Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 9


__ADS_3

Sejak hari itu, Tiara sudah tidak pernah lagi memikirkan beban hutangnya pada Bara. Sebisa mungkin gadis itu juga menghindar jika berpapasan. Bahkan saat tahu ada siluit Bara di kejauhan, dia dengan sengaja berbelok arah. Bagi Tiara, dia tidak pernah mengenal sosok Bara yang slalu di puja-puja di sekolahannya.


Hingga akhirnya tiba di hari kelulusan kakak kelas dan dia menaiki kelas 3 . Tidak pernah sekalipun dia bertemu langsung. Ingatannya tentang sakit hati ucapan Bara tempo lalu juga sudah mulai mengikis. Tiara menjalani hari-hari penuh semangat.


Seperti siang ini, gadis itu tengah belajar sambil menemani mama Ani menonton TV. Untungnya jenis kerjanya hanya menemani mama Ani. Sehingga tidak mengganggu proses sekolahnya. Dafa juga terkadang mau membantu dan mengajarinya jika ada pelajaran yang tidak dia paham. Bersyukur hadirnya sudah di anggap layaknya saudara di rumah itu.


Tiara teralihkan fokusnya saat ponselnya miliknya berbunyi. Ya, dia sudah bisa membeli ponsel baru. Uang dari kerja kerasnya setelah melunasi hutangnya pada Dion untuk membayar hutang pada Bara dulu.


"Hallo. Assalamualaikum mama.. " Sapanya saat tau ternyata mamanya yang menelpon.


"Waalaikum salam sayang, kamu apa kabar..? " jawab Mamanya di ujung talian.


Tiara bangkit, berjalan menuju balkon agar tidak mengganggu mama Ani yang sedang menonton TV.


"Alhamdulillah Ma, mama apa kabar..? "


"Mama juga Alhamdulillah baik, kamu sudah makan nak..? "

__ADS_1


"Syukurlah Ma. aku udah makan . Mama lagi apa? udah makan juga..? "


"Sudah sayang, mama lagi rehat. Oh ya, ada yang mau mama omongin sana kamu.. "


"Apa ma..? " Tiara tampak menajamkan telinganya.


"Rencananya mama mau pulang bulan depan sayang, bagaimana menurut kamu.? Maksut mama, uang tabungan mama masih cukup untuk biaya kamu sampe lulus, tapi mungkin mama ga bisa kuliahin kamu sayang " . Terdengar helaan nafas mama di telpon.


"Mama udah ga sanggup kerja di sini, terlalu berat. " keluh mamanya.


Menurut bapaknya Tiara, Mama dulu anak orang berada dan tidak pernah bekerja. Tapi sejak bapak yang sakit dan lumpuh semua tanggung jawab di ambil oleh mama. Sebagai tulang punggung keluarga.


Obrolan ibu dan anak itu masih berlanjut hingga sejam. Saling mencurahkan keluh kesah dan berbagi cerita. Hingga akhirnya mama lebih dulu mengahiri panggilan karna kehabisan pulsa.


"Siapa yang menelpon Ra..? " Tanya mama Ani saat melihat Tiara kembali ke kamar.


"Mama aku Ma. Maaf jadi di tinggal lama.. " Tiara kembali duduk di karpet. Merapikan buku-bukunya.

__ADS_1


"Ga papa. Bagaimana kabar mama kamu..? " Tanya mama Ani.


Kesehatan mama Ani semakin membaik, sudah bisa mengenali Tiara. Bukan lagi memanggil Dara. Wanita itu hanya ingin di temani setiap harinya.


"Mama Alhamdulillah baik Ma. Bulan depan mama pulang.. " Jawab Tiara sumringah.


"Oh ya, kamu pasti seneng banget. Bisa kembali berkumpul bareng mama kamu.. "


Tiara yang semula terlihat sumringah langsung mendekat ke arah mama Ani. Saat tahu wajah wanita itu menjadi sendu.


"Mama kenapa. .?"


"Ga papa Ra.. " Terlihat sekali mama Ani berusaha menutupi kegelisahannya.


"Mama kayak lagi mikirin sesuatu, mama bisa cerita sama aku. Mama merisaukan apa.. ?"


Mama Ani mengenggam tangan hangat Tiara. Gadis itu sudah selayaknya anak baginya. Menggantikan anak perempuannya yang sudah pergi dari dunia ini. Begitu menyayanginya, begitu telaten mengurusnya. Sungguh dia begitu takut jika nanti mamanya Tiara sudah kembali. Dia takut Tiara akan melupakannya. Dan hidupnya kembali sepi, seperti saat di tinggal Dara pergi.

__ADS_1


__ADS_2