Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 32


__ADS_3

Laila sudah di perbolehkan pulang sore tadi, Karna hasil pemeriksaan lebih lanjut tidak ada masalah dengan kepalanya. Saat ini Bara sedang menyuapinya makan. Tanpa di ketahui keduanya, Ammir memperhatikan keduanya dari celah pintu.


"Bang, habis makan boleh gak aku makan toppoki " Ujar gadis itu setengah memohon.


"Jangan donk, kamu kan belum sehat. Nanti kalau udah sehat. Bebas mau makan apa saja " tutur Bara yang langsung membuat Laila memajukan bibirnya.


"Loh den Ammir ngapain di sini? " tanya bi Tuti yang baru naik ke lantai atas.


"Eh, gapapa.. " Ammir buru-buru kembali masuk ke kamarnya.


Laila dan Bara mengerutkan keningnya saat mendengar interaksi di luar, lalu sama-sama tertawa tanpa suara. Tak lama keduanya saling tos bersamaan bi Tuti yang mengetuk pintu dan masuk.


"Den, maaf. Ada non Naina di depan.. " Ujar bi Tuti.


"Suruh tunggu aja bi, 5 menit lagi saya turun.. " ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari makanan yang akan di suapkan ke Laila.


"Bang " di tolaknya suapan dari Bara. " Biar aku makan sendiri, udah abang temuin mbak Naina aja"


"Kamu yakin bisa.. ?" Bara ragu saat melihat keadaan adiknya.


" Bisa Bang, udah nanti aku minta tolong bi Tuti kalau ada apa-apa.. " ucap Laila meyakinkan.


Bara mengangguk lalu beranjak bangun untuk turun menemui Naina.


Tiba di tangga tengah, Bara berhenti sebentar saat melihat kekasihnya itu tengah ber foto-foto memakai ponselnya. Di helanya nafas panhang agar tidak menyesakkan dadanya.


"Ekhem.. "


Deheman Bara membuat Naina terkejut hingga ponsel miliknya lepas dari genggaman.


"Aduhhh... " segera di pungutnya ponselnya dan menyimpannya.


"Kamu ngapain kesini? " tanya Bara dengan tatapan lekat pada Naina.

__ADS_1


"Kamu kenapa ga mau angkat telpon ku sayang? " tanya Naina balik. Gadis itu berdiri untuk mendekati Bara.


Bara membuang pandangannya ke arah lain, hatinya masih kesal mengingat perselisihan mereka kemarin.


"Maaf ya, aku ga tau kalau adikmu ternyata terluka cukup parah. Oh iya, di mana dia. Aku ingin menjenguknya "


"Dia ada di kamarnya "


"Di atas? " tanya Naina, dan Bara mengangguk.


"Ayo aku anterin " Begitulah Bara mudah luluh saat kata maaf sudah di ucap oleh Naina. Keduanya berjalan beriring menuju kamar Laila.


"Eh, Den.." bi Tuti terkejut saat melihat Bara kembali ke ruang atas .


"Naina ingin menjenguk Laila" terang Bara


" Oh, mari silahkan Non, Saya ke bawah dulu den, Non Laila baru selesai makannya.. "pamit bi Tuti yang di angguki Bara.


"Hai Laila... " Sapa Naina ramah.


"Hai mbak.. " Balas gadis itu dengan senyumnya.


Naina mendekat ke ranjang " gimana udah baikan? " tanyanya penuh perhatian .


"Udah mbak, Alhamdulillah.. " jawab Laila sambil menegakkan duduknya.


"Kalian ngobrol dulu, aku ke bawah ambil minum.." ucap Bara setelah melihat interaksi keduanya.


Sepeninggal Bara, Naina duduk di sisi ranjang.


"Kok bisa sih jatuh dari tangga.. ?"


"Iya, aku ga hati-hati mbak jadi terpeleset " Lailana tersenyum kaku. Dia tidak begitu akrab pada Naina, meskipun hubungan wanita itu dengan abangnya sudah terjalin lama.

__ADS_1


"Kamu udah gede, harusnya bisa hati-hati. Biar abang mu ga khawatir. Maksut mbak, abang mu kan ga bisa selalu jagain kamu. Dia juga punya kesibukan sendiri.. Kamu juga udah SMP, udah ga pantes terlalu manja-manja gitu " tutur Naina sembari tertawa halus.


Wajah Laila langsung pias, hati gadis itu merasa tersentil akan ucapan Naina " iya mbak " jawabnya sekenanya.


"Harus donk, apalagi kalau abang mu udah nikah sama mbak. ga bisa slalu datang tiap kamu butuh. Nanti mbak gimana? "


"Kamu paham kan maksut mbak..? " Naina mengusap lembut lengan Laila dengan senyum penuh maksutnya.


Gadis itu mengangguk lemah dengan senyum kakunya. Ada rasa tak terima di hatinya tapi dia merasa segan menjawab semua perkataan Naina.


"Sayang, ini minuman kamu " Bara datang membawakan jus jeruk. Naina menoleh ke arah Bara.


"Bawa ke bawah aja sayang, aku juga mau ke bawah biar Laila istirahat.. "


"Oh ok.. " Bara kembali keluar.


Sedang Naina kembali menatap Laila, " cepat sembuh ya.." ucapnya sebelum beranjak dari kamar Laila.


Sepergian Naina, Laila merebahkan tubuhnya miring. Cukup lama dia berfikir. Selama ini memang dia merasa sangat tergantung pada orang-orang sekitarnya. Mulai dari papanya, mama dan kedua abangnya.


Semua ucapan Naina ada benarnya , dia memang merasa jadi gadis sangat manja.


"Mama... Papa... " bisiknya dengan mata mulai mengembun. Hatinya sedih, abang Bara nya sudah punya batasan karna ada kekasih apa lagi jika sudah menikah. Sedang Ammir, saudaranya itu memang terang-terangan merasa di repoti olehnya.


Laila merasa hanya mama papanya lah yang tulus menyayanginya tanpa syarat. Dia merindukan mama papanya, hingga tak terasa menangis.


Ammir perlahan membuka pintu kamar adiknya, di lihatnya adiknya sesenggukan menangis . Dia perlahan mendekat hingga kesisi ranjang. Di usapnya kepala Laila yang tidur menyamping.


"Maaf, Abang ga sengaja kemarin. Pasti sakit ya.. ?" ujar Ammir dengan tangan tetap mengusap kepala adiknya. Laila segera mengelap air matanya dengan piyama miliknya saat menyadari kedatangan abangnya.


Ammir mengira gadis itu menangis karna menahan sakit.


"Maaf ya, Abang ga akan lagi bercanda kayak gitu. Abang ga mau lagi liat kamu kenapa-kenapa karna keteledoran abang.. " tambah Ammir dengan perasaan penuh sesalnya.

__ADS_1


__ADS_2