
"Kamu kenal lelaki itu. . ?" tanya Dion saat keduanya sudah duduk di mobil menuju pulang.
"Eh, iya kak.. " Jawab Tiara gelagapan.
"Pantesan kamu nolongin adiknya.. " Dion mulai melajukan mobilnya sambil sesekali menoleh menatap Tiara.
"Aku kenal hanya sebatas kerja kak, dia salah satu rekan bisnis yang baru gabung di perusahaan. Dan aku ga tau kalau itu adiknya, aku hanya sedih saat melihat gadis itu hampir menangis, aku ingat saat dulu hidup ku belum begini. Mau beli apa-apa mesti nabung dulu, lebih ngutamain isi perut.. " Kenang Tiara saat hidupnya susah dulu. Hingga menghabiskan masa ramajanya hanya dengan kerja.
Dion mengusap sayang kepala Tiara. "Udah jangan di ingat yang sedih-sedih. Kakak ga punya coklat.. "
Tiara langsung mendelik sebal, sedang Dion tertawa terbahak-bahak.
.
Keesokannya, dengan menenteng tas milinya. Tiara berjalan menuju lobby kantor.
"Hai Ra. . " Sapa seorang wanita yang tak lain adalah Imelda. Kekasih Dion.
"Hai mbak Imel. " Tiara membalas lambaian tangan Tiara.
"Kamu mau pulang? " wanita cantik itu melangkah mendekati Tiara denhan senyum anggunnya.
"Iya mbak, udah sore. "
"Ga bareng kita aja, Abang bentar lagi turun kok kayaknya.. " wanita itu melihat latar ponselnya.
"Nih, kata dia dah masuk lift."
Baru Tiara akan menjawab, tapi seseorang lebih dulu menyapanya dari pintu luar.
"Tiaraa.. !"
Keduanya langsung menoleh, Tiara terkejut tak teekecuali Alex yang juga ikut terkejut melihat Imelda di sana.
"Alexx.."
"Kamu kenal dia Ra. .?" tanya Imelda sambil menatap keduanya.
"Iya mbak, dia pacar aku Alex. Alex kenalin ini mbak Imelda. pacarnya kak Dion.. " Tiara memperkenalkan keduanya dengan senyum mengembang, hatinya merasa senang karna di jemput oleh Alex.
Berbanding terbalik dengan Imelda dan Alex yang tampak canggung. Tapi alex berinisiatif mengulurkan tangannya lebih dulu .
"Hai.. " sapanya.
__ADS_1
"Hai juga.. " Imelda membalas uluran tangan itu dan cepat-cepat menariknya kembali.
"Kalian kenapa, kok canggung gitu. ?" tanya Tiara saat melihat interaksi keduanya.
"Ah engak, ayo sayang. Aku udah nungguin kamu dari tadi." ujar alex sambil meraih tangan Tiara dan menggandengnya.
"Emm ya udah aku dukuan ya kak Imel.. daaa... " Tiara melambaikan tanganya oada Imelda yang di balas oleh wanita itu dengan senyum kakunya.
"Kamu kenal kak Imelda.. ?" Tanya Tiara saat keduanya sudah sampai parkiran.
"Eh. teman lama. maksut ku teman SMA sayang." Jawab Alex sambil membukakan pintu mobil guna mempermudah kekasihnya masuk.
"Kamu ga bilang tadi saat kenalan, aku liat kalian canggung banget.. " terang Tiara setelah Alex masuk ke mobil.
Alex menoleh menatap kekasihnya.
"Aku tadi rada lupa sayang, kayak ga pasti gitu.. "
Tiara hanya mengangguk lalu kembali menatap Alex.
"Kamu kemana dari kemarin ga da kabarnya.. ?"
"Aku sengaja ga ngabarin kamu, aku lagi mikir caranya biar kita bisa secepatnya menikah. Aku juga sedikit terpuruk karna papa menentang hubungan kita.. "
"Jadi papa ga ngrestuin kita.. ?" Tiara menatap sendu pada Alex.
"Beneran.. ??" tanya Tiara yang meragu.
"Bener donk, kamu mau kan.. ?" Alex menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.
Tiara mengangguk dan senyum lebar langsung membias wajah Alex. Lelaki itu langsung mulai menjalankan mobilnya keluar dari kawasan parkir.
