Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 46


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Jika calon pengantin lain begitu berdebar akan hari pernikahannya, lain dengan Tiara yang berdebar menunggu Alex mengangkat telponnya. Berdebar akan keputusan Alex.


"Kak, aku pengen keluar. Aku harus ketemu Alex.. " Pintanya pada Dafa malam kemarin yang di jawab gelengan keras lelaki itu. Biasanya Dafa adalah orang yang paling mudah luluh jika dia membuat permohonan. Tapi kali ini permohonannya hanya di anggap angin lalu oleh lelaki itu.


"Ra, kamu belum bersiap.. ?" Via masuk ke kamarnya sambil menggandeng Maira.


Tiara yang semula tercenung di depan meja rias langsung menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Kita akan ke hotel lebih dulu Ra, kamu udah nyiapin pakaiannya. ?" Via menoleh ke arah koper yang masih berdiri rapi di sisi tempat tidur.


"Via, kamu tau aku masih menunggu kabar dari Alex.. " ujar gadis itu lesu.


"Hei... " Via berdiri di belakang Tiara. Mengusap punggung gadis itu sambil saling bertatapan lewat cermin.


"Malam ini keluarga mempelai pria akan datang untuk melakukan seserahan. Jadi apa lagi yang kamu tunggu.. "


Tiara melotot kaget mendengar penuturan Via, dia langsung berbalik menatap lekat ke arah Via. " Kamu serius Vi.. ?"


Via mengangguk dengan senyuman.


"Tapi mama ga bilang apa-apa.. " Tambah Tiara.


"Mau ngomiong apa lagi, kan memang ini jadwal kayak yang dulu di omongin. Malam ini malam seserahan kan ?" terang Tiara mengingatkan.


Sedang Tiara yang merasa belum yakin segera bangun meraih ponselnya kembali.


"Mau nelpon siapa lagi sih Ra, udah buruan berkemas. Kita akan berangkat sehabis dzuhur. " Via merampas ponsel Tiara agar gadis itu tidak menghubungi siapa-siapa yang berhubungan dengan Alex.


"Ponsel mu aku pegang sampai hari H besok. "


Baru Tiara akan membuka mulutnya protes tapi Via langsung memotongnya. " Aku ga mau kamu berfikiran macam-macam atau mendengar ucapan orang yang ga jelas. Jadi ini aku bawa sementara. Besok pagi aku kembalikan.. " tegas Via.

__ADS_1


"Vi, kamu tega.. ?" iba Tiara agar Via mengbalikan ponselnya. "Bagaimana jika aku bosan.. ?"


Via menoleh ke arah Maira yang duduk diam di tepi ranjang sambil memainkan tab miliknya. "Maira sayang, tolong pinjamkan tab mu untuk ante Ara. Ante Ara katanya bosan karna ga ada mainan... "


Gadis kecil itu mendongak menatap mamahnya lalu beralih pada Tiara. "Ok mama.. Ante boleh mainin tab aku kok. Kan aku baik.. " Maira mengulurkan tab miliknya yang di sambut mimik muka terkejut Tiara sampai ternganga.


"Ante mainan apa sama tab Tiara..? " Gumam Tiara sambil menatap tab di tangannya.


"Mainan Candy Crush Saga juga boleh." Jawab Via. " Ayo Maira, kita beresin baju kita. Biar ante mainan Candy Crush Saga nya. " tuturnya sambil menggandeng tangan Maira menuju pintu keluar.


Tiara mendengus kesal, tapi sedetik kemudian tersenyum lebar karna merasa senang akan ada acara seserahan nanti malam. Maknanya Alex memenuhi janjinya. Gadia itu turun ke lantai dasar dengan wajah gembira, menghampiri mamanya yang sibuk memotong kue. Tampak dia sesekali menatap kesibukan di dapur. Yang menandakan memang nanti malam memang akan ada acara.


"Ma.... " Sapanya sambil tersenyum mendekat.


"Ada apa.. ?" wajah Mariana tak kalah berserinya, Tiara bisa melihatnya. Rasanya tidak ada yang lebih melegakan setelah melihat wajah mamanya itu.


