Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 18


__ADS_3

Tiara mulai di sibukkan oleh pelajaran tambahan menjelang ujian. Tak terkecuali Via dan Nino.


"Kamu pucet banget Vi sekarang, kamu sakit. .?" Tiara menempelkan punggung tanganya di kening sahabatnya itu.


"Enggak Ra, aku cuma lemes aja bawaanya.. " Jawab Via sambil menepis tangan sahabatnya.


"Mungkin cape, kita dari pagi sampe sore full belajar mulu.."


"Ini kan demi nilai ujian Vi.. " jawab Tiara.


Tak lama Nino datang membawakan es rasa buah. " Noh buat lo.." Nino memberikan cup rasa melon untuk Via. "Ini Durian buat kamu Ra. " Nino beralih memberikan pada Tiara.


"Makasih No.. " ujar Tiara sumringah.


"Pegangin dulu Ra, gue mau ke toilet.. " belum sempat Tiara menjawab, Via sudah lari membekap mulutnya menuju toilet.


"Ngapa tuh anak..? " Nino tampak heran melihat Via yang tiba-tiba lari .


"Ga tau juga No, sering banget sekarang dia ke toilet. Liat yuk, khawatir gue.. " Ajak Tiara pada Nino.


Keduanya langsung berjalan beriring dengan 2 tangan Tiara memegang Cup Es.


"Lo tunggu, biar gue yang masuk.. " ujar Tiara yang langsung di angguki Nino.


Tiara mendorong pintu, toilet tampak sepi. Tak terlihat murit lain di sana. Karna memang sudah sore. Hanya murit kelas 3 yang berada di sekolah.


"Via.. " Teriak Tiara sambil mendorong satu persatu pintu. Saat pintu terbuka, tidak terlihat keberadaan Via di sana. Tiara mencoba membuka 2 pintu yang lain yang ternyata juga kosong .


"Ga ada No, kemana dia ya..? " Ujar Tiara saat keluar dari toilet.


"Aneh, masak dia di toilet bawah sih ..?" Nino ikut heran.


"Coba yuk cari. takut kenapa-kenapa tu anak. Mana pucet aja tu muka sekarang.. " Tiara kembali mengajak Nino.


Saat di tangga bawah terlihat sekumpulan anak -anak kelas mereka sedang mengobrol dan bercanda.


"Sorry, kalian liat Via gak. ?" Tanya Tiara pada mereka. Mereka saling berpandangan dan sama-sama menggeleng.


"Kita ga liat Ra, kita dari tadi di sini.. " jawab salah seorang yang bernama tegar.


"Oh, ok thanks.. " Tiara tersenyum lalu kembali menaiki tangga di ikuti Nino.


Tiara mulai berfikir untuk menyusuri ruang kelas 3 yang berjumlah 6 kelas.


"Ga ada Ra.. " ujar Nino saat ikut memeriksa ruang kelas .

__ADS_1


"Heran, kemana tu anak.. " gerutu Tiara.


"Kita balik ke kelas, mana tau dia udah balik Ra " usul Nino, yang langsung di jawab ok oleh Tiara.


Dugaan Nino benar, Tiara sudah duduk di bangkunya dengan wajah menelungkup ke aeah meja.


"Vi, lo dari mana..? " tanya Tiara langsung.


Via tampak lemah mengangkat wajahnya pelan, "Kan tadi gue bilang gue ke toilet Ra.. " jawabnya sebal.


"Masalahnya kita berdua dari toilet juga nyari lo. Dan ga ada. Lo yakin ke toilet..,? " Selidik Tiara penuh curiga.


Via tampak gelagapan, tidak menyangka sahabatnya ternyata menyusulnya ke toilet.


"Eh, gue dah kebelet banget Ra. Jadi ga sadar masuk toilet cowok.." ujarbtacdengan memalingkan muka ke arah lain.


Tiara dan Nino, saling memicingkan matanya. Bagi mereka mustahil, karna toilet cowok justru berada di ujung lorong. Alasan tampak ri buat-buat. Tapi keduanya memilih diam, dari pada saling ribut.


##


Pukul 12 malam, sayup-sayup Tiara mendengar orang mengetuk pintu rumanya. Fadis itu bangun, memastikan apa yang dia dengar itu nyata atau hanya mimpi.


Ternyata ketukan itu kembali berbunyi. Tiara turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamar.


Terlihat mamahnya juga keluar sambil memakai krudungnya.


Tiara menuju jendela kaca, membuka tirainya perlahan. Tampak seorang lelaki berdiri nembelakangi di depan pintu. Juga kembali mengetuk.


