Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 5


__ADS_3

Suara menggelegar itu membuat Tiara berjingkat, hingga terantuk pintu kulkas.


"Siapa kamu.. Kamu maling..? " bahu Tiara terasa di tarik paksa hingga mereka saling bersitatap.


Tiara menjatuhkan buah apel yang dia pegang seketika, gadis itu menunduk untuk kembali mengambil buah itu.


"Kamu siapa.. ?" kembali lelaki itu bertanya karna tak mendapat jawaban dari Tiara.


Tiara tau itu pasti Dion, dia senpat melihat pigora gambar keluarga siang tadi.


"Maaf kak, saya Tiara.. " ucapnya pelan.


Terlihat dari arah tangga Dafa berlari, di ikuti bik Darmi yang keluar dari toilet. Mereka pasti mendengar teriakan Dion tadi.


"Ada apa bang.. ?" tanya Dafa yang tampak mengatur nafas setelah lari dari lantai 2 kamarnya.


"Dia siapa.. ?" Lelaki bernama Dion itu menujuk Tiara .


"Ini Tiara bang, temen aku.. " jawab Dafa.


"Kenapa dia buka-buka kulkas, bukannya tamu harusnya tidak selancang itu. " Dion menatap tajam ke arah Tiara yang jadi tidak enak hati.


"Duduk dulu bang.. " Ajak Dafa yang di ikuti Dion. Meninggalkan Tiara yang mematung di depan kulkas.


"Non Tiara ga papa.. ?" tanya Bi Darmi saat mendekat.


"Enggak kok bi.. " Tiara segera kembali ke dapur duduk di kursi dekat kompor.


"Itu den Dion non, dia mungkin terkejut karana melihat orang lain di rumah. Kan baru pulang dari luar kota. " Terang bi Darmi, sedang Tiara hanya diam. Terdengar sayup-sayur Dafa menjelaskan pada abangnya tentang Tiara.

__ADS_1


"Dara... " Suara dari atas membuyarkan fokus mereka. Dafa bangun di ikuti Dion langsung berlari menuju tangga. Tiara juga bi Darmi terbirit-birit lari mengikuti mereka. Khawatir mama Ani jatuh.


"Dara.. " kembali mama Ani memanggil, dia sudah menggunakan tongkatnya berjalan mendekati tangga.


"Mama.. !" Dafa dan Dion berlari menggapai mama mereka sebelum mendekat ke arah tangga.


"Mama mau kemana.. ?" tanya Dion.


"Di mana Dara, lama sekali. Katanya mau ambil buah.. Dar.. " ucapan mama Ani berhenti saat melihat Tiara dan bi Darmi sampai di tangga atas.


"Dara... " Mama Ani menyongsong kedatangan Dara membuat Dion mengerutkan keningnya. Sedang Dafa menepuk bahu abangnya tanda bangga.


"Mama kenapa ga nunggu di dalam, aku lagi bikin salad buah.. " ucap Tiara menenangkan mama Ani.


"Kamu lama sekali, ayo kita ke kamar. Biar Darmi yang buat salad buah.. " Mama Ani menggandeng tangan Tiara melewati 2 anaknya, yang satu tampak tersenyum puas sedang satunya menganga tidak percaya.


Pukul 9 lebih, setelah memastikan mama Ani tidur, Tiara keluar kamar dengan perlahan. Di bawah, tepatnya di ruang TV terlihat 2 beradik langsung menoleh saat tau Tiara turun.


"Jadi kamu serius mau merawat mama..? " tanya Dion tanpa basi-basi setelah Tiara duduk.


"Iy-iya kak.. " jawab Tiara bergetar, entah kenapa tatapan Dion sangat tajam. Mirip dengan tatapan mata seseorang tapi Tiara lupa siapa. Terlihat mengitimidasi.


"Baiklah, saya tidak masalah. Kamu punya KTp. Bagaimana pun saya ga kenal kamu. Hanya untuk berjaga-jaga. Toh Dafa juga belum lama mengenal kamu.. " Dion menatap lurus sosok Tiara.


"Saya belum punya ktp kak. Saya adanya kartu pelajar.. " jawab Tiara.


Dion mengerutkan keningnya " Kamu masih sekolah.. ? lalu gimana kamu mau kerja jagain mama saya.?"


"Saya bisa melakukannya setelah pulang sekolah kak, itu juga jika kakak tidak keberatan. " ucap Tiara berusaha tenang. Besar harapannya dia bisa kerja sepulang sekolah. Agar bisa segera membayar hutangnya pada Bara.

__ADS_1


Dion tampak berfikir, sedang Dafa menyerahkan semua keputusan pada abangnya. Bagaimana pun abangnya yang bertanggung jawab atas semua selepas kepergian papa mereka.


Dion menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya pada sofa .


"Baiklah. Meski saya sangsi kami bisa melakukannya. Tapi saya perlu mencoba dalam 3 hari kedepan. Biasanya perawat mama akan kabur setelah 3 hari. " Dion menatap remeh pada Tiara yang justru di balas senyum ramah Tiara.


"Terima kasih kak, saya akan berusaha semaksimal mungkin " Tiara menoleh ke arah Dafa, yang terlihat mengangguk setuju.


"Semoga hasilnya tidak mengecewakan.. " Dion bangkit dari duduknya. "Antar dia pulang Dafa,.. !. Titahnya tanpa memandang pada Dafa atau Tiara.


"Iya bang.. Ayo Ra. ." Dafa mengajak Tiara untuk bangkit.


Dafa mengantarkan Tiara menggunakan mobilnya, baginya tidak jadi hal. Karna rasa senang dan bahagia melihat mamanya bisa menerima Tiara.


"Makasih ya Ra, ga nyangka. Kamu bisa langsung ngambil hati mama.. " Ujar Dafa sambil menyetir.


"Sama-sama kak, semoga ke depannya mama Ani bisa lekas sehay seperti sedia kala.. " Tiara mengaminkan sendiri ucapannya, yang membuat Dafs tersenyum.


"Kak, boleh ga mampir ke super toko depan, aku ada perlu.. " ujar Tiara.


"Boleh ." Dafa menepi untuk parkir. " Mau aku temanin.. ?" tawar Dafa.


"Enggak perlu kak, bentar doang. . " Tiars turun dan melangkah cepat ke dalam toko. Dia mau membeli pembalut. Esok adalah jadwal bulanannya, perutnya pun sudah terasa tidak nyaman dari tadi. Di pilihnya harga yang paling murah, agat bisa menghemat uangnya. Untuk hari ini, dia bisa menyimpan 20 ribu jatah makan siang dan malamnya, karna sudah makan di rumah mama Ani.


Saat mengantri di kasir, secara kebetulan Bara bersama teman-temannya juga masuk ke dalam toko. Tiara tidak memperhatikan, karna takut Dafa menunggu lama, dia hanya fokus ke kasir. Setelah membayar gadis itu memasukkan apa yang di beli di tas sekolahnya dan buru-buru pergi.


Dari kaca tembus pandang, Bara bisa melihat seorang lelaki membukakan pintu untuk Tiara. Rupanya tadi Dafa tadi turun, khawatir Tiara kenapa-kenapa saat ada rombongan anak motor masuk Toko.


"Lo liat apa Bar.. ?" Salah satu teman Bara menyikutnya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa.. " Bara menuju stand minuman saat melihat mobil yang membawa Tiara mulai melaju.


__ADS_2