
Suara ketukan di pintu membuat Naina perlahan membuka matanya. Di lihatnya jam di ponsel sudah pukul 11 lebih. Perlahan dia turun dari bed menuju pintu.
Klek.
"Yaa...?" Sapanya pada pegawai hotel dengan mata setengah terpejam .
"Maaf mbak, ? mau chek-out atau tidak hari ini ? " tanya pegawai itu.
"Emm... chek-out. " Jawab Naina.
"Baiklah, terima kasih. Permisi.. " petugas itu berlalu dari kamar itu.
Naina langsung menutup pintu kembali setelah petugas itu pergi. Dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan dandanannya.
Dia berusha mengingat apa yang terjadi semalam. Dia minum terlalu banyak hingga lupa apa yang terjadi. Setelah merapikan penampilannya, dia bersiap untuk keluar chek-out.
"Mbak, ini kuncinya.. " tangannya terulur meletakkan kunci di atas meja resepsionis hotel.
"Baik mbak, terima kasih.. " Jawab resepsionis ramah.
"Jadi berapa mbak.. ?" tanya Naina sambil membuka tasnya, untungnya tas dan hp miliknya masih untuh. Bersyukur dia bukan bertemu orang jahat.
"Semua sudah di bayar mbak. "
"Kalau boleh tahu, siapa yang membayar kamar untuk saya mbak.. ?" tanya Naina lagi.
"Kamar di pesan atas nama Baradyaka, mbak " terang Resepsionis yang membuat Naina terkejut.
#####
Bara sedang sibuk dengan resto barunya " The Red" adalah salah satu impiannya yang ingin memiliki restoran bernuansa santai dan elegant, tapi desain yang kebanyakan berwarna merah dan hitam menjadi nilai tersendiri.
Suasana restoran hari ini memang ramai, Bara bersyukur tidak perlu waktu lama nama restorannya langsung di kenal orang.
"Permisi pak ada yangau bertemu bapak.. " ujar pegawai restoran.
__ADS_1
Bara mengernyitkan keningnya " Apa ada masalah.. ?" tanya Bara memutar badannya menatap pegawainya.
"Tidak pak, wanita ini hanya ingin bertemu pemilik restoran. Dan kebetulan bapak ada jadi saya katakan bisa. Maaf sebelumnya saya mengiyakan tanpa bertanya dulu pada bapak " terang Dedi. Salah satu pegawai Bara.
"Tidak apa-apa, yang mana orangnya? " Bara berdiri merapikan pakaianya.
"Mari saya antarkan pak.. " Dedi lebih dulu melangkah untuk menunjukan tamu yang di maksut.
"Permisi bu.. " Ucap Dedi pada wanita berkerudung yang sedang makan dengan seorang lelaki .
"Ah iya, gimana bisa di temuin ga ? " tanya Si wanita sambil menatap Dedi
"Ada yang bisa saya bantu bu, saya pemilik restoran ini.. " terang Bara sambil maju lebih mendekat.
Wanita itu menoleh ke arah belakang. "MasyaAllah... kamu anaknya Izza kan? anaknya pak dokter? " Pekik Wanita itu yang tak lain adalah Mariana.
"Ahh iya bu, bu Mar.. " ucap Bara sambil mengingat nama mamahnya Tiara. " Panggil saya Bara , maaf ada yang bisa saya bantu Tante? " tanyanya kemudian.
"Ya, saya udah ingat nama kamu Bara. Ayo duduk dulu.. " Mariana mempersilahkan Bara untuk duduk. " kenalkan ini Dafa, adiknya Dion. Kamu ingat Dion kan? "
Bara tersenyum dan mengulurkan tangannya yang di sambut Dafa.
"Dafa "
"Jadi begini nak Bara. Sudah 3 kali tante makan di sini. Rasanya pas untuk tante, jadi tante berencana mengambil cetring dari sini. Apa bisa.. ?" tanya Mariana sambil menatap lekat wajah Bara.
