
Tiara menggandeng tangan mamanya seakan tak mau jauh, mereka baru turun dari angkot dan berjalan masuk ke arah perumahan elit untuk menuju bangunan paling ujung.
"Selamat siang pak.. ?" Sapa Tiara pada satpam komplek.
"Siang dek Tiara, loh hari ini datang sama siapa.. ?" Tanya satpam karna memang sudah paham dengan Tiara.
"Ini mama saya pak.. " Tiara mengenalkan mamanya pada pak satpam.
"Oh mamanya.. " Satpam itu mengangguk tanda hormat pada Mariana dan di balas anggukan oleh Mariana.
"Ya sudah , kita masuk dulu ya pak.. " Ujar Tiara.
"Iya, monggo.. " Satpam itu memang orang jawa tulen yang merantau di kota itu. Dia cukup paham Tiara karna gadis itu selalu menyapanya jika datang ke rumah mama Ani.
Setelah 15 menit berjalan dengan pelan mengingat kaki Mariana yang sakit. tibalah mereka di ujung komplek. Rumah itu mewah dan tepat di samping sebuah bukit. Dataran yang tidak rata justru menambah keindahan bangunan itu.
"Ini rumahnya ma, ayo masuk "
Mariana mengangguk, masih menatap takjub pada bangunan itu. Taman yang rapi, sebuah gazebo di samping bangunan dan terdapat kolam ikan menambah ke asrian rumah ini.
"Pasti yamg punya orangnya ramah, rumahnya kelihatan nyaman banget Ra.. " komen Mariana yang tetap memandang takjub.
"Luarnya iya ma, tapi dalamnya lebih mewah lagi, Walau mewah tapi terkesan sepi.. " tambah Tiara.
"Non Tiara.. !" sapa seorang wanita dari balik pohon cherry.
"Bi Darmi.. " Tiara tersenyum melihat wanita itu mendekat.
"Ini mamanya Tiara.. ?" tanya bi Darmi sambil menatap lekat ke arah Mariana.
"Iya bi. Ma, ini bi Darmi. Koki handal keluarga ini.. " ujar Tiara di selingi kekehan kecil.
"Ah, kamu ini bisa saja Ra. Nyonya, saya Darmi..,'' Bi Darmi mengulurkan tangannya pada mamanya Tiara.
"Saya Mariana, salam kenal bi. " Balas Mariana ramah. Darmi masih menatap lekat pada Mariana, karna wajahnya sedikit mirip dengan majikannya.
__ADS_1
"Ah iya nyonya. Mari silahkan masuk .. "
Mariana dan Tiara mengikuti langkah Darmi menuju pintu utama dan membukakan untuk mereka.
"Makasih bi.. " . ujar Tiara dan mamanya hampir bersamaan.
"Sama-sama, nyonya ada di dalam. Saya kedepan dulu beresin kerja..permisi.. " Pamit Darmi lalu kembali keluar.
"Siapa yang datang Darmi.. " Suara seorang wanita membuat Tiara dan mamanya saling menoleh ke arah datangnya wanita tengah baya yang sedang memegang cangkir kopi di tangannya.
"Mama Ani.. " Tiara tersenyum.
Mariana memandang anaknya, saat anaknya menyebut mama Ani, maknanya orang di depannya itu lah mama Ani yang di maksut Tiara selama ini. Yang selalu di ceritakan gadis itu.
Mama Ani tak kalah terkejut, dia sudah tidak lagi fokus pada kehadiran Tiara yang tersenyum . Matanya memandang lekat pada seseorang yang berdiri di samping Tiara.
"An-Ana... !" suaranya sedikit tersendat, bersama jatuhnya cangkir kopi yamg ia pegang. Karna dia menggunakan tangannya untuk membekap mulutnya.
Rasa tak percaya akan yang terjadi masih membuat keduanya Syok. Tiara hanya memandang keduanya bergantian karna tidak mengerti.
