
Suasana rumah Tiara sangat ramai hari ini. Ada tante Ida bersama anak dan suaminya. Tak lupa juga Dion ikut hadir sedari pagi. Hanya minus Dafa, yang sedang sibuk di proyek tambang emas. Lelaki itu memang lebih tertarik terjun langsung ke lapangan. Ketimbang duduk manis di kantor seperti saudaranya.
Mereka semua akan menghantar kepergian Mariana ke tanah suci.
"Sudah siap semua mbak , atau ada koper lain yang belum masuk bagasi..? " tanya Jamil, suami Ida. Lelaki itu memastikan iparnya tidak meninggalkan kopernya. Agar perjalanan terasa lancar.
"Kayaknya udah ga da Dek, semua udah masuk.. " jawab Mariana sambil mengusap lembut kepala anaknya.
Tiara tampak bergelayut manja di lengan mamanya karna akan di tinggal lama untuk beribadah ke tanah suci.
"Ayo sayang, ini udah siang. nanti mama terlambat di tinggal rombongan. Kamu buruan pakai krudungmu.. " ujar Mariana.
"Iya ma.. " Tiara melepaskan mamanya guna memakai krudung dan menyampirkan tasnya.
"Sudah siap semua, ayo berangkat.. " Jamil berteriak memberi kode.
Dion pun segera bangkit dari duduk menyimpan ponselnya,
"Tante sama Tiara naik mobil Dion aja.. " tawarnya Dion.
"Ya udah gapapa, biat Ida sana Ahmad naik bareng Jamil.. " Mariana menarik Tiara untuk masuk ke mobil.
Tak lama mobil berjalan menuju bandara, mereka akan berkumpul di sana.
Suasana bandara tak kalah ramai, mereka sengaja ikut menghantar, kerabat atau keluarga mereka yang akan ke tanah suci.
Mariana berpamitan pada Ida dan Jamil, karna waktu terbang sebentar lagi.
"Da, kamu jangan pulang dulu kalau aku belum pulang, kasian Tiara.. " pesannya pada adik iparnya.
"Iya mbak. " Ida memeluk kakaknya haru ." jangan lupa do'ain kita ya mbak , biar bisa nyusul ke tanah suci.. "
"Iya Da.. " Mariana megurai pelukan adiknya dan beralih ke Dion.
"Dion, jaga adiknya ya. Tante titip Tiara.. " ucap Mariana yang di angguki Dion.
"Tante tenang aja, aku pasti jagain Tiara. " Dion segera meraih tangan tantenya untuk salim.
Lalu Mariana menoleh pada putrinya yang ternyata sudah terisak. "Sayang, mama ga lama. Kenapa kamu sampe nangis gini.. " Mariana memeluk tubuh Tiara yang bergetar, mengusap bahu gadis itu untuk menenangkan.
__ADS_1
"Aku sedih, karna harus terpisah sama mama.. " ujar Tiara sesenggukan.
"Cup-cup udah donk, malu di lihatin orang.. " bujuk Mariana. Gadis itu pun segera mengurai pelukannya.
"Mama hati-hati, kabarin aku langsung begitu sampe.. " Tiara mengelap ingusnya dengan tisu.
"Iya sayang, do'ain mama lancar ibadahnya ya.." Mariana mencium kening putrinya yang mengangguk patuh.
"Aku pasti do'ain mama. Mama lancar ibadahnya, mabruk. selamat sampe kembali.."
"Aamiin.." Mariana tersenyum dan kembali memeluk anaknya. Hingga terdengar pengumuman yang meminta jamaah untuk segera masuk.
"Mama berangkat ya, Ida, dek Jamil, Dion dan Ahmad. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam.." jawab semuanya serentak.
Tiara, tante ida, Jamil, tak lupa Dion dan Ahmad melambaikan tangan mereka melepas kepergian Mariana.
Di sisi lain, Sepasang suami istri tengah menunggu kedatangan anak sulung mereka. Pengumuman dari petugas sudah terdengar beberapa menit yang lalu, tapi mereka tampak gelisah karna anak sulungnya belum terlihat juga.
"Pa, mana si Abang ini, udah waktunya masuk. " ucap si wanita yang tak lain adalah Izza.
"Mungkin Bara sedang di jalan ma.. "
"Coba aku telpon lagi ma.. " Si bungsu Laila segera menekan tombol hijau di nomer abangnya.
"Itu bang Bara.. " tunjuk Amir, anak kedua pasangan Arlan dan Izza.
Semua orang langsung menoleh pada sekumpulan orang ramai, terlihat Bara membelah ruas agar bisa berjalan.
"Abang.. mama sama papa udah terlambat.. !" teriak Izza gemas, Arlan di sebelahnya hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Maaf ma, pa. Ban mobil ku pecah.. " ujar Bara terengah-engah.
"Ini ni kalau kamu bandel, di suruh nginep di rumah mama papa aja ga mau. Akhirnya gini kan, telat. " omel Izza pada sulungnya.
"Udah donk ma, malu di lihatin orang.. " Arlan berusaha menengahi.
"Papa juga salah, anak belum nikah udah di kasih Penthause. Ya gini, jadi ga krasan di rumah orang tuanya.. "
__ADS_1
Arlan hanya menghela nafas panjang menghadapi omelan istrinya.
"Nanti kita do'ain anak kita supaya cepat dapat jodoh, menikah . Jadi mama ga nyalahin papa terus.."
Izza hanya memicingkan matanya melihat Arlan sebal, sedang Arlan menggaruk tengkuknya yang tidam gatal.
"Istigfar ma, udah mau pergi ibadah masih aja berdebat.. " ujar Amir yang membuat keduanya langsung menarik nafas panjang dan tersenyum lebar.
Bara berusaha menahan tawanya melihat tingkah kedua orang tuanya sambil merangkul Laila.
"Ya udah mama sama papa berangkat dulu. Amir, jaga adik mu Laila, Bara jaga Amir dan Laila.." titah Izza sambil mengusap masing-masing kepala anaknya.
"Terus yang jaga abang Bara siapa ma..,? " tanya si bungsu yang langsung mendapat pelukan dari Arlan.
Arlan menekuk kakinya, agar bisa sejajar putri bungsunya. " Tentu saja yang jaga abang Bara adalah Laila putri papa ini.. " Tangan Arlan mencubit hidung bungsunya itu.
"Papa, aku udah gede..! " protes gadis kecil itu. yang merasa risih jika papanya mencubit hidungnya.
Arlan hanya terkekeh, lalu berdiri saat Bara akan salim padanya. Arlan menarik tangan putranya agar bisa saling memeluk.
"Hati-hati pa, semoga lancar ibadahnya .. " ujar Bara setelah pelukan di urai.
Arlan menepuk punggung sulungnya lembut.
" Aamiin, jaga adik-adik mu Bara... " pesan Arlan.
Bara mengangguk. Dan tak lama panggilan terakhir berkumandang. Keduanya langsung pamit untuk segera masuk.
Laila menangis saat melihat orang tuanya sudah hilang dari balik pintu.
"Lah, malah nangis sih. katanya udah gede. " ledek Amir.
"Hwaa... Abang, bang Amir nakal.. " Adunya pada Bara.
"Amir. jangan ngledekin adikmu..." tegur Bara.
"Itu adik abang, aku ga punya adik cengeng kayak dia, ngaduan lagi.. " balas Amir , sambil melangkah menjauh.
"Udah ayok kita ke sana. Nanti bisa liat pesawat yang mama papa naikin.." ajak Bara untuk menghibur Laila.
__ADS_1