Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 48


__ADS_3

Bara POV


Wanita yang aku nikahi itu terus menunduk, tidak sekalipun mau menatap ke arah ku. Bahkan saat memakaikan cincin, dia hanya fokus pada jari tangan ku.


Dia cantik sekali hari ini, ingin rasanya aku memujinya langsung tapi terasa tak berkesempatan mengucap kata. Meski matanya sedikit sendu, tapi itu tidak mengurangi kadar kecantikannya.


Mutiara Andini, dulu aku hanya pernah membaca namanya sekilas dalam buku daftar hadir acara perkemahan. Gadis yang sama sekali tidak pernah menoleh ke arah ku. Apalagi sejak urusan ganti rugi kecelakaan di depan sekolah. Dia justru dengan sengaja menghindar jika kami berpapasan. Apa aku tidak semenarik itu baginya, hingga dia tidak pernah memuja ku layaknya gadis lain di sekolahan.


Lama terpisah, aku mulai lupa namanya. Hingga tiba-tiba di pertemukan kembali karna urusan pekerjaan. Bagi ku kisah ku dan dia cukup di situ, karna tidak ada kisah tentang kami dulu ataupun nanti. Karna masing-masing juga sudah berpasangan sendiri-sendiri.


Hingga kembali kebetulan itu terjadi saat orang tua ku dan mamanya saling berteman akrab setelah sekembali dari tanah suci. Bahkan papa lah yang mewakili keluarganya saat dia lamaran.


Mutiara,


Senyum manis mu begitu membuai sejak dulu, bahkan kadar kemanisannya justru bertambah dengan kedewasaan mu sekarang . Hingga membuat ku hampir gila karna selalu memimpikannya saat kamu tersenyum manis pada lelaki itu. Aku berusaha menggapai nalarku, dis milik orang dan aku hanya sekedar terpesona.


Hingga akhirnya beberapa hari yang lalu aku di kejutkan oleh kehadiran keluarga besarnya ke rumah, aku yang tinggal di apartemen di minta papa untuk pulang malam itu juga.


Aku terkejut, harapan ku adalah melamar gadis pujaan ku. Tapi kenapa yang terjadi justru aku yang di lamar. Akhirnya, aku beralasan meminta waktu 3 hari untuk Istigharah dan di sanggupi keluarga Tiara. Dan mama justru dengan bersemangat membangunkan ku tiap pukul 2 pagi guna untuk sholat malam.

__ADS_1


Aku tidak tau pasti kenapa lelaki itu memilih mundur justru saat menjelang pernikahannya. Rasa tidak tega menyeruak di hatiku. Bayangan ku jika itu terjadi pada adik ku Lailana, bagaimana lah nasib adik ku dan keluarga besar ku.


Hingga akhirnya aku mantap menerimanya.


Malam itu aku ingat betul kami datang ke rumahnya guna melamar dan memberi seserahan. Dia tidak di sana dan tantenya mengatakan dia sudah di hotel menunggu hari esok.


Seantusias itu kah dia dengan pernikahannya, tentu saja tidak. Karna aku tau, Dia belum tau yang aku lah pengganti pengantinnya.


Mutiara, boleh kah aku mulai menulis tentang kisah kita, hari ini baru akan di mulai. Gadis yang tidak pernag menatap ku tiba-tiba bisa menjadi istriku.


Menjadi istriku.


"Bisakah kita saling melepas gandengan tangannya ? " ucapnya sambil menatap lekat ke arah ku.


"Tentu.. " Aku menurut, mengurai gandengan tangan yang semula ku rancang saat berada di ballroom. Saat ini kami sedang menuju kamar untuk istirahat sebelum acara resepsi. Setelah sebelumnya memastikan keadaan mamanya tang tadi pingsan.


Ceklek.


Pintu terbuka saat aku menempelkan kartu akses, harum mawar menyeruak. Taburan mawar merah di sepanjang lantai menuju ranjang membuat ku tersenyum miring.

__ADS_1


Hiasan aneka tataan di ranjang bahkan ucapan wedding dari hotel tersusun rapi . Sudah seperti malam pengantin saja.


Dia masuk begitu saja meninggalkan ku. Aku berusaha meraih tangannya.


"Tiara... "


"Lepas.. " hempasnya sambil menatap tajam ke arah ku. " Jangan menyentuh ku."


Aku diam mendengar ucapan tajamnya, fokus ku hanya tertuju pada matanya yang memerah.


"Tapi aku suamimu dan kamu istriku.. " jawab ku dengan mata yang tak lepas menatap matanya. Berusaha menyelami hatinya yang terluka.


"Aku tidak pernah memintanya, kenapa kamu mau. Sedang kan aku pasti menolak.! " jawabnya dan langsung menuju dalam kamar.


Aku tau dia terluka, aku tidak suka menatapnya seperti itu. Aku lebih suka melihatnya tersenyum karna itu sangat manis bagiku.


Ku lihat dia mulai membuka krudungnya karna hiasannya sudah di lepas di bawah saat bersama sang MUA. Rambutnya yang semula di gulung di gerai indah di hadapan ku. Aku hanya memandanginya dari jauh, tak berani mendekat dan mengusiknya. Hingga bunyi dentuman pintu kamar mandi menyadarkan ku akan angan ku.


Dia istriku..

__ADS_1


__ADS_2