"Tiara, kita pulang sekarang. " Mariana menarik tangan Tiara seketika itu, untuk berjalan keluar.
"Kita pulang sekarang Tiara ! " Tegas Mariana .
Dengan terseok-seok Mariana menarik anaknya keluar dari rumah itu.
"Ana.. tunggu Na.. !" Mama Ani sedikit berlari untuk mengejar keduanya.
Tiara yang bingung hanya menatap keduanya kembali. Mama Ani memanggil mamanya Ana. Apa maksutnya, apa mereka saling kenal. Mengapa mamanya tampak murka pada mama Ani.
"Ana.. tunggu..!! " Mama Ani menarik lengan Tiara yang berhasil dia gapai. Jadilah Tiara di tarik sana dan sini.
"Lepaskan tangan mu dari putriku..! " teriak Mariana yang tampak murka.
"Ana, Ana.. ini benar kamu Na.. jangan pergi Na. Kita harus bicara.. " Mama Ani menangis berusaha menahan tangan Tiara agar tidak terlepas.
__ADS_1
"Aku tidak sudi bicara dengan mu. ! " Mariana menghentak kasar sisi tangan putrinya yang di pegang oleh mama Ani agar terlepas.
Bruk.
Hempasan itu membuat Mama Ani kehilangan keseimbangan lalu jatuh sambil menangis.
Mariana cepat-cepat menyeret putrinya.
"Mama Ani.. " Tiara terkejut melihatnya dan berbalik memandang mamanya. " Ma, mama Ani jatuh. " Tiara berusaha melepas kaitan tangan mamanya agar bisa menolong mama Ani.
Mariana tak perduli, dia kembali menarik Tiara menjauh.
"Mama.. !" seru Tiara yang tidak mengerti pada mamanya, yang tega dan tidak mau membantu mama Ani.
"Mama bilang pulang Tiara.. !!" Seru Mariana tak kalah seru. Tiara terkejut, untuk pertama kalinya mamanya membentaknya sedemikian rupa. Hingga membuat gadis itu memucat.
Suara tangisan dan raungan mama Ani membuat Darmi yang berada di samping rumah berlari menuju depan.
"Ya Allah, Nyonya... !!" Darmi berlari menuju Ani yang menelungkup sambil menangis melepas kepergian Tiara dan Mariana.
"Ana.... huhu... Ana.... kembali.. !"
"Nyonya, ada apa Nya.. Ya Allah.. " Darmi berusaha membantu mama Ani bangun dan berdiri. Dia ikut bingung melihat tamunya pergi tergesa-gesa dengan Tiara yang sedikit di tarik-tarik. Sedang nyonyanya jatuh sambil menangis.
"Darmi, itu Ana Darmi.. Ana...!! " Wanita itu terus menangis histeris. Hingga bayangan Tiara dan Mariana hilang dari balik gerbang.
Setelah berhasil membantu mama Ani, Darmi mendudukannya di tepi teras. Dia bergegas masuk untuk menelpon anak majikannya.
"Ada apa bi. .?" Jawab Dion di kantornya.
"Den, nyonya den. Nyonya nangis histeris.. " ucapnya panik.
"Tiara ga jadi kesitu..? " pasalnya gadis itu semalam mengirimkan pesan padanya yang dia akan datang siang ini bersama mamanya.
"Saya ga tau den, sebenarnya ada apa. Tadi memang non Tiara datang dengan Mamanya. Tapi tiba-tiba saya denger teriakan nyonya. Dan non Tiara pergi bersama mamanya. sampe di tarik tangan non Tiara. Den. " terang Darmi ngos-ngosan.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, jagain mama bi. Saya akan pulang sekarang juga. " Dan panggilan pun di tutup oleh Dion.
Dafa sedang tidak di rumah, karna pria itu lebih memilih meneruskan kuliahnya ke jogja setelah keadaan mama Ani membaik pasca di rawat Tiara. Jadilah hanya Dion yang tinggal bersama mama Ano saat ini.