
Hari resepsi pihak Bara di mulai sejak tengah hari. Dengan mengenakan pakaian adat jawa, 2 Temanten tampak memukau perhatian para tamu. Tiara yang tidak tau harus apa dan bagaimana saat acara Temu manten hanya mengikuti apa yang di ucapkan sang dukun manten.
Resepsinya di adakam di restoran "The Red" milik Bara, yang memang terluas yang dia punya dengan mengusung tema outdoor.
Malam harinya mereka beralih pada tema internasional. Gaun Putih yang sepadan dengan jas putih milik Bara. Tamu yang hadir di malam hari di dominasi oleh anak muda sepantaran Bara, mulai dari komunitas motor miliknya, komunitas pengusaha muda, teman SMA juga teman kuliahnya dulu di ITB.
Ucapan selamat terus mengalun, do'a - do'a dari tamu mereka aminkan sebagaimana mestinya. Bara terus mengembangkan senyumnya, sedang pengantin perempuan terlihat hanya tersenyum kaku.
"Honey... " Seorang wanita cantik menggenakan dres warna hitam dengan bahu terbuka langsung menubruk Bara dengan mata sendunya. Membuat tamu dan keluarga yang hadir menoleh dan menggeleng pelan.
"Nai, kamu apa-apaan.. " Bisik Bara dan mengurai paksa pelukan Naina dengan mata yang tak lepas memperhatikan ke arah istrinya.
Tiara tidak berkomentar apapun, hanya diam dengan tatapan datar. Membuat Bara tidak bisa menerka apa isi hatinya.
"Kamu ninggalin aku, kamu jahat .. jahat.. kamu bilang mau nikahin aku. Kenapa justru sama dia.. " Naina menangis sesenggukan dengan kedua tangan yang menggenggam tangan Bara.
"Nai, hentikan..!" Bara tidak enak hati dengan tatapan tamu dan keluarganya. Apalagi tatapan mama Izza yang seolah mengintimidasinya.
"Secepat itukah kamu lupain aku Bar, secepat itu.. ?"
"Kamu jahat.. Bara.. hwahuhu.. " tangis Naina justru semakin keras membuat Bara semakin panik. Dia pun menatap bawah pelamin dan melambai pada teman-temanya.
Seoalah paham, Gibran dam Fiki langsung naik untuk menarik Naina turun ke bawah.
"Lepas." sentak Naina tak terima.
"Nai, kita minum dulu.Biar adem ayok.. " bujuk Gibran sambil merangkul Naina menjauh dari Bara.
"Aku belum selesai. Bara.. Bar." Gibran membekap mulut Naina dan merangkulnya turun sebelum semakin membuat keributa
Dari atas pelamin, Bara terus memperhatikan kemana Gibran membawa Naina pergi. Dan Tiara hanya diam memperhatikan.
"Selamat ya.. nglepasin Naina, demi wanita ini.. " Oca sahabat Naina naik langsung ke pelamin setelah melihat sahabatnya di seret turun, dia juga menatap sinis pada Tiara.
"Iya, ini kan gadis kampung yang dulu nabrak mobil kamu kan.. ?" komentar yang satunya. Dia adalah Noni, salah satu teman Jesika dulu saat SMA. Tiara tidak begitu mengenalinya lagi, tapi rupanya Noni itu justru lebih dulu paham. Di tambah info yang dia dapat dari grup SMA nya tentang sosok istri Bara. Noni dan Oca menatap remeh pada Tiara dengan senyun miring.
"Terima kasih atas kehadiran kalian, dan aku dan Naina adalah kisah lalu, hubungan kita sudah berakhir sebelumnya.. " Bara menoleh ke arah Tiara, menarik wanita itu sedikit merapat padanya.
" Dia istriku sekarang, jangan lagi menghinanya." ucapnya memberi tekanan kata istri di sana.
Baik Oca atau Noni hanya berdecih lalu turun tanpa menyalami Tiara.
"Maaf ya, kalau sikap teman-teman ku bikin kamu ga nyaman." ucap Bara sambil mengusap pipi istrinya yang malam ini terlihat memukau dengan gaun warna putih bak barbie bermahkotakan berlian.
