
Bara memukul kemudinya berkali-kali. Perasaan ingin marah tapi sebisa mungkin dia tahan. Karna orang yang membuatnya marah tengah tidur nyanyak di jok belakang.
Mabuk.
Ke 3 kalinya Bara menemukan pacarnya mabuk. Pertama saat Naina mengatakan mengikuti party ulangbtahun temannya. Kedua saat awal tahun merela bertengkar dan hubungan yang renggang dan yang terakhir sekarang.
Berulang kali dia mengusap wajahnya secara kasar. Tadi dia sedang berdiskusi dengan papanya tentang kerja dan rencana membelu rumah untuk investasinya. Tepat pukul 12 saat dia baru akan masuk ke kamar. Seseorang menelponnya yang mengatakan bahwa pacarnya mabuk di bar.
Bara membelokkan mobilnya masuk ke sebuah hotel. Dia todak mau lagi membawa Naina ke apartemennya. Takutnya tetangga Apartemennya yaitu Gibran membocorkan pada mamanya.
"Untuk berapa malam mas.. ?" Tanya resepsionis
"Satu malam saja.. " jawab Bara sambil memegang erat pinggang Naina yang berdiri menimpluk pada bahunya.
Setelah mendapatkan kunci, Bara langsung membawa Naina masuk ke kamar.
__ADS_1
"Jangan pergi donk,ayo kita senang-senang. "Naina mulai merancau tidak jelas.
Tanganya bahkan meraba-raba bagian dada Bara. Sebagai laki-laki Normal tentu saja Bara mulai terpancing. Hingga tiba-tiba Naina menarik jaketnya saat Bara tengah melepas tas gadis itu.
Posisi Bara terjerembab namun dia bisa langsung menahan tangannya agar tidak menempel langsung pada tubuh molek Naina yang malam ini entah kenapa berpakaian sangat sexy.
Berulang kali Bara menelan ludah saat gunung yang tampak menyembul separo dari tempatnya begitu menantang imannya. Naina membuka matanya sambil tersenyum, menarik Bara lebih dekat, untuk memciumnya. Bibir itu awalnya hanya menempel, tapi dengan agresif Naina menekannya kembali hingga terjadilah ciuman itu . Separuh tubuh Bara sudah diatas Naina. Ciuman panas itu masih berlanjut beberapa menit, membuai dan membuat tegang saraf. Tangan Naina menuntun tangan Bara untuk menjamah bagian gunung kembar miliknya.Hingga tiba-tiba aroma alakohol membuat Bara terkesiap. Sadar pada keadaan.
"Kamu mabuk.. " Di dorongnya tubuh Naina dan dia bangkit mengusap bibirnya yang basah. "Astagfirullah.. "
Bara bergegas melangkah keluar dari pada kelepasan seperti tadi. Tak perduli teriakan Naina yang memintanya kembali.
"Gila. hampir saja.. astagfirullah.. " Ucapnya sambil mengelus dadanya dan berjalan cepat menuju lift untuk pulang ke rumah.
#######
__ADS_1
Alex dengan sempoyongan berjalan menuju Apartemen miliknya. Setelah susah payah beberapa kali bethenti untuk mengbalikan kesadarannya. Akhirnya dia bisa merebahkan tubunya di ranhang king miliknya. Tadi setelah menghabiskan beberapa botol dan lawan minumnya sudah teler. Dia bingung akan menghantarkan Naina ke mana. Hingga dia merogoh tas gadis itu untuk mencari ponselnya. Setelah mengkativasi finggerpin, dia meminta bartender menghubungi siapapun yang ada di kontak utama gadis itu.
"Tiara... "
"Tiara. ." Suara itu awalnya sangat jelas hingga akhirnya berujung isak tangis
''Aku harus bagaimana sayang... " ucapnya bermonolog sendiri. Meraih guling untuk di dekapnya erat.
Pernikahan tinggal 3 minggu lagi. Hotel tempat resepsi dan akad sudah di pesan. Baju sudah hampir siap, undangan tinggal di sebar. Tapi lelaki itu masih gamang dengan fikirannya.
Bayangan senyum manis kekasihnya dan wajah meronanya saat dia memujinya membuatnya kembali tertawa dan menangis.
"Tiara... aku ingin memilikimu seutuhnya. Ingin selalu bersamamu setiap saatnya sayang. Tapi kenapa jalannya begitu sulit. Aku terlalu pengecut untuk mengambil sikap.. Sayang... " desahnya dengan mata setengah terpejam.
"Tiara.... " desahnya lagi sebelum benar-benar jatuh tertidur.
__ADS_1