
Kedua mata Tiara seakan membola karna terkejut, kali ke dua Bara mencium bibirnya, bedanya kali ini tidak hanya saling menempel seperti dulu. Tapi ada *******-******* kecil di dalamnya. Satu tangan Bara menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya ambruk di atas tubuh Tiara. Sedang satunya menahan tengkuk untuk memperdalam *******.
Tiara yang hampir kehabisan nafas segera mendorong kasar dada Bara.
Bara melepaskan ciuman dengan nafas terengah-engah. Matanya menatap lembut bergelora pada manik istrinya, lalu Bara kembali melu mat habis bibir itu, tangannya pun tak diam lagi. Menyusuri tiap jengkal tubuh istrinya membuat Tiara menggeliat geli dan kaku meremang.
"Bar-aa.." Tiara merasakan geli saat tangan lelaki itu berhasil masuk dan meraba perut ratanya.
"Euhh.. hentikan Bara.." Tiara berusaha menolak meski tubuhnya merespon lain, ciuman itu turun lehernya membuatnya menggelin cang kegelian.
"Bar-" ucapanya menggantung saat Bara kembali mengecup madu di bibirnya.
Dengan dada saling berdebar dan tatapan yang tak pernah putus, Bara berhasil menyingkap baju tidur milik istrinya, bibirnya terus membelit sedang tangannya merayap mendaki bukit yang di kelilingi kain berenda. Remasan lembut membuat Tiara kembali mendes ah.
Tiara merasa bodoh karna mudah terbuai, nyatanya tiap sentuhan Bara memang membuatnya lupa daratan.
Dengan nalurinya Bara menikmati tiap inci tubuh istrinya yang belum pernah dia jamah, bahkan saat ini dia sedang sibuk meminum sumber yang belum mengeluarkan air apapun di puncaknya.
Membuat Tiara kembali menggeliat geli dan mende sah lebih keras lagi.
Cukup lama mereka saling terbuai mengecap rasa menggelora di dada. Hingga Tiba-tiba Tiara sadar.
"Hentikan Bara.. " Dia mendorong tubuh Bara yang sedang menyesap puncak gunung secara buas itu hingga jatuh terjengkang di ranjang. Lalu beringsut mundur, menarik selimut menutupi tubuh atasnya.
"Ak-aku tidak bisa, maaf.. " ucapnya bergetar sembari menunduk merapatkan selimut di tubuhnya.
Bara yang terkejut langsung bangkit dan duduk, nafasnya terengah-engah. Kepalanya terasa berat, saat dia begitu on tapi istrinya justru menolaknya.
"Kenapa. ?" lirihnya dengan tatapan yang tak pernah lepas memandang wanita yang sudah setengah bu g di depannya.
"Ak-aku tidak mencintaimu, aku tidak bisa melakukannya tanpa cinta." jawab Tiara sekenanya, dapat dia lihat wajah Bara berubah pias menahan marah.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa mencintaiku, sedang belajar menerima kehadiran ku saja kamu tidak bisa." Bara turun membawa kekecewaanya, kecewa hatinya patah akan penolakan Tiara. Dia mengguyur tubuhnya di dinginnya air,berusaha menahan gejolak yang memanas dan menegang di sekujur syarafnya.
Sepeninggal Bara, Tiara merasa amat menyesal. Dia melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Dia salah. menolak Bara yang memang sah suaminya dan berhak mendapatkan jiwa raganya adalah dosa.
Air mata mulai menetes di pipi Tiara, ada rasa sesak di dada. Perasaan bersalah pada Bara.
"Bara, maaf kan aku.. " lirihnya, dia berjanji akan tetap akan memberikan haknya meski mereka akhirnya nanti akan berpisah.
.
Di restoran Bara tampak uring-urungan, membuat pegawainya enjadi bingung karna tidak biasanya kesalahn kecil membuatnya marah hingga mengungkit-ungkit beberapa kali.
Rasa bersalah juga yang membawa Tiara datang mengunjunginya siang ini di RedOne. Sambutan ramah pegawai padanya di depan berbanding terbalik pada sambutan Laras.
