mana Laila.. ?" Bara panik mendengar suara isak adiknya di talian.
"Dek. ini es krimnya, udah kakak bayar. udah jangan nangis ya.. "
Suara itu ikut terdengar di talian, Bara secepat kilat lari menuju stand es krim sambil mematikan panggilan. Dia lupa, sehabis tadi bertelepon dengn papanya langsung menuju toilet. Meninggalkan Lailana.
Di sana dia melihat adiknya tampak mengusap air matanya dengan baju bagian siku miliknya dan seorang wanita berdiri di depannya menenangkan. Juga seorang lelaki dewasa ikut mendekat melihat adiknya menangis. Bara mempercepat langkahnya.
"Lailana. . !"
Suara itu membuat ketiganya menoleh. Tiara terkejut melihat Bara di sana, Dion hanya diam memperhatikan sedangkan Laila berlari menghambur dengan 2 tangan memegang cup Es.
"Abang... Hwahuuuu..... " gadis itu menangis di pelukan Bara. Bara mendekap tubuh adiknya.
"Maaf, abang lupa tadi langsung ke toilet.. " ucap Bara menenangkan.
"Maaf ya, udah jangan nangis. Abang minta maaf.. "
Tiara menatap lekat pemandangan di depannya, tidak menyangka Bara sehangat itu. padahal baginya Bara seseorang yang sombong dan menyebalkan. Dia juga menebak yang gadis kecil itu pasti adiknya, wajah mereka seiras mirip.
"Ayo... " Dion menggiring Tiara, karna merasa gadis kecil itu sudah aman.
Tiara menatap Dion dan mengangguk.
"Tunggu.. " Suara Bara membuat langkah Tiara terhenti dan menoleh di ikuti Dion.
Bara mengambil cup es krim di tangan adiknya, dan menggiring gadis yang masih memeluknya itu mendekat ke arah Tiara.
Mata Bara menelisik ke arah Dion lalu kembali menatap Tiara.
"Terima kasih sudah menenangkan Laila tadi dan maaf jika adik ku mengganggu kalian.. "
"It's okay.. Ayo Ra.. " Ajak Dion lagi.
"Saya permisi.. " Tiara mengangguk hormat sebelum mengikuti langkah Dion.
Mereka tidak menyangka bertemu kembali di luar urusan kerja.
__ADS_1
Tiara & Bara .