
"Ra, Ra.. bangun.. " usapan lembut di lengan Tiara membuatnya menggeliat malas. Dan justru berganti posisi.
"Bangun Ra, sudah pagi. Udah hampir jam 6, jamu ga subuhan ?" Bara masih duduk di sisi ranjang, tersenyum geli melihat istrinya justru manyun-manyun memeluk guling.
"Aku lagi ga subuhan ..!" kesalnya, dan menarik kembali selimut membungkus tubuhnya rapat.
Akhirnya Bara paham sesuatu, istrinya sedang datang bulan. Di usapnya wajahnya lagi. Sudah sebulan mereka menikah dan Tiara belum, lebih tepatnya mereka belum melakukan suami istri selayaknya. Sesak hati dan sesak bagian bawah membuat Bara bangkit menuju luar kamar. Bagaimana pun dia lelaki normal, saat melihat istrinya menggunakan piyama pendek saja membuat jakunnya naik turun.
Masih terlalu pagi untuk sarapan, ingin jogging tapi pagi ini justru hujan. Hari akhir pekan yang cocok untuk malas-malasan. Baru dia akan menyedu kopi tapi ponsel miliknya berdering.
"Kamu di mana.. ?" begitu suaranya, membuat bibik terkejut. Apalagi di lihatnya Bara langsung berlari ke atas tangga. Tak lama turun sudah menggunakan jaket dan menyalakan kunci mobil miliknya.
Bara bahkan lupa berpamitan saat panik mendapat telpon dari pegawainya di RedOne yang kecelakaan.
Mobilnya melaju pelan mengingat jalanan yang licin karna derasnya hujan. Dia langsung menuju sebuah rumah sakit sesuai apa yang di katakan di telpon tadi . Sesampainya di rumah sakit, hujan masih rintik-rintik. Dia nekat menerobos hujan untuk ke ruang UGD.
__ADS_1
"Bara... " panggil seseorang di atas Bed perawatan membuat pansangan Bara tang semula memenugi ruangan teralif padanya.
"Laras. ." dia setengah berlari menghampiri gadis berbalut jilbab itu. Laras adalah salah satu pegawainya di RedOne. Di sisih itu, mereka juga saling mengenal karna pernah brrsekolah di SMP yang sama dulunya.
"Gimana keadaan kamu? " tanya Bara tak bisa menutupi kekhawatirannya. Laras adalah pegawai andalannya di RedOne dan juga gadis itu hanya tinggal sendiri di kota ini, itulah yang membuat dia begitu khawatir tadi .
"Aku baik kok, cuma lecet-lecet. " jawab Laras menunjukan lengannya tang memang lecet-lecet.
Tatapan Bara beralih pada kaki yang terlihat di tutupi selimut.
"Kaki kamu.. ?" tanya Bara yang baru akan menyingkap selimut itu tapi Laras menahan tangannya.
"Gimana bisa kamu bilang ga apa-apa, kamu kenapa bawa motor? Kan hujan deras, mestinya naik taksi aja. Untung aja cuma di serempet, kalau tertabrak gimana?" begitu serentetan pertanyaan Bara yang membuat Laras tersenyum simpul dan merasa tersanjung karna begitu di perhatikan oleh atasannya yang tak lain adalah teman SMPnya dulu.
Laras bukan tidak tau lelaki itu sudah menikah, dia tahu. Tapi rasa di hatinya sejak masa puber masih mematri kuat. Dan ternyata mereka justru kembali di pertemukan setelah 10 tahun lebih terpisah.
__ADS_1
"Maaf merepotkan mu, aku tadi buru-buru karna akan ada tukan daging datang lebih awal. Jadi aku nekat menerobos hujan." terang laras sambil menatap lekat ke arah wajah Bara, beralih memperhatikan jaket Bara yang basah karna menerobos hujan. Membuat dia kembali menghangat dan sedikit mengurangi sakit di kakinya.
"Seharusnya kamu ga perlu nekat Ras, apalagi ada Danu di sana."
"Aku hanya takut dia salah perkiraan Bar, bagaimana pun aku ga mau kita mengalami kerugian karna selisih di harga pokok bahan." ucap Laras .
"Ras, ada hal yang memang di luar kemampuan kita. Aku memberikan apresiasi lebih pada kamu karna rasa tanggung jawab kamu yang tinggi, tapi kamu juga harus memberikan kepercayaan pada Danu. Danu adalah pemegang bagian gudang bahan, dia akan merasa tidak di hargai jika kamu terus meragukan kinerjanya " terang Bara. Dia tau beberapa kali Danu terdengar mengeluh karna Laras begitu mencampuri urusan gudang hingga mendetail. Dia juga paham, Laras melakulan itu semua karna rasa tanggung jawabnya. Tidak mau ada perselisihan jauh dari data dan barang yang datang.
"Maaf kan aku Bar, aku tidak berfikir sejauh itu selama ini." ucapnya penuh sesal.
Bara mengangguk "Kedepannya, fikirkan perasaan orang lain juga ya, jangan terfokus pada pemikiran kamu sendiri ."
Bersamaan itu dokter kembali datang dan mereka saling berbincang , yang akhirnya Laras di izinkan pulang tanpa rawat inap. Kakinya hanya kesleo, selebihnya lecet di bagian tubuh yang lain. Sedang motornya yang mengalami rusak bagian body di bawa langsung ke bengkel oleh si penabrak.
"Kamu yakin mau ke resto, ga balik aja ke kos'an buat istirahat.? " tanya Bara sekali lagi, apalagi melihat cara jalan Laras yang tertatih. Tapi gadis itu bersikeras tetap ikut kerja.
__ADS_1
"Yakin Bar, aku males pulang ke kos'an karna sepi. Jugaan kaki ku harus banyak di gerakan biar ga kaku. "
"Ya sudah, tapi aku minta kamu jangan terlalu kecapean. Kamu cukup mengawasi saja biar anak-anak lain yang mengerjakan semuanya. " Bara mengalah juga akhirnya, menuntun Laras menuju mobil. Membuat gadis itu mengulum senyum manisnya merasa senang bisa semobil bersama Bara.