
Jika di belahan bumi lain sebagian orang tengah mabuk cinta pada pasangannya. Tapi tidak dengan Bara yang justru merasakan kebosanan pada pasangannya .
Saat ini sudah hampir jam 9:30 malam. Mall sebentar lagi tutup, tapi Naina masih sibuk memilih baju mode terbaru di sebuah butik ternama.
Bara berulang kali mendesah, membuang segala kejenuhan. Padahal sejak tadi sehabis menonton Naina sudah sibuk berbelanja. Tapi hingga 3 jam tidak selesai juga.
Di pandanginya ponsel yang berkelip, Ammir sang adik menelponya.
"Hallo, Assalamualaikum.. ?"
"Bang.. abang di mana? pulang bang.. Laila bang, laila.. !" teriak Ammir di talian.
"Ada apa..? kenapa dengan laila..? " Bara ikut cemas mendengar suara adiknya.
"Hallo den, Hallo .. " kali ini suara bi Tuti yang tersambung.
"Ada apa bi..? Laila kenapa? "
"Non Laila jatuh dari tangga Den, ini pak Supri sama den Ammir mapah buat di bawa ke rumah sakit. Nanti Aden langsung nyusul ya.bibi matikan dulu.. " Panggilan langsung di matikan sepihak.
Bara ikut panik, berjalan cepat mencari Naina.
"Naina.. ayo pulang sekarang.." ucapnya sambil menggiring Naina.
"Aku belum selesai sayang, ini aku lagi mau nyoba koleksi terbaru.. " Tolak Naina.
"Ya udah, kamu selesaikan dulu. Aku harus pulang sekarang. Laila jatuh dan di bawa ke rumah sakit " Terang Bara mengalah, baru dia akan melangkah tapi tangannya di cekal Naina.
"Udah di bawa ke rumah sakit kan.. ? ya udah deh,paling juga cuma kesleo dan lecet dikit. Kamu tungguin aku bentar mau bayar.. " ucap gadis itu santai.
Bara meradang mendengar penuturan Naina, tampa memperdulikan lagi. Lelaki itu bergegas keluar dari toko.
"Bara... Bara... tunggu...! "
Teriakan Naina tak di gubris sama sekali. Saat menunggu lift terbuka, Bara sempat menoleh berharap Naina yang tadi mengejarnya sudah berada di belakangnya. Nyatanya nihil, wanita itu masih terlihat mengantri untuk membayar belanjaanya.
"Naina.." Desisnya sebelum masuk ke lift.
##
Rumah sakit Mulia Permata menjadi tujuan Bara, untung saja jalanan mulai lenggang hingga tak sampai setengah jam dia sudah tiba di rumah sakit itu.
__ADS_1
Bara menerobos ruang IGD, berharap tebakannya benar.
"Ammir.. " panggilnya di lorong ujung.
Di sana Ammir tampak kacau, di sebelahnya bibi Tuti menenangkan Pak Supri juga berdiri di dekat mereka.
"Bang.." Ammir memeluk Bara erat.
"Apa yang terjadi..?" tanya Bara ikut khawatir.
Tak mendapat jawaban dari adiknya, Bara mengangkat pandangannya ke arah bi Tuti.
"Non Laila jatuh dari tangga, kepleset lebih tepatnya saat-saat Den Ammir menakutinya dengan cicak " terang bi Tuti.
Ammir lebih mengeratkan pelukannya di tubuh Bara, terdengar helaan nafas tersenggal. Anak bujang itu menangis tanpa suara.
Bara tau, mungkin Ammir tidak sengaja dan hanya berniat bergurau.
"Sudah-sudah, Laila akan baik-baik saja.. " Bara mencoba menenangkan adiknya yang mungkin terasa amat terpukul.
Tak lama pintu IGD terbuka dan Dokter keluar .
"Keluarga Lailana Asya Maulana " panggilnya.
"Anda siapanya? " tanya Dokter memastikan.
"Saya Abangnya, bagaimana keadaan adik saya? "
"Saudari Lailana baru selesai di jahit untuk luka di dahinya, jumlah jahitan 5 . Keadaanya sudah baik, tapi kami menyarankan untuk melakukan X-Ray besok. Takutnya jatuhnya terdampak pada kepalanya.. " terang dokter.
"Apa boleh kami melihatnya sekarang? " tanya Bara khawatir.
"Sebentar lagi akan di pindahkan di ruang rawat , kalian bisa menjenguknya di sana. Sudah jangan khawatir.. " ucap sang dokter nenenangkan setelah melihat Ammir berulang kali mengusap air matanya.
Tak lama memang 2 orang perawat mendorong brangkar keluar, tampak Lailana menangis , hati Bara teriris. Merasa gagal menjaga adiknya .
"Abang huhu...."
Bara ikut mendorong brangkar itu menuju ruang rawat.
"Usttt.. ustt... jangan nangis.." bujuknya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang rawat, Perawat langsung menggantung infus. Sedang Bara mendekat ke adiknya, Laila pun langsung memeluknya setengah terbaring.
"Ini nanti di bantu minum ya mas," ujar perawat lain yang masuk membawakan obat.
"Semua sus..? " tanya Bara sambil mengusap lembut bahu Laila.
"Iya. " suster mengangguk lalu pamit keluar di ikuti yang lain.
Bi Tuti masuk ke dalam ruang perawatan. Bingung akan berbuat apa.
"Udah ya, jangan nangis.." bujuk Bara.
"Sakit bang.. huhu..." gadis itu tetap memeluk sambil menangis.
15 menit berlalu tangis Laila mulai reda, Bara pelan-pelan mengurai pelukannya.
"Minum obatnya ya, habis itu istirahat "
Gadis itu menganngguk sambil menyeka ingusnya, bi Tuti berinisiatif maju mengambilkan air juga obat.
Setelah meminum obat Laila berbaring, dan Bara dengan setia mengusap kepalanya lembut sambil menatap jahitan di atas alis adiknya. Dia merasa ngilu sendiri.
Setelah Laila tidur, Bara mendekati bi Tuti yang duduk di kursi. Bi Tuti langsung berdiri.
"Maaf den, bibi lalai. Tidak begitu mengawasi non Laila sama den Ammir" sesalnya penuh ketakutan.
"Ga papa bi, namanya musibah ga da yang tahu. Bibi ga usah merasa bersalah gitu." ujarnya menenangkan "Oh iya, Ammir mana? "
"Den Ammir di luar den, ga mau masuk. Makanya pak Supri ikut nemenin di luar" terang bi Tuti.
Bara mengangguk dan ikut keluar.
"Bibi pulang aja, sama pak supir. besok pagi kesini bawa ganti untuk Laila . Ammir ikut pulang sekali ya.. " tawar Bara pada adiknya.
"Ammir mau di sini bang." ucapnya sambil menatap pintu ruang rawat adiknya.
"Ya udah, masuk sana di tungguin adiknya. Abang mau ke toilet. Bibi sama pak Supri boleh pulang.. "
"Iya den, kami pulang dulu,ada apa-apa tolong kabarin ya den. Assalamualaikum.." pamit bi Tuti dan pak Supri.
"Waalaukum salam.." jawab Ammir dan Bara .
__ADS_1
Setelah bi Tuti dan Pak Supri pergi. Ammir perlahan menuju ruangan adiknya dan setelah sudah di pastikan masuk Bara bergegas menuju toilet karna perutnya mulas.