"Malam ini kan malam seserahan, apa ga sebaiknya aku di sini dulu.. " ujarnya sambil mencomot 1 kue dan memakannya.


"Kamu akan ke hotel bersama Via dan Dafa setelah Dzuhur. Kan kamu harus perawatan dulu. Urusan malam ini biarlah jadi urusan mama. Kamu hanya perlu istirahat cukup biar besok wajah mu berseri-seri sayang. "


"Emang kamu ga mau bikin pengantin Prianya terpana besok, lihatlah.. mata panda ini. Dari kemarin nangis terus, wajah mu kusut, tubuh mu dekil. Oh Ya Salam... apa ga ilfil nanti calon suamimu.. " tambah Mariana sambil nenggeleng pelan.


Tiara terkekeh, ucapan mamanya ada benarnya. Dia perlu perawatan untuk acara besok.


"Mbak, ini Nak Bara telpon.. katanya.. " Ida yang tiba-tiba datang menggantungkan ucapannya saat melihat Tiara disana. Mariana tak kalah terkejutnya hingga mengedip-edipkan matanya memberi kode.


"Bara kenapa Tan.. ?" tanya Tiara yang kepo saat melihat raut terkejut di wajah tantenya.


"Eh.. itu. ." Ida menoleh ke kanan dan kiri bingung memberi alasan.


"Itu, Nak Bara kan yang ngurus bagian Cetering. Karna mama memang memilih restorannya. Mungkin dia ingin memastikan disertnya karna kemarin kan sempet di ganti " terang Mariana berusaha santai agar anaknya tak curiga.

__ADS_1


"Owhh.. jadi restoranya milik pak Bara. " Tiara manggut-manggut. "Ya udah aku ke atas dulu Ma, Tan, mau beres-beres." ujar gadis itu.


"Iya sayang.. " jawab Mariana dan Ida hampir bersamaan.


Sepergian Tiara, Mariana langsung menepuk paha adik iparnya itu.


"Kamu ini ga liat-liat, main nyerocos aja.. "


"Auw. Ya maaf mbak, aku ga tau dia turun kebawah. Tapi mbak aktingnya top banget. Udah cocok deh jadi pemain sinetron." ujar Ida terkekeh sambil mengusap pahanya yang panas.


"Sinetron gundul mu.. Udah mana hp mu. Ada apa anak itu nelpon. " Mariana mengulurkan tangannya mengambil ponsel milik Ida.


"Mbak, dia calon mantu mu loh.. " bisik Ida sebelum pergi takut kena ocehan Mariana.


##


Malam itu Tiara menghabiskan waktunya di hotel untuk perawatan, Via dengan setia menemani. Sedang Dafa dan Niko ikut bersantai menunggui mereka.


Binar bahagia terpancar dari wajah Tiara, Dafa yang beberapa kali memperhatikan hanya menghela nafas panjang, berharap adiknya besok bisa menerima semuanya.


"Ga tega aku sebenarnya Bang, takut syok gitu dia besok " komentar Niko saat melihat ke arah pandang Dafa.


Dafa mengangguk lemah. Apalagi dia, baginya ini sangat menyakitkan. Tapi martabat keluarga sedang di pertaruhkan di sini. Meski tidak semua mengenal Tiara sebagai salah satu pemilik saham tambang emas. Tapi jika menyangkut keluarga Wirawan. Semua akan di pertaruhkan kehormatannya di sini.


"Saya dah anggap dia kayak adek saya sendiri Nik, dia kayak Dara. Itulah saya mati-matian bela dia kemarin. Apapun nantinya yang terjadi, biar dia yang akan membuat keputusan. Kali ini kami hanya memilih yang terbaik bagi dia dan masa depannya juga yang terbaik drmo nama keluarga." tutur Dafa .


Niko mengangguk setuju. " Oh iya, kemarin abang ngomong apa aja sama si Alex itu.. ?" tanya Niko yang penasaran.


"Ga ngomong apa-apa, males.. penting bogemannya aja. Biar mampus tu orang " kesalnya.


Niko yang mendengar itu menelan ludahnya kasar, memilih tidak melanjutkan rasa penasarannya.

__ADS_1


__ADS_2