"Bisa tante, bisa.. " Bara tersenyum senang. Rejeki besar menghampirinya. "Untuk acara pa tante? "
"Untuk nikahanya Tiara.. " ujar Mariana lagi.
"Tapi acaranya agak jauh dari sini, tepatnya di sebuah resort di kota xxxxxx " kali ini Dafa yang menerangkan yang juga di angguki Mariana.
Bara tampak berfikir sebentar, menimang sebelum mengambil keputusan. Karna resort itu perlu waktu 3 jam an untuk sampai sana.
"Bagaimana.. ?" tanya Mariana dengan binar penuh harap di wajahnya .
__ADS_1
"Bisa tante, kira-kira untuk berapa tamu ya Tan.. ?" Bara mengangkat tangannya pada pegawainya sambil memberi simbol tulis. Tak lama satu pegawainya datang membawakan polpen dan buku kecil .
Mariana mulai menerangkan jumlah tamu, menu yang di pesan juga aneka disert tambahan requesant Tiara.
Bara mengangguk dengan jari tangan terus menulis sesuai permintaan custumer.
"Alhamdulilah.. urusan cetring udah selesai, dan lebih senengnya ternyata justru orang yang udah tante kenal. " ujar Mariana penuh kelegaan.
"Terima kasih tante untuk kepercayaanya, kami akan berusaha memberikan yang terbaik " jawab Bara mantap.
"Jadi kalian dulu satu sekolah, maksut ku sama Tiara " tanya Dafa kemudian.
"Iya bang, cuma beda angkatan. Tiara adik kelasku " jawab Bara dengan memandang Dafa yang tanpak mengangguk.
"Tiara ga banyak temen kan dari dulu.. ?"imbuh Dafa.
"Iya bang, temennya cuma 2 memang " Bara sedikit tersenyum mengingat Tiara yang dulu.
"Anak tante sangat minderan saat sekolah dulu.Apalagi keadaan ekonomi kami. Dengan posisi tante yang ga pernah ada di sisihnya " Mariana ikut berbicara sambil menerawang masa lalu.
"Dia tante tinggal sejak kelas 1 SMP, cuma tinggal sama tantenya " tambah Mariana.
"Gaji tante juga cuma cukup untuk makan dan biaya sekolahnya, jadi dia nekat kerja sambil sekolah untuk membeli keoerluan sekolah. "
"Udah jangan di inget Tan. jadi swdih kan.." Dafa mengusap bahu tantenya lembut, membuat wanita paruh baya itu mengusap air matanya yang mengalir .
"Tante seneng, dia udah mau nikah. Padahal dulu tiap di tanya dia cuma jawab belum mikir nikah karna pengen nyenengin tante. Tapi ternyata mamanya Dafa sama Dion yaitu kakak perempuan Tante, memberikan sebagian saham untuk Tiara "
Bara mendengarkan dengan seksama penjelasan Mariana, ada rasa yang mencubit hatinya mendengar penuturan Mariana. Dia pernah salah sangka pada gadis itu. Padahal gadis itu memang dalam keadaan susah dulunya. Bahkan dia dengan tega meminta ganti rugi hanya untuk mendapat perhatian Tiara.
"Itu memang hak Tiara tante.. " sela Dafa dengan tangan yang tetap mengusap bahu wanita itu.
"Apapun itu, tante bersyukur. Kehidupan kami judi lebih baik berkat itu Dafa.. " Mariana memindai pandangan pada Dafa lalu beralih pada Bara.
Bara tersenyum, "Tante pasti bangga punya anak kayak Tiara "
__ADS_1
"Tentu, Alhamdulilah. Tante sangat bangga, apalagi meskipun sekarang ekonomi kami lebih baik. Itu tidak mengubah Tiara. Dia terap jadi pribadi yang sederhana."
Bara dan Dafa mengangguk tanda setuju.