Dengan wajah sinisnya Laras menghadang kedatangan Tiara yang baru akan masuk ke arah lorong ruangan Bara.
"Excuse me.." Tiara bermaksut menegur Laras yang menghalangi jalannya.
"Mau ngapain kamu kesini.. ?" Tanya Laras to the point.
"Untuk apa kamu menemuinya? " Nada bicara Laras tampak sudah naik satu noktah, tapi Tiara tampak santai menanggapi. Dia mundur dan melipat kedua tangannya di dada.
"Sejak kapan menemui suami perlu sebuah alasan mbak Laras. " Tegas Tiara seraya membaca name tag wanita itu.
"Kamu pasti yang membuat dia jadi uring-urusngan hari ini kan? " tuduh Laras langsung pada Tiara
"Minggir.!" Tiara mendorong paksa Laras di pinggir dan berlalu meninggalkannya, mengabaikan umpatan kesal wanita itu. Dia tidak perduli, baginya yang penting saat ini adalah Bara.
tok tok
ceklek.
__ADS_1
"Saya sudah bilang jangan mengganggu saya, apa kalian tidak dengar hah?! " Tanpa melihat siapa yang datang karna dia duduk membelakangi pintu, Bara berkata dengan lantangnya membuat Tiara sedikit berjingkat karna terkejut. Untuk pertama kali dia mendengar lelaki itu berteriak, padahal selama ini terlihat amat kalem dan lembut.
"Keluar jangan ganggu saya! "
Beberapa saat hening, Bara dengan wajah geram dan kesal membalikkan tubuhnya akan mengeluarkan sumpah serapah tapi semua itu menggantung begitu saja saat tahu istrinya lah yang masuk ke ruangannya.
"Tiara.. "
"Ekhem, maaf apa aku mengganggu.? " Tiara masuk dan duduk di sofa dengan anggun.Bara masih terus memperhatikannya tapi saat tatapan mereka bertemu dia segera melengos membuang muka.
"Ya, aku sibuk." jawabnya, lalu pura-puraembuka map desainnya dengan wajah kusut.
Tiara sebenarnya ingin tertawa tapi sebisa mungkin dia tahan, entah kenapa dia tidak takut lagi melihat wajah Bara yang menagan marah dan kesal.Tidak lagi seperti dulu saat mereka satu sekolah.
"Kamu sudah makan mas?" tanya Tiara lembut.
"Sudah. " jawab Bara tanpa mengalihkan wajahnya dari buku desain.
"Oh ya,makan apa? bukannya kamu dari tadi sibuk marah-marah." ledek Tiara.
"Bukan urusan kamu! " sebal, begitulah Bara jika sudah hancur moodnya. Segalanya seolah tak membuatnya berkesan lagi.
Tiara menghela nafas panjang, sembarienggelng pelan. Ini sudah seperti drama membujuk suami yang ngambek karna kesenangannya tak di dapat pagi tadi.
Dari apa yang dia baca, lelaki akan mudah emosi dan uring-uringan. Bahkan mencari pelampiasan karna has rat yang tidak tersalirkan. Dia kembali menggeleng pelan saat memikirkan kemungkinan suaminya mencari pelampiasan di luar atau di tempat kerja.
Apalagi mengingat kedekatan Bara dan Laras, meski Bara mengklaim bahwa Laras hanya staf dan temannya.
Sesaat hening, Bara yang sedari tadi tak memperdulikan kehadiran istrinya tiba-tiba mengerutkan keningnya saat melihat istrinya diam terpaku sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri .
"Kenapa kamu? "
__ADS_1
"Eh. enggak.'' Tiara berusaha membuang semua pemikiran negative nya, dia yakin Bara lelaki yang baik dan tidak mungkin melakukan hal terkutuk itu. Bahkan selama mereka menikah baru pagi tadi Bara mencoba berinteraksi intim dengannya. Dan terbukti, lelaki itu bahkan tidak memaksanya meski dia berhak saat tiara menolak.
"Dia memang baik. " bisiknya dalam hati.