Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 50


__ADS_3

Pukul 5 pagi, Bara mulai membuka matanya. Dan pandangan pertama justru tertuju dengan tampilan wajah Tiara di depan matanya. Rupanya gadis itu sudah bertukar posisi tidur miring memeluk guling menghadap langsung di depan Bara. Sebuah senyuman melengkung di bibir Bara, ada rasa yang lain. Rasa membuncah juga berdebar dan canggung. Rasanya dia teringin mencium bibir yang sedikit terbuka itu, tapi tidak bernyali. Lama di pandanginya wajah yang tampak pulas itu.


Akhirnya dia memutuskan untuk bangun lebih dulu.


"Ra... " panggilnya lembut, dia sudah selesai mandi. Sudah bertukar baju juga.


"Ara... " panggilnya lagi sambil mengguncang bahu istrinya.


Tiara pelan-pelan membuka matanya dan reflek bangun dan mundur karna terkejut.


"Udah pagi, sholat dulu.. "


Ucapan Bara seolah menyadarkan nyawanya, hingga mengangguk lemah dan turun dari tempat tidur.


"Mau jamaah. .?" tawar Bara lagi sebelum istrinya membuka pintu kamar mandi.


Tiara menghentikan langkahnya sebentar, lalu kembali berjalan tanpa menjawab ajakan Bara.


Bara memutuskan menunggu, sambil membuka ponselnya. Banyak ucapan selamat yang di kirimkan teman-temannya. Mereka berjanji untuk datang di acara resepsinya. Bara tersenyum sendiri, tidak menyangka akan menikah secepat ini.


Ceklek.


Bunyi pintu terbuka membuatnya meletakan ponselnya. " udah..? " di pandangnya wajah yang tampak segar berbalut bathroob. Buru-buru Bara memalingkan wajahnya, tak terkecuali Tiara yang terlihat menunduk malu.


Tiara kembali ke kamar mandi setelah mengambil pakaiannya dengan setengah berlari.


"Udah..? " sekali lagi Bara menanyakan saat melihat gadis itu sudah berpakaian lengkap.


Dan berdua mereka melakukan jamaah sholat subuh dengan Bara sebagai imamnya. Setelah selesai sholat, Bara berbalik. Maksut hati agar istrinya mau menyaliminya. Tapi nyatanya Tiara langsung berdiri mengemasi mukenanya.


Dengan perasaan kecewa Bara juga ikut berdiri menggulung sajadahnya.


Rasa canggung kembali menghampiri keduanya, ingin keluar untuk sarapan masih terlalu pagi. Ingin tidur lagi, tapi segan.


"Ra, mau teh. .?" tawar Bara akhirnya untuk mengusir kecanggungan, lelaki itu berdiri lebih dulu menuju meja yang lengkap di sediakan kopi dan teh oleh pihak hotel.


Bara menuang kopi instan, mengaduknya pelan. Karna tak mendapat jawaban istrinya dia kembali menoleh. Terlihat gadis itu melamun sambil memandang ke arahnya.


Kembali helaan nafas panjang di keluarkan oleh Bara. Satu cangkir kopi dan teh telah siap, dia membawa cangkir itu mendekat ke meja dekat tempat tidur.

__ADS_1


"Di minum teh nya.. " ucapnya tanpa memandang wajah Tiara. Dan memilih berjalan ke sofa menyalakan TV.


Tiara menatap cangkir teh miliknya yang mengepul asap dan aroma wangi melati.


Bayanganya justru tertuju pada Alex saat mereka tengah berlibur di pegunungan jawa dulu. Alex menyukai teh melati yang menurutnya segar dan wangi.


Semua tentang Alex kembali memenuhi kepalanya, banyak pertanyaan yang ingin dia tay jawabannya. Tapi pada siapa dia akan bertanya.


"Kenapa bisa jadi kamu..? " kata itu lolos begitu saja setelah lama dia fikirkan.


Bara menoleh padanya, tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat.


"Kamu menyesal.. ?" tanya Bara sambil kembali menatap TV.


"Tentu saja, karna semua ga seperti yang aku harapkan.. " tegas Tiara.


Bara diam, hanya helaan nafas yang terasa berat.


"Kenapa diam ? " cerca Tiara, menatap sinis lelaki di ujung sofa .


Bara kembali menoleh ke arahnya, di letakkannya cangkir kopi di atas meja. Dia pun bangkit dan berjalan menuju sisi tempat tidur. Tiara membuang pandangannya saat lelaki itu duduk di depannya.


Gadis itu mengusap air matanya yang mulai lolos di pipinya.


