
Bara kembali ke rumah tepat pukul 10 malam, guyuran air hujan serta kilat petir seolsh bertalu-talu. Setelah mematikan mobilnya, dia merasa gamang skan keluar. Bagaimana dia menyikapi perpisahan ini. Perpisahan yang di minta Tiara.
Lama dia tercenung hingga tiba-tiba sorot lampu dari pintu yang terbuka membuatnya tersadar. Ibu mertuanya melongok menatap mobilnya. Merasa tak enak hati, Bara bergegas turun.
"Belum tidur mah..? " tanya Bara sembari menyalami mertuanya.
"Belum, kamu kenapa ga langsung masuk. Mamah denger mobil kamu tapi kamu ga langsung masuk rumah dari tadi. " Mariana menatap menantunya yang berwajah muram itu. "Ayo masuk, di luar dingin.." Ajaknya.
Bara menurut, mengikuti langkah mertuanya sembari mengunci pintu depan.
"Sudah makan nak? " tanya Mariana sambil mengambilkan air hangat untuk menantunya.
"Sudah ma.." Bara hanya memandangi ibu mertuanya, dapat dia lihat matanya bengkak dan sembab.
"Mama ga perlu repot-repot, Bara bisa mengambil minum sendiri " ujar Bara saat melihat mertuanya datang membawa minum untuknya.
Mariana tersenyum, senyum pertama untuk hari ini. "Mama ga repot, kamu ga usah sungkan. Ayo di minum dulu mumpung anget. "
Bara mengambil gelas bening itu dan meneguknya hingga separo, rasanya memang hangat di tenggorokan dan lambungnya. Seandainya yang menyiapkan minum adalah Tiara.
__ADS_1
"Mama minta maaf akan sikap Tiara selama ini sama kamu. " ucap Mariana, membuyarkan andaian Bara. Dia menatap wajah mertuanya yang menunduk menahan tangis.
"Mama tau, dia tidak memperlakukan mu dengan baik selama ini. Ini salah mama, harusnya mama mengerti yang dia tidak akan mudah menerima ini semua."
"Ma, jangan menyalahkan diri sendiri. Di sini Bara lah yang kurang berusaha meluluhkan hati Tiara."
"Enggak, harusnya benar mama ga segarusnya menyeret kamu dalam konflik kekuarga mama. Saat itu mama hanya memikirkan nama baik keluarga tanpa memikirkan perasaan Tiara. " Mariana mengusap air matanya yang berhasil lolos.
Bara beranjak, duduk di samping mertuanya. Mengusap lembut lengan Mariana untuk menenangkan.
"Mama tidak bersalah, mama ga perlu minta maaf. Bara menerima tawaran mama saat itu juga melibatkan Allah. Berusaha mencari jawaban di sepertiga malam. Saat itu Bara merasa mantap dan yakin menerima Tiara. Tapi jika akhirnya begini, mungkin hanya sampai sini sajalah jodoh Bara dan Tiara Ma." Walau berusaha berlapang dada, nyatanya dada Bara terasa sesak. Lebih sesak di banding rasa kandasnya hubungan dengan Naina dulu.
"Mama yakin kalian akan kembali bersama. Dia hanya sedang buta akan rasa cintanya."
Bara tersenyum, entah itu hanyalah kata-kata mertuanya untuk menenangkannya atau apa. Rasanya dia juga ingin mengaminkan. Dia yakin istrinya wanita yang baik, akan tau mana arah yang akan dia ambil nanatinya.
"Semoga saja ma.. "
"Dia tidak pernah pacaran Bara, Alex lah lelaki pertama yang dekat dengannya.Mama yakin dia akan kembali menjadi Tiara yang ceria dan lembut seperti dulu. Dia hanya sedang tersesat akan butanya cintanya pada Alex. Lambat laun dia akan sadar, kamu lah yang mengerti dia. Mama yakin."
__ADS_1
"Jadi maukah kamu berjanji untuk memberi kesempatan padanya sekali lagi , jika nantinya dia kembali? " pinta Mariana penuh harap, wajah yang sama saat dia datang menemui keluarga Bara untuk melanjutkan pernikahan putrinya.
.
Bara menatap nanar cincin pernikahannya yang tergeletak di pojok kamar dekat meja rias. Di pungutnya benda itu dengan perasaan hancur .
Dia memilih menyimpannya di atas meja rias Tiara, lalu beranjak keluar menenteng tas miliknya. Dia memilih menginap di apartemennya untuk menenangkan diri. Ibu mertuanya juga orang tuanya tidak keberatan, mereka sepenuhnya memberikan dukungan dan do'a terbaik untuk langkah anak-anak mereka. Mereka tidak akan ikut campur lagi, hanya akan memberikan pendapat jika di minta. Mereka merasa anak-anaknya sudah cukup dewasa memilih keputusan yang tepat.
Berkali-kali Bara mencoba menghubungi istrinya. Tapi Tiara tak mau mengangkat telfonnya.
"Kamu di mana ? jangan lupa makan" begitu tulisnya beberapa hari ini. Meski tidak sekalipun Tiara membalasnya. Hingga seminggu berlalu tidak ada kabar dari Tiara.
Tepat pukul 8 pagi, Bara yang baru saja selesai berlari di treadmill mengerutkan keningnya saat mendengar bunyi bel apartemennya. Dia merasa tidak punya tamu hari ini
Di usapnya keringatnya dengan handuk dan bergegas membuka pintu.
ceklek.
"Kamu? " wajah Bara terkejut akan sosok yang berdiri di depan pintu apartemennya.
__ADS_1