
Keesokannya, desas desus di sekolah tentang kejadian kemarin menambah hangat suasana kantin juga kelas.
Bara. Cowok terkenal di sekolah banyak mendapat perhatian dari cewe yang mengincarnya . Mereka berlomba-lomba untuk mencari perhatian Bara. Mulai dari yang menangis karna tahu Bara Kecelakaan. Ada yang mencemaskan hingga membawakan bingkisan sarapan, kue, bahkan ada yang mengajaknya jalan-jalan. Agar Bara tidak stres.
"Bara, aku denger kemarin kamu kecelakaan ya.. " Jesika. Entah cewe ke berapa yang sudah menyapa Bara hari ini. Berpura-pura khawatir tentunya.
"Iya Jes, tapi aku ga papa kok.. " terang Bara di ikuti seulas senyum yang membuat cewe manapun akan klepek-klepek.
"Syukurlah..." Gadis itu meringsek masuk di barisan teman-teman Bara.
"Minggir dikit, mau nempel Bara Cintaku donk.. " ujarnya kecentilan.
"Huhh. . rese lo.. " Fatih menggeser. Di ikuti Ronal, Fatoni juga Gibran. Mereka sedang santai menunggu jam istirahat selesai.
Jesika hanya memutar bola matanya jengah.
"Bara Cintaku. Apa perlu aku kasih pelajaran tu cewe yang udah nabrak kamu kemarin ? Aku denger kamu minta ganti rugi. Tapi nyokap nglarang.. "
"Ga perlu Jes, aku bisa urus sendiri kok.. " ternyata memang Bara belum berpuas hati dengan keputusan kemarin.
"Yahh, padahal kamu ga perlu ngotirin tangan mu loh. Cukup kita-kita aja.. Ya kan temen-temen..?" Jesika meminta dukungan teman Bara yang lain.
Sebagian menggeleng, sebagia justru tak perduli.
"Ga usah Jes, ini urusan aku sama Intan. Orang lain ga perlu ikut campur.. "
Jesika manyun mendengar penolakan Bara. Tapi dia berjanji akan membalas Intan tanpa sepengetahuan Bara.
Saat Jesika sedang memuji dan memuja sosok Bara , justru sorot mata Bara menangkap bayang seseorang yang akan menaiki tangga lantai atas. Seseorang yang sedang di bicarakan Bara Dan Kawan-kawan.
"Bentar ya. aku ke sana dulu.. " pamit Bara dengan senyum misterius.
"Kemana Lo...? " Ronal tampak ingin mengikuti Bara.
"Situ aja, mau ke toilet dulu.. " kilah Bara. Lalu setengah berlari menjauh.
"Bara Cintaku, kok aku di tinggalin..." Kesal Jesika menghentak-hentakkan kakinya di lantai lalu ikut pergi.
"Toilet lantai 2 yaa... ?" ujar Gibran yang merasa aneh.
__ADS_1
"Tau tuh, Lagi ngidam naik tangga kali haha... " Fatoni tergelak sendiri dan kembali ke kelas di ikuti yang lain.
######
Tiara melangkah santai menuju lorong belakang sekolah. Tidak curiga seseorang sedang mengikutinya sejak tadi. Gadis itu mengusap peluh sambil mulai membuka plastik hitam yang dia tenteng dari tadi.
"Lapernya... "
Baru dia akan menepi untuk duduk di bangku. Lengannya serasa di cekal seseorang.
" Apppp... ?" reflek dia memutar badan dan seketika matanya melotot bulat melihat seseorang yang mencekal tangannya. Bahkan kata-katanya tak sampai dia teruskan.
"Kak..kakak.." gagapnya karna terkejut.
"Urusan kita belum selesai Tiara.. " Bara menarik lengan Tiara menuju tempat sepi. Tiara berusaha menghempas cekalan tangannya tapi justru Bara lebih menguatkan cekalan di tangan Tiara.
"Kak, sakit... " Tiara meringis. Lengan yang di cekal bersebelahan dengan perban luka kemarin.
Saat tiba di lorong yang benar-benar sepi. Bara menghempas kasar lengan Tiara. Hingga gadis itu sedikit tersentak.
"Denger ya, urusan kemarin itu bagi gue gak fair. Bunda emang bilang ga apa-apa. Tapi gue tetep minta ganti rugi atas kerusakan mobil gue.. !" Ujarnya setengah bengis.
"Jadi kapan lo mau mulai ganti rugi.. ?" tanya Bara kemudian. Karna merasa lawan sudah tunduk.
"Ak.. aku ga ada uang kak. . " Walau bergetar Tiara mencoba tenang saat menjawab.
"Itu bukan urusan gue. 5 juta harus lo siapin secepatnya. . " tegas Bara berlalu dari hadapan Tiara.
Tiara ternganga. 5 juta adalah jumlah yang banyak. Dari mana dia dapat uang sebanyak itu. Gadis itu tertunduk, rasa perih di perutnya sudah tidak di rasa lagi. Padahal sejak pagi dia belum makan apa-apa.
####
Jam sekolah usai, Tiara yang lunglai berjalan beriringan dengan Nino menuju pintu keluar utama.
"Ra, duluan ya. udah di tunggu mama.. " pamit Nino Setelah mereka sudah di luar.
Tiara hanya mengangguk dan tersenyum kaku.
"Daa.. Tiara. .." Nino melambai meninggalkan Tiara yang juga di balas lambaian Tiara.
__ADS_1
Terik mulai menyengat kulit. Tiara memilih jalan menepi sisi gedung menuju parkir sepedah. Tanpa di nyana asalnya. 2 ember air berbau wipol mengguyur tubuhnya.
Byurr
Di ikuti gelak tawa dari atas lantai 2.
Tiara mendongak dengan seluruh badan basah kuyup.
"Rasain lo.. " teriak mereka seraya tergelak penuh kemenangan.
Tiara menyipit memperhatikan mereka, dia mengenalinya. Itu adalah kakak kelasnya. Yang maknanya teman-teman Bara. Karna dia tau Jesika dan gengs sangat memuja Baradyaka.
Tiara mengusap beberapa kotoran yang menempel di pakaiannya. Rasanya dia ingin menangis.
"Tega sekali kalian.. " umpatnya pelan. Kesal tentu saja.
Dia berjalan pelan menjauh saat melihat mereka masih tergelak di atas. Takut kembali di guyur .
"Puas banget gue guys... yok cabut.." ujar Jesika lalu di ikuti kawan-kawannya meninggalkan loteng sekolah lantai 2 .
Tiara tergesa membelah murit di depan gerbang. Matanya sungguh terasa panas. Saat sudah terasa jauh meninggalkan sekolah, gadis itu menangis.
Dia membalik badan di sebuah pohon besar tepi jalan. Agar tidak ada orang yang melihat dia menangis.
Tangannya berpegangan pada pohon agar tidak limbung.
Efek tidak makan sedari pagi langsung membuatnya pusing. Dia langsung muntah.
Hwekk.. hwekk..
Dengan berjongkok, Tiara berusaha membuang rasa sesak di dadanya.
Hanya cairan saja yang keluar di ikuti rasa tidak nyaman di tenggorokan.
"Lo ga papa... ??" Seseorang memegang bahu kananya. Yang seketika membuat Tiara menoleh.
Brukk..
Tiara pingsan tak sadarkan diri, membuat orang yang tadi menyapanya panik bukan main.
__ADS_1