
Selepas subuh, Tiara langsung di dandani oleh MUA pilihannya. Kebaya muslim warna putih dengan hiasan krudung senada menjuntai hingga lantai. Tak lupa pula sematan mahkota bertahtakan berlian dan emas hasil desain anak cabang tambang miliknya, juga melati di bagian sisi. Menambah kesan anggun di hari bahagianya.
"Cantik banget mbak... " ujar sang MUA sembari tersenyum puas akan hasil riasannya.
"MasyaAllah... Muti..kamu bikin pangling. " puji Fatma, teman kerjanya yang ikut menemaninya hari ini.
"Iya, lain banget. Biasanya ga pake krudung padahal. " tambah Noni lagi.
"Kalian bisa aja.. " Tiara tersipu malu, dan berusaha membaur dengan obrolan teman-temannya untuk mengurangi rasa Nervous nya.
"Gila...cantik bener ini pengantin.." Via yang baru masuk ke kamar pengantin berdecak penuh kagum. Sedang Tiara hanya menunduk malu.
"Ayok turun, bentar lagi akadnya mulai.. " Via menggandeng tangan Tiara sedang Noni sigap mengangkat bajunya yang menjuntai dan Fatma memegang bagian kanannya.
Tiara di tempatkan di sebuah ruangan yang tertutup, di sediakan TV untuk menyaksikan proses akad di bagian ballroom. Dengan senyum mengembang, matanya tampak awas karna ingin melihat sosok Alex. Tapi entah kenapa layar hanya berfokus pada keluarganya saja.
Mariana masuk dan tersenyum menyapa teman - teman Tiara, lalu memilih duduk di sisi putrinya.
"Mama.... "
"Jangan nangis, nanti make-upnya luntur, Sayang.. " tuturnya lembut dengan mata mengembun.
"Harusnya jika papa masih ada, papa yang akan menikahkan kamu , tapi berhubung tidak ada saudara lelaki papa. Kamu akan memakai wali hakim." terang Mariana lembut, yang di angguki Tiara.
Di tatapnya lagi lekat wajah putrinya yang hari ini sangat cantik.
"Tiara, kamu cantik sekali hari ini." puji Mariana tulus. "Mama sayang sama kamu Ra.. sayang banget.. . "
"Aku juga sayang sama mama... " Tiara menghambur memeluk mamahnya karna rasa haru yang menyeruak. Sang MUA yang panik segera mendekat .
"Mbak, nanti dandananya rusak. Maaf yaa..." bujuknya .
Mariana mengurai pelukan anaknya, di raihnya kedua tangan yamg tampak dingin itu
"Tiara dengarkan mama . " Mariana menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. " Tiara, calon suamimu bukan Alex, tapi Bara ."
__ADS_1
Duarr.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Ucapan mamahnya seperti mimpi. Tiara sangat berharap itu adalah mimpi, hingga telinganya mendengar sesuatu yang memaksanya menoleh dan menatap lekat ke arah LCD yang menampilkan seorang lelaki berpakaian baju melayu berwarna putih menjabat tangan penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Andini Wirawan binti Almarhum Hardian dengan mas kawinnya seperangkat alat sholat dan uang sebesar 1 milyar di bayar kontan "
"Saaahhhhh..... "
Air mata langsung meluncur bebas di pipi Tiara, rasanya dia ingin pingsan saat itu juga, tapi kenapa itu tidak terjadi . Seluruh orang yang hadir di ruangan hanya diam menatapnya, mungkin masing-masing merasa bersalah karna menutupi apa yang terjadi.
Terlihat lantunan Do'a yang di panjatkan pemuka agama dan di amini seluruh yang hadir di ballroom. Tiara masih syok, menatap nanar tampilan sosok lelaki yang telah mengikrarkan dirinya untuk menjadi seorang istri lewat layar.
"Ini ga mungkin..." Tiara seketika bangun menuju pintu keluar arah lift.
"Tiara... " Mariana yang terkejut ikut bangun berusaha menariknya.
"Kamu mau kemana..? "
"Aku mau pergi Ma, aku ga mau nikah sama Bara.. !" tegasnya mulai berurai air mata.
Via ikut menahan lengan Tiara agar tidak lari dan terjadilah saling dorong dan tarik. Fatma dan Noni tak kalah panik, sedang sang MUA ribut karna dandanannya rusak.