"Ra... " Bara mencoba meraih tangan istrinya, tapi Tiara menepisnya. Dia pun tidak memaksanya lagi. Hatinya iba melihat wajah gadis itu sudah penuh air mata.


"Aku tidak akan memaksamu, kita jalani saja dulu apa adanya sekarang. "


"Aku ga mau.! " tegas Tiara, menatap tajam ke arah Bara lalu sedetik kemudian membuang pandangannya sambil terus menyusut air matanya.


Hingga saat kembali ke rumah Tiara, tidak ada lagi percakapan antara mereka. Tiara hanya diam dan membuang muka saat Bara baru akan berucap kata.


"Ohh sayangnya mamah udah pulang.. " Mariana menyambut sumringah kehadiran anak dan menantunya yang baru keluar dari mobil.


"Mama... " Tiara langsung memeluk mamahnya, " mama udah sehat kan? " tanyanya penuh khawatir.


"Alhamdulillah, udah sehat. Semua beban fikiran mama udah hilang.. " terang Mariana sumringah. Tiara hanya tersenyum kecut lalu menunduk.


Bara pun langsung menyalami mamah mertuanya juga tante dan saudara jauh Tiara.

__ADS_1


"Ga nyangka ternyata aslinya memang gagah." puji Bude Tiara yang dari Padang.


Bara hanya tersenyum dan mengangguk sopan.


"Ayo masuk dulu, ini mau hujan. " Mariana menggiring anak dan menantunya untuk masuk rumah.


Seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah, bibi juga menyiapkan teh dengan aneka kue. Suasana rumah sangat ramai karna keluarga jauh masih akan menginap sampai selesai hari resepsi di pihak Bara. Untungnya rumah itu muat, meskipun tidak banyak kamarnya.


"Ra, ajak suamimu naik untuk istirahat dulu, di sini berisik suara anak-anak ." Mariana menegur anaknya yang justru asik bermain dengan Maira tanpa memperdulikan suaminya.


Tiara pun langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Bara. Lelaki itu tersenyum, begitu hangat hingga membuat Tiara terdiam beberapa saat.


"Udah, sana naik. Malah pandang-pandangan di sini. " goda budenya Tiara sambil terkekeh geli melihat pengantin baru itu saling menunduk malu.


Tiara langsung berdiri di ikuti Bara, dan keduanya menaiki tangga . Saat pintu kamar di buka, Bara mengedarkan pandangannya menatap kamar yang tampak rapi bernuansa putih. Hanya warna horden yang terlihat lain, berwarna ungu tua. 1 koper miliknya sudah berada di sana.


"Kamu bisa istirahat dulu, aku mau ke bawah ." ujar Tiara setelah mengganti bajunya yang tadi di pakai dari hotel.


Bara mengangguk, melepas kepergian istrinya yang hilang dari balik pintu. Dia meneruskan langkahnya menuju tempat tidur yang rapi. Dan duduk dengan tatapan lekat ke arah foto pertunangan Alex dan Tiara. Senyum mengembang dari keduanya membuatnya tersenyum getir.


"Dia belum pernah tersenyum begitu manis saat bersama ku." desahnya.


Sedang di ruang bawah, Mariana yang melihat putrinya kembali turun ikut melangkah mengikutinya. Rupanya Tiara menuju dapur menyusul Via.


"Tiara, kenapa turun. Nak Bara di atas kan? " potong Mariana saat anaknya itu baru akan menyapa Via. Via pun ikut menoleh saat mendengar suara di belakangnya, tadi dia sangat fokus mengiris daging untuk di bikin dendeng daging hingga tidak menyadari ada orang lain selain dia dan bibik di dapur.


"Bara , tidur ma.." jawab Tiara sekenanya .


"Sayang, jangan memanggil nama pada suami itu ga sopan." tegur Mariana.


"Terus manggil apa Ma..?" kesalnya karna serba di protes.


"Ya pake panggilan apa kek, Via kamu manggil suami mu apa? " Mariana beralih menatap Via bermaksut memberi contoh.


"Aku manggilnya Abang." jawab Via enteng. Meski sedikit meringis saat matanya bersibobrok dengan mata Tiara.


"Nah, kamu harus belajar manggilnya bisa ikut Via, abang, kakak, mas atau apa yang bagus. Panggil sayang juga bisa kan. " tutur Mariana. Tiara hanya mendengus kesal sendiri dalam hati, rencananya akan menanyai Via akan kejadian kemarin menjadi berantakan karna ada mamanya.


Sedang bagi Via, kehadiran Mariana ternyata bisa menyelamatkannya dari amukan seorang Tiara untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2