Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 64


__ADS_3

Tiara sedang menemani Maira bermain boneka di ruang Tv, bibirnya terus mengukir senyum dan celoteh. Tapi tidak dengan hati dan fikirannya. Sepulang dari Medan, Tiara memilih langsung ke rumah Via. Fikirannya sedang kalut saat itu.


"Apa kamu ga pengen pulang, udah 3 hari kamu di sini.. " ujar Via sembari membawakan sepiring pisang goreng dan teh manis menemani santai mereka.


"Kamu merasa keberatan menampungku Vi? " Tiara sesekali menoleh menatap sahabatnya yang rasa saudara itu.


"Tentu saja tidak, aku senang. Kapan lagi aku punya uang belanja 500 tiap hari. " Via terkekeh sendiri, sejak datang Tiara terus memberinya uang tiap hari senilai 500 ribu dengan alasan belanja dan susu Maira. Hidup mereka tidak kekurangan, tapi sederhana. Menyesuaikan pendapatan.


"Ok lah, besok aku kurangi. Sepertinya itu kebanyakan." goda Tiara yang di sambut gelengan kepala Via.


"Eh, nyebelin ih.. aku bisa pakai buat benerin atap dapur yang bocor Ra. " protesnya sebal.


Tiara tertawa lebar, tawa pertama setelah 3 hari terasa berat. Setiap malam dia merenung, bingung menentukan sikap. Semua yang terjadi terlalu membuatnya syok.


"Aku malu Vi, mau pulang. Aku melawan mama tempo hari. " ucapnya setelah beberapq saat diam, sembari menerawang ke arah luar.


"Mama selalu memaafkan kesalahan anaknya Ra, segeralah minta maaf. Agar hati kamu tenang. Aku tau kamu susah tidur kan beberapa malam ini karna memikirkan semuanya" saran Via. Dia tau ini berat, apalagi hubungan Tiara dan Alex terjalin cukup lama. Bersyukurnya, Tiara justru memilih mengasing ke rumahnya sehingga tidak terlalu membuat keluarganya khawatir.


"Iya Vi, aku akan segera meminta maaf sama Mama. " jawabnya mantap.


"Bagaimana dengan suamimu..? " tanya Via kemudian.


"Aku kira berpisah jalan terbaik Vi, aku tidak mau terlalu menyakitinya lagi." Tangan Tiara terulur membelai rambut Maira yang lebat itu.


"Kenapa ga mencoba memperbaiki semuanya Ra."


Ucapan Via membuat Tiara kembali menoleh, gelengan pelan dia berikan sebagai jawaban. Membuat Via menarik nafas panjang.


"Assalamualaikum.." Niko yang masuk sepulang dari toko membuat kedua wanita itu menoleh tak terkecuali Maira.


"Waalaikum salam.." jawab ketiganya serempak.


"Papa... " Gadis kecil itu menghambur memeluk Niko yang di sambut Niko dengan merentangkan kedua tangannya dan menggendong balita itu.


"Kok udah pulang mas? " Via ikut bangun untuk salim.


"Iya de, hari ini stok barang banyak yang habis. Besok kita kulakan lagi." jawab Niko sambil menciumi pipi putrinya.


"Cuci tangan dulu mas, Maira ayo turun. Biar papa bebersih dulu." pinta Via sambil maungambil alih Maira dari fendonhan suaminya.


Malam ini mereka makan dengan menu special Seafood karna uang belanja yang cukup dari Tiara.


"Mama.. aku mau udang lagi. " pinta gadia kecil bernama Maira itu.


Dengan sigap Via mengupasnya untuk pitrinya. Interaksi itu membuat Tiara mengulas senyumnya.


"Kamu pinter masak loh Vi, kenapa ga buka rumah makan? " Tiara mengakui masakan Via memang enak, kepiting saos padang buatan Via tak kalah dengan buatan resto.

__ADS_1


"Aku ga bisa momong Maira kalau buka rumah makan, Ra.. " kekehnya.


Niko hanya tersenyum, sebenarnya dia tau istrinya sangat berbakat masak sejak menikah. Tapi dia belum punya modal untuk medukung istrinya.


"Serius,aku dulu ga percaya pas mama bilang masakan kamu enak. Kan dulu kamu gadis sosialita. Mana pernah ke dapur. " Tiara sambil mencebik meledek pada via.


"Aku juga baru tau dia jago masak, setelah kita menikah Ra." Sambung Niko.


Via memukul bahu suaminya lembut, dia justru malu di puji suaminya itu.