"Sayang, mama nglakuin ini demi kebaikan kamu ." Mariana mulai menangis mencoba memberi pengertian putrinya.
"Kebaikan apa yang mama maksut.. ?!" bentaknya penuh amarah.
"Ra, sabar Ra... " bujuk Via mengusap lembut lengan Tiara.
Tiara menghempas kasar tangan Via dan menatapnya tajam. "Kamu juga terlibat kan Vi, kamu tau semuanya dan menyembunyikannya dari ku !!"
"Tiara... " Mariana berusaha meraih tubuh anaknya tapi Tiara mundur menghindar membuatnya jatuh terjungkal hingga membentur lantai.
"Tante....!!! " Teriak Noni dan Fatma.
"Mama....!! " pekik Via ikut terkejut.
__ADS_1
Ketiganya bersamaan meluruh mengangkat tubuh lemah Mariana.
"Mama...." lirih Tiara, dia ikut terduduk dan ternganga melihat mamahnya jatuh pingsan.
"Mama... mama bangun... mama... !" rangkaknya berusaha mendekat ke arah mamanya.
Sang MUA yang segera sadar kondisi langsung mencari minyak angin. Sedang Noni dan Rahma membantu mengangkat tubuh Mariana ke sofa.
Ida yang baru masuk di ikuti saudaranya ke ruangan untuk menjemput Tiara justru terkejut melihat seisi ruangan yang kacau.
"Ada apa ini...?! "
"Tante pingsan, tante pingsan.. " Rahma yang panik menyebut berulang-ulang.
Ida bergerak cepat menekan telpon untuk di panggilkan dokter. Sedang MUA terus membalurkan minyak di sisi kepala Mariana.
"Via, Kamu di sini nungguin mbak Mar. Dan Mbak MUA. Tolong rapikan dandanan Tiara. " Ida segera memberi intruksi, dia tidak mau suasana di ballroom ikut kacau balau.
"Ayo Tiara bangun..." bujul Ida berusaha mengangkat Tiara yang terduduk di lantai.
"Aku ga mau tante, aku mau nungguin mama. Aku bentak mama tadi.. " tangusnta kembali pecah.
"Tiara, dengatkan Tante. Mamah mu ga nyenyak tidur semingguan ini karna memikirkan pernikahan mu. Haruskan kamu hancurin semua usaha mamah mu Ara, Ayo.. bangun.."
Tiara yang lemah akhirnya menurut saat di tarik untuk bangun. Ida memegang pundak ponakannya itu .
"Tapi aku ga mau nikah sama Bara, tante..."
"Jangan egois, jika kamu tidak ingin menikah dengan Bara, mamah mu justru tidak pernah mau pernikahan mu gagal.. Ayo sekarang duduk, kita harus keluar karna semua orang menunggumu. Lakukan ini demi mamah mu Tiara..! "
Tiara menoleh ke arah mamahnya, Mata Mariana masih terpejam dan gurat lelah memang ketara di sana. Rasa bersalah kembali menyeruak, ini kah takdirnya. Sang MUA segera memulai tugasnya di bantu asistennya .
"Mbak, jangan nangis please...." Sang MUA tampak memohon karna harus beberapa kali merapikan riasan bawah mata.
Dengan di gandeng Noni dan Rahma, juga di ikuti Ida juga saudara nya. Tiara memasuki tempat akad dengan sambutan MC juga tatapan semua orang yang hadir. Pandangannya menunduk, rasanya dia tidak ingin mengangkat wajahnya. Hingga akhirnya 2 orang yang menuntunnya membantunya untuk duduk. Surat menyurat di hadapannya di minta untuk di tandatangani. Setelah itu di minta berdiri untuk saling memakaikan cincin dan seorang MC memberi intruksi untuknya mencium tangan Bara.
__ADS_1
Tiara meraih tangan yang begitu kokok itu, menempelkan pada keningnya . Sesudahnya Bara langsung memegang kepalanya, melafazkan doa dan mencium keningnya.
Tidak ada tatapan hangat Tiara. dia sama sekali tidak melirik pada Bara. Meski beberapa kali lelaki itu terus mencuri pandang menatap wajah cantiknya.