Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 21


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Tiara menjelaskan pada Bara tentang keunggulan perusahaan tempatnya bekerja, memberikan kalkulasi modal dan juga keuntungan yang akan di dapat Bara. David yang berada di sebelah Tiara tampak mengangguk saja, membenarkan.


Sedangkan Bara sedari tadi hanya diam tanpa menyela, memperhatikan dengan seksama.


"Cantik "


Tentu saja pujian itu hanya dia lontarkan dalam hati.


"Bagaimana pak Bara, apa ada yang ingin anda tanyakan atau mungkin anda belum paham.. ?" tanya Tiara di akhir sesi presentasinya.


"Saya rasa cukup. Jujur saja ini kali pertama saya terjun di dunia perhiasan. Toko ini nantinya juga bukan untuk saya. Melainkan untuk ibu saya. Saya juga merasa masih awam tentang perhiasan. Tapi karna saya mengenal anda ibu Mutia, saya percaya anda tidak mungkin memanipulasi produk.. " ucapnya tenang di iringi senyum tipis di bibirnya.


Ucapan terakhir Bara langsung membuat Tiara kembali mendongak, menatap netra hitam kilatan elang itu yang tampak menghanyutkan saat di pandang . Tiara buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Saya tidak menyangka Pak Bara ternyata sangat berbakti pada ibunya.. " Puji David


" Tapi maaf pak, jadi maksut pak Bara tadi sudah mengenal bu Muti sebelum-sebelumnya, begitu.. ?" tanya David penasaran.


Bara tersenyum sembari mengangguk pada David.


"Wah.. bagus itu. Itu akan lebih memudahkan urusan selanjutnya. . " David tersenyum antusias, merasa pekerjaan kali ini mungkin lebih mudah di banding biasanya.


"Kenapa kamu ga bilang Muti, kalo kamu sudah kenal dengan klien kita hari ini.. "


Tiara gelagapan mendengar pertanyaan David, gadis itu berusaha tersenyum kaku.

__ADS_1


"Saya juga baru tahu pak, sudah lama tepatnya saya tidak pernah bertemu pak Bara.. " ucapnya ragu-ragu.


"Hebatnya anda masih mengingat saya meski kita sudah lama tidak bertemu ya ibu Mutia.. ?" sergah Bara dengan mengulum senyumnya.


Tiara tampak menghela nafas panjang. Merasa mati gaya di depan lelaki bernama Bara.


"Jadi bapak pasti sudah bisa memutuskan untuk memilih produk perusahaan kami kan pak Bara.. ?" pancing David.


"Saya akan memikirkanya terlebih dulu... " Bara melirik arloji yang melingkar penuh di pergelangan tangannya.


"Sepertinya saya harus pergi, saya ada janji dengan seorang wanita. Anda tau bukan pak David, kalau wanita tidak bisa di buat menunggu terlalu lama. Jadi maaf, saya tidak bisa menemani makan siang anda ".


"Ahhaha.. Tidak jadi hal pak." jawab David yang langsung berdiri dari duduknya saat Bara berdiri. "Terima kasih atas waktunya pak Bara " tambahnya sambil menjabat mantap tangan Bara.


"Senang bisa bertemu anda kembali ibu Mutia, kedepannya tentu kita akan lebih sering bertemu. " ujarnya sambil mengulurkan tangannya .


Karna melihat Tiara hanya diam, David berinisiatif menyenggol lengan gadis itu.


"ehh.. iya pak. " Tiara ragu-ragu membalas jabatan tangan Bara. Mata keduanya saling bertemu, Tiara bermaksut langsung menarik tangannya tapi ternyata jusyru mengeratkan kaitannya.


Nafas Tiara merasa tercekat, tangan itu begitu hangat. Dan mata itu begitu membuaianya. Gadis itu langsung berdehem dan membuang pandangannya . Sedang Bara pun langsung melepas jabatannya.


"Kalau begitu saya permisi.. " pamit Bara akhirnya.


Sepergian Bara, David dan Tiara langsung makan siang sekali. Karna memang sudah di booking, sayang jika tidak di makan.

__ADS_1


"Sepertinya dia tertarik padamu Mutia.. " ucap David di sela makannya. Di luar jam kantor, mereka memang menanggalkan kesan formal.


"Menurut saya biasa saja pak.. " Tiara tetap memanggil bapak, karna usia David 10 tahun lebih tua darinya.


"Biasa gimana, dia terus natap kamu loh sejak kamu awal presentasi. Tatapannya itu ga noleh-noleh. Menurut saya itu tatapan kagum lelaki. Saya kan lelaki Mutia, setidaknya saya tahu bagaimana kaum kami bersikap.. " ujarnya panjang lebar.


"Berarti dia playboy pak.. " jawab Tiara enteng sambil menghabiskan sayur terakhirnya. Nasi hanya di makan beberapa sendok, selebihnya sayur dan lauk yang lebih banyak.


"Kok playboy.. ?" David mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Ya, bukannya tadi bapak juga dengar kalau dia ada janji sama wanita. Lalu kalau masih natap nyalang sama saya. Berati kan playboy. Ga bisa jaga pandangannya.. " imbuhnya berapi-api.


"Ya ga juga Mutia, kami hanya menikmati apa yang ada di depan mata kami.. " belanya tidak terima.


Tiara hanya berdecih lirih, dan melirik pada ponselnya yang bergetar.


"Maaf pak, saya angkat telpon dulu.. "


"Ya ya.. di sini saja. Susah nanti saya nyari kamu kayak hari itu.. " David ingat saat sama-sama sedang bekerja bersama Tiara di luar, gadis itu pamit mengangkat telpon sampai setengah jam tidak kembali. Hinga David kebingungan mencari .


"Beneran pak.. ? tapi saya mau angkat telpon dari pacar saya loh. "


"Saya tau, memangnya kalian kalau telpon ngapain. ? ga aneh-aneh kan. Udah di sini saja. Saya juga mau nelpon istri saya.. " ujar David tak terbantahkan.


Akhirnya Tiara mengalah, dan langsung mengangkat kembali panggilan dari Alex.

__ADS_1


__ADS_2