"Aku emang jago masak Ra, tapi aku malas kalau di suruh bebersih dapur. " ujarnya sembari meringis.


"Ohh pantesan, selama di sini. Aku selalu liat Niko yang cuci piring. " Tiara ternganga taj percaya mendengar pengakuan Via.


Obrolan mereka terhenti sesaat karna suara seseorang mengucap salam dari luar.


Tiara mengerutkan keningnya merasa mengenal suara itu.


"Biar aku saja, kalian lanjutkan makannya. " Niko bangkit setelah sebelumnya meminum air pitih, lalu berjalan menuju pintu luar.


"Waalaikum salam, loh Bara.. " Wajah Niko terkejut tapi kemudian segera salim pada Bara.


"Aku ganggu ya malam-malam." ujar Bara sembari terkekeh.


"Enggak, kami lagi makan.Ayo bara, masuk.. " ajaknya kemudian. " Kamu pasti belum makan kan, ayo makan dulu bareng-bareng. "


"Loh, Bara kesini ga bilang-bilang." Via tersenyum lebar dengan melirik aebentar pada Tiara yang terlihat menunduk.


"Ra, salim Ra. Sama suami.. " tegur Via setelah menyalimi Bara lebih dulu.


Setengah enggan, Tiara bangun dan meraih tangan Bara untuk salim.


"Om Bara... " Kini giliran Maira yang salim di sambut Bara dengan pelukan hangat dan ciuman gemasnya.


"Makan dulu ya bang.. " Via celaan masuk ke dapur mengambil piring dan sendok.


"Ayo Ra, layani. Ambilkan makan. "


Tiara menghela nafas panjang. Mengambilkan nasi juga lauk seafood untukuk suaminya.


"Mau jangkung ga? " tawarnya dengan muka masam.


"Boleh sayang.. " Bara tersenyum hangat, seperti biasanya. Senyum yang membuat Tiara terpaku untuk sesaat. Tapi gadis itu buru-buru membuang pandangannya.


.


Perasaan Tiara mendadak tak enak, merasa tak nyaman. Dia duduk gelisah di atas kasur kamar Maira. Sedangkan bara tengah mandi. Via mengajak Maira untuk tidur di kamarnya, agar kamar anaknya bisa di pakai oleh Tiara dan Bara.

__ADS_1


"Belum tidur.? " Bara masuk sembari mengusap rambut basahnya.


Tiara mendongak sebentar, lalu menunduk lagi pura-pura memainkan hp nya. "Belum. "


Bara menyimpan handuknya da langsung duduk di sebelah istrinya.


"Gimana kabar kamu? "


"Aku-aku baik." Tiara mengangguk meyakinkan.


"Kamu udah kayak istri yang purek dari rumah."


"Apa purek? " tanya Tiara yang tidak paham bahasa itu.


Bara terkekeh lalu beranjak naik ke ranjang merebahkan tubuh penatnya. Menyetir hampir 7 jam sendirian membuat pinggangnya terasa panas.


"Ra, pijitin pinggang ku Ra, rasanya panas. " pintanya manja dengan mata setengah teepejam.


"Eh, kamu belum jawab pertanyaan ku mas Apa purek? "


"Purik adalah minggat dari rumah. " jawab Bara.


Plak.


"Aduh, apa sih Ra.Kok malah di pukul. "


"Aku ga minggat mas, enak aja kamu ni. " kesalnya.


Bara meraih tangan istrinya, menariknya kuat hingga terjeramban di sebelahnya. Lalu di dekapnya tubuh itu merapat padanya.


"Kalo ga minggat apa namanya, pergi ga pulang -pulang? " tangan Bara terus membelai pipi halus istrinya.


"Aku cuma lagi ngademin fikir aja. " Kilah Tiara menunduk berusaha lepas dari cekalan Bara. Rasanya tak sanggup melihat sorot mata suaminya itu.


"Hei,sini lihat aku.. "Bara memegang dagu istrinya agar kembali mendongak menatapnya.


"Kita pulang ya besok, kita perbaiki semuanya. Kamu mau kan? " pinta Bara penuh harap.


Tiara membeku, dengan mata terus tertuju pada kedua bola mata suaminya. Yang entah mengapa bisa membuatnya sangat nyaman dan terasa hangat. Ada kesungguhan di sana. Di mata Bara.


.


#**Maaf kan otor lambat Update. Sungguh musim sakit membuat sibuk di dunia nyata. Secara bergilir anggota keluarga otor terjangkit Omicron. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah kembali sehat.


Jaga kesehatan kalian All..


lope.

__ADS_1


L. E**


__ADS_2