"Ga tau ma, ga jelas. Laki-laki." bisik Tiara.


Mariana meraih penyangga pintu, lalu membuka kunci.


"Ada apa..? " tanyanya saat tahu siapa yang bertamu malam-malam.


"Tante, maaf aku ganggu tante malam-malam. Ra.. " ucap lelaki itu yang tak lain adalah Dion.


Tiara ikut melihat wajah Dion yang di penuhi kepanikan.


"Ada apa kak..? " tanya Tiara akhirnya.


"Gini Tan, Ra. Keadaan mana kembali kritis,sekarang mama.. mama di rumah sakit.. "


"Saya ga perduli... " potong Mariana dan hendak menutup pintu, tapi Dion menahannya.


"Tan, aku mohon. Kali ini saja, untuk kali ini. Mama sekarat dan dan mama pengen ketemu tante untuk terakhir kalinya.. " ucap Dion dengan nafas tersenggal .

__ADS_1


Tiara membekap mulutnya tak percaya, dia tidak mengerti. Kenapa mama Ani di kabarkan sekarat. Sudah lama tepatnya sejak ribut dulu, Tiara memang tidak pernah lagi menemui mama Ani.


"Saya sudah bilang, saya ga perduli. minggir..! " jawab Mariana dengan wajah tak bersahabat.


"Tan, aku mohon. Kalaupun tante udah ga nganggep mama kakak tante. Tapi setidaknya, lakukanlah atas nama kemanusiaan Tan..!" Dion kalut, hingga berteriak lantang di depan Mariana dan Tiara.


"Mama sekarat, mama pengen liat tante untuk terakhir kalinya.. " Tambahnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Tiara ikut menangis, meraih lengan mamanya.


"Ma, ayo ma kita ke sana. Kita liat mana Ani.. " bujuknya dengan terisak.


Mariana ikut menatap tajam anaknya, bagaimana mungkin Tiara justru luluh begitu saja dengan ucapan Dion.


"Enggak, kamu atau pun mama ga akan pernah datang ke sana. " Mariana mendorong Dion agar menjauh dari pintu saat lelaki itu lengah.


"Tan... Tan... aku mohon Tan.. ! Mama pengen ketemu tante.. !" teriak Dion dari luar.


Tiara semakin terisak, dan Mariana justru masuk kembali ke kamarnya.


"Ma. . . " Tiara mengikuti mamanya ke kamarnya.


Mariana duduk di tepi ranjangnya, Tiara bersimpuh sambil menangis .


"Ayo kita ke sana Ma, kasian mama Ani.. "


"Mama mau hidup begini terus ma, mama harus berlapang dada ma. Semua di masa lalu udah ga bisa kita ubah. . yang bisa di perbaiki adalah masa sekarang.. " kembali Tiara membujuk mamanya.


"Kamu tau apa tentang masa lalu Ra, kamu ga tau rasa sakitnya mama dulu. Hidup di buang oleh keluarga sendiri, bahkan papa mama ga mau mengakui mama sebagai anaknya lagi. Hingga mengharamkan mama menghadiri upacara kematianya Ra. . !"


"Itu semua karna Ani, ulah dia..!! " ungkap Mariana tersenggal.


Tiara menangis tergugu, dia begitu mengkhawatirkan keadaan mama Ani. Tapi sepertinya mamanya juga bersikukuh tidak mau menemuinya.


"Bapak pasti sedih, kalau tau mama masih menyimpan dendam dan sakit hati mama. Padahal dulu bapak selalu berpesan sama Tiara, kalau ga boleh jadi pendendam, ga boleh nyimpen sakit hati sama orang lain. "


Tiara bangkit, mengusap air matanya. Rasanya membujuk mamanya adalah hal terberat yang dia anggap teramat susah.


"Hati mama tidak semulia bapak mu, Ra. ." ucap Mariana pelan. Air matanya ikut menganak sungai di pipinya.


Tiara mundur beberapa langkah, menatap mamanya yang mulai menangis.


"Jika menurut mama ini benar, lakukan lah ma. Asal mama ga nangis. Aku ga mau liat mama nangis.., "


Mariana mengangkat wajahnya, meraih tangan anaknya kembali mendekat. Memeluk tubuh putrinya sambil bergetar. Bohong jika dia tidak khawatir tentang kabar Ani yang kritis, tapi sakit hatinya seolah membuang hati nuraninya.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan, seolah saling menguatkan satu sama lain. Dengan isak tangis yang memenuhi seluruh kamar itu.


__ADS_2