Tiara sedikit menepis tangan Bara, " Apa sih.. " kesalnya. Tapi Bara tidak mengindahkannya. "Biarain geh, kan biar orang-orang ngiranya kita pasangan yang bahagia. Lihat mama mu di sana tersenyum." Bara memberikan alasan agar gadis itu tidak menolak perlakuannya. Tiara menoleh menatap mamanya yang duduk di kursi barisan depan bersama keluarga besarnya. Senyum terus merekah di bibir mamanya, bukan hanya mama tapi juga keluarga yang lain.
Tak lama seorang mC memberikan mic pada Bara guna menyanyikan sebuah lagu. Di iringi tepukan tangan para tamu.
"Kami persilahkan untuk kedua mempelai menyumbangkan satu buah lagu di malam bahagian mereka ini untuk kita semua. " begitu ucapan MC acara.
"Kamu mau nyanyi.. ?" tawar Bara pada Tiara.
"Enggak, aku ga bisa nyanyi. " tolak Tiara, dia memang tidak pandai menyanyi, suaranya juga fals. Terdengar tawa dari kursi keluarganya, mereka semua tau, Tiara tidak biaa menyanyi dengan baik.
"Kalau gitu, temani aku nyanyi ya.."
Penawaran Bara bukanlah permintaan, karna dia langsung menggandeng Tiara sedikit maju yang mau tak mau di ikuti gadis itu karna semua mata sedang menatap mereka sekarang.
__ADS_1
"Terima kasih kami ucapkan untuk semua tamu yang hadir di acara resepsi kami, meski semua dadakan. Semoga tidak mengecewakan anda semua." Bara memulai dengan menatap semua penjuru tempat resepsi. Tampak semua orang diam memperhatikan apa yang akan di lakukan sang pengantin.
"Sebuah lagu malam ini ingin saya nyanyikan khusus untuk istri saya, yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta tiap menatap senyum manisnya. " ucapnya tulus sambil melirik mesra seseorang di sampingnya yang terlihat sedikit tersipu malu dan menunduk yang di sambut sorai ramai tamu yang hadir. Entah kenapa Tiara sedikit merasa tersanjung akan ucapan Bara.
"Mutiara Andini, You look so beautiful to nigth And I just want to say, I Love you ." ujarnya yang langsung membuat Tiara mengangkat wajahnya, menatap pada manik penuh damba milik lelaki yang baru beberapa kali dia temui, lalu menikah dengannya tanpa di nyana.
Alunan musik mulai mengalun,mengiringi sebuah lagu romantic.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
__ADS_1
Tonight
You look so beautiful in white, yeah yeah
Na na na na
So beautiful in white
Tonight
And if a daughter is what our future holds
I hope she has your eyes
Finds love like you and I did
Yeah, and if she falls in love, we'll let her go
I'll walk her down the aisle
She'll look so beautiful in white, yeah yeah
So beautiful in white
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Na na na na
So beautiful in white
Tonight
######
Di ahir lagu Bara menarik rapat tubuh Tiara, kedua tangannya merengkuh pinggang ramping itu, hingga tubuh keduanya saling menempel ,dia juga menyatukan dahinya dengan milik Tiara dengan nafas yang memburu, dadanya bergemuruh dengan mata terpejam. Tiara yang terkejut ingin kembali meronta, tapi cekalan di pinggangnya sungguh kuat. Seolah tahu, mendadak lampu bagian pelamin menyuram, di ikuti lampu lainnya. Menyisakan lampu di bagian stand prasmanan.
Tak lama juga bunyi bunga api yang terbuka dan berkilat seolah menjadi penerang di tengah mereka.
Semua tamu terpesona akan keindahan bunga api di atas langit yang bersinar warna warni dan melupakan sepasang pengantin untuk sesaat. Tertutup bunga api yang hanya menyala tanpa meledak di sisi pelamin.
"Bar.. " Belum habis kata-katanya untuk protes, kembali Tiara di buat membeku saat Bara untuk pertama kalinya menyatukan bibirnya di atas bibir milik Tiara. Terasa hangat tapi Tiara hanya diam kaku karna keterkejutanya. Untuk sesaat bibir itu hanya saling menempel beberapa detik, Sampai akhirnya satu tangan Bara beralih menekan sedikit tengkuk Tiara dan memiringkan wajahnya untuk memperdalam ciumannya.
Dan hanya sang fotografer yang sadar keadaan, mengabadikan moment itu yang tampak indah di balik kilauan dan terang bunga api.
Cekrek
__ADS_1
cekrek.