
Harapan tinggal harapan, itu lah yang selalu di rasa oleh Tiara. Hari ini dia kembali tidak bisa mewujudkan semua harapannya untuk jadi nyata. Kembalinya Mamahnya membuat ruang geraknya kembali semakin terbatas .
"Tiara, kamu baru pulang?" tegur Mariana sambil menatap jam di dinding lalu kembali ke wajah anaknya.
"Iya Ma, ada banyak kerjaaan. " jawabnya dengan lesu.
"Semalam ini..?" Mariana tampak terkejut pasalnya putrinya kembali ke rumah lewat jam 9.
"Aku biasa pulang jam segini ma. " ketusnya tanpa sadar. Kesal karna cape kerja lalu di rumah justru di cerca mamahnya.
"Sayang, kamu sudah menikah. Mama tau kamu begitu mencintai karier mu. Tapi kamu tidak bisa mengabaikan tanggung jawab mu sebagai istri. Ini hampir jam 10 malam dan kamu baru pulang, bagaimana kamu mengurus suami dan rumah tangga mu. Apa Bara sudah makan apa belum, apa semua di rumah baik-baik saja . Apalagi nanti saat kalian punya anak." Tutur Mariana lembut.
"Dia sudah dewasa ma, tidak perlu aku mengingatkan hanya untuk makan." jawab Tiara sambil berjalan menuju tangga.
"Tiara..!" Mariana tampak tak menyangka akan jawaban anaknya.
Tiara membalikkan badannya, "Mama yang meminta dia jadi suamiku tanpa mama tanya persetujuan ku. Mama kira mudah hidup bersama orang asing, orang yang bahkan Tiara ga kenal. Aku tidak perduli dia sekarang suamiku, jadi jangan jadikan alasan apapun untuk aku harus berbakti dan mengurusnya." Dia sudah lelah hati dan fikiran, meski dia tau ini akan salah dan membuat mamanya kecewa.Tapi dia sudah tak bisa menahannya lagi.
Mariana terkesiap kembali akan jawaban anaknya, helaan nafas tampak sesak di dadanya.
"Aku tidak bisa melanjutkan ini semua ma, aku lelah dan merasa tertekan sendiri. Aku mohon jangan melakukan apapun yang menurut pemikiran mama terbaik untuk ku, tapi aku tidak menginginkannya."
"Sayang, mama melakukan ini-".
"Cukup ma, aku sudah dewasa Ma, bukan anak-anak. Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri dan apa yang jadi keinginanku." potong Tiara.
Mariana hanya mengusap dadanya lemas, melihat putrinya berlalu dari hadapannya. Tidak menyangka keputusannya membuat putrinya tertekan selama ini. Apa yang menurutnya yang terbaik nyatanya tidak bisa di terima oleh putrinya.
__ADS_1
"Kenapa hatimu sangat keras sekarang sayang, Ya Allah.. lembutkan hati putriku. " Mariana terduduk di sofa sambil terus merapal do'a dan istigfar.
Bara pulang hampir pukul 12, masuk perlahan ke dalam rumah yang tampak gelap sebagian. Dia tau penghuninya mungkin sudah terlelap di alam mimpi.
"Baru pulang Nak..?" Mariana tiba-tiba keluar dari pintu kamarnya membuatnya terkejut.
"I-iya mah, mamah belum tidur..? " tanya Bara.
"Belum, mama habis mengaji. Naiklah, istirahat. " tutur Mariana.
Bara pun mengangguk dan tersenyum. "Aku naik dulu Mah.. "
Mariana hanya mengangguk pelan dengan mata terus menatap menantunya yang mulai menaiki tangga. Lelaki pilihannya tidak buruk, Bara cukup tampan dan baik.Juga tidak neko-neko. Tapi kenapa putrinya tidak bisa menerimanya.
Sedang di kamar , Bara langsung mandi dan menyusul Tiara tidur. Di lihatnya wajah sembab istrinya, dia kembali berprasangka yang Tiara menangisi Alex seperti biasanya. Dia pun membenarkan selimut dan mengecup lembut dahi wanita yang mulai mengisi penuh hatinya itu.
Tiara terbangun dengan tubuh memeluk Bara dengan eratnya, bukan sekali dua kali dia terbangun dengan keadaan itu. Dia juga heran kenapa amat nyaman memeluk tubuh Bara saat tidur.
Perlahan dia beringsut mundur, takut ketahuan jadi malu. Tapi rupanya apesnya datang hari ini.
"Sudah bangun..?" Tanya Bara dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya setengah terpejan tapi bibirnya masih mengulas senyumnya.
Tiara tercekat karna terkejut dan malu, dia berusaha beringsut mundur tapi Bara justru merengkuh tubuhnya, menariknya kuat hingga dia kembali teejerambab di atas tubuh Bara.
"Baraaa.." pekiknya dengan mata yang nyaris keluar. Dia berusaha meloloskan diri dengan beringsut turun.
"Diam lah, kamu membuat.. " Wajah Bara tiba-tiba panik dan pias karna pergerakan tubuh istrinya di atasnya.
__ADS_1
"Lepasiii.." Tiara berusaha melepas pelukan tangan Bara di pinggangnya .
"Ara, berhenti. Jangan gerak-gerak!"
Tiara yang sebal semakin mendorong dada Bara agar dia bisa terlepas dari pelukan lelaki itu.
"Ahh.." pekik Tiara terkejut saat posisi mereka justru terbalik dalam sekejab, dengan Bara yang berada tepat di atasnya.
"Aku bilang jangan gerak-gerak ." Ucap Bara dengan pandangan lekat ke arah wajah istrinya, lalu beralih pada bibir yang begitu dia damba.
Tiara memukul dada suaminya, "Kamu yang membelit pinggangku. Udah minggir! " ketusnya.
Bara justru merapatkan tubuhnya pada istrinya, Tiara tersentak saat merasakan tonjolan keras di bagian bawah mengenai pahanya.
"Aku hanya ingin memeluk mu, dan kamu justru memancingku." Mata Bara tampak berkebut, seketika tubuh Tiara meremang saat tangan suaminya mulai mengusap pipinya lembut. Mata mereka saling bertemu, dengan debaran dada yang sama-sama terdengar.
"Hentikan Bara.. " Tiara membuang pandangannya,berusaha menyingkirkan tubuh suaminya.
"Kenapa, kamu istriku..aku berhak."
Ucapan Bara membuat Tiara kembali menatapnya, tanpa di nyana Bara langsung mencium bibirnya. Membuatnya seolah berhenti bernafas dalam sekejab.
**Maaf kan autor yang jarang up, sedang sibuk sekali di dunia nyata.
Tetap jaga kesehatan kalian. Terima kasih masih setia di sini bersama Bara Dan Tiara.
love. L.E**
__ADS_1