Tiara merasa sedikit lega, karna ada kesungguhan dari niat Alex. Meskipun fikirannya juga meragu karna tidak ada restu dari papanya Alex.
Keduanya memasuki kawasan Elit sebuah pusat perbelanjaan. Dengan gandengan tangan dan saling bersenda gurau jeduanya memilih masuk di toko perhiasan terkenal.
"Kamu mau cincin yang model apa.. ?" Tanya Alex lembut.
Tiara menatap jejeran cincin di depannya yang tampak mempesona.
"Ini stok terbaik kami di sini Nona. Dan juga terbaru. Kami hanya mendesain beberapa buah, agar terlihat tidak begitu pasaran." Terang penjual Toko.
Tiara mengangguk, dia tahu toko ini sangat Exclusif karna toko ini hanya membuat perhiasan Limeted Edition. Bukankah dia bekerja di bagian pemasaran. Dan toko ini adalah salah satu toko yamg mengambil bahan dari perusahaan tambang miliknya.
__ADS_1
"Aku mau ini aja Lex. ." tunjuknya pada cincin sederhana dan tampak elegan.
"Coba dulu ya.. " Alex mengangguk dan petugas penjual langsung mengambilkannya guna memasangkan di jari manis Tiara.
Tiara tersenyum lebar saat cincin itu bertengger indah di jari manisnya.
"Pas Lex. coba yang punya mu "
Gadis itu membantu Alex memasukkan di jarinya.
"Wah tampak pas dan sesuai untuk kalian.. " puji si penjual.
Keduanya saling merona. Dan melepas cincinnya masing-masing.
"Kita ambil yang ini mbak.. tolong bungkuskan.. " ujar Alex.
"Baik tuan" pelayan toko itu dengan cekatan membungkusnya sedang Alex langsung menyerahkan kartu miliknya.
Sepasang cincin sudah di tangan, keduanya tersenyum bahagia saat keluar toko menuju toko lainnya guna mencari barang untuk acara pertunangan.
Di hujung eskalator, Bara menatap Tiara dan seorang lelaki yang baru keluar dari toko perhiasan. Tiara tampak menggelayut manja, sedang sang lelaki memandang Tiara penuh cinta. Keduanya terlihat bahagia karna senyum merekah menghias wajah mereka.
"Liatin apa sih sayang..? " tanya sang gadis di sebelahnya yang tak lain adalah Naina. Baina juga mengikuti arah pandang Bara.
"Eh, enggak sayang. Tadi kayak temenku, tapi ternyata bukan.. " Bara merangkul Naina menuju arah lift.
"Filmnya jam berapa mulainya.. ?" tanya Bara lagi.
"15 menit lagi, tapi habis nonton aku maunya kamu nemenin aku belanja dulu ya.. " pinta Naina setengah merengek.
"Tiap minggu belanja, kamu ga sayang duitnya ya.. " komentar Bara. Kekasihnya ini sangat gila berbelanja. Tak heran tampilannya memang bak sosialita.
"Sayang sih, coba sekali-kali pakai uangmu. Aku pasti tambah seneng.. " Ucap Naina ringan sambil tertawa.
Bara mendengus kesal. Bukan sekali 2 kali dia membayarkan belanjaan Naina. Tapi hobby gadis itu yang begitu tinggi membuatnya menggeleng pelan.
Naina sangat boros dengan uang, bahkan jatah bulanan dari ayahnya yang mencapai ratusan juta di tambah 2 kartu kredit tidak membuat gadis itu merasa cukup.
"Kamu harus berubah Sayang, aku bukanya pelit. Tapi aku ga suka perempuan boros." Ujar Bara kembali mengingatkan saat keduanya sudah memasuki lift.
"Iya-iya. Aku kan udah bilang kalau udah nikah aku ga akan kayak gini. Biarkan aku menikmati masa muda ku dengan hobby ku ini sayang.. "
Bara tau, Naina selalu menjanjikan akan berubah setelah mereka menikah. Tapi entah mengapa hatinya mulai meragu sekarang. Apalagi mamanya tampak tidak begitu menyukai Naina, meski tidak secara langsung mengatakannya. Karna di anggap terlalu ganjen.
__ADS_1
Kalau kata papa Arlan " menel "
.