
Setelah melihat istrinya masuk ke kamar mandi, Bara memilih langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya terasa berat hingga tak lama langsung tertidur. Beberapa malam ini dia kurang tidur karna memikirkan semuanya. Pernikahan yang serba tiba-tiba .
Entah berapa lama dia terlelap hingga sayup-sayup terdengar obrolan di sofa. Perlahan dia membuka matanya.
"Mama... " dia bangun mengucek matanya untuk memastikan. Terlihat mamanya sedang duduk di sofa mengobrol dengan Tiara.
"Bangun Bara, mandi dan sholat. Setelah itu makan " ujar mamanya lalu beralih menatap Tiara.
"Dia memang sudah tua, tapi lelaki tetap menjadi bocah bagi sebagian wanita karna sikap manjanya "
Tiara hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mamahnya Bara. Mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya hingga rasa canggung menjadi pemisah obrolan mereka.
"Oh iya Tiara, nanti tgl 6 adalah resepsi dari pihak kami. Apa Bara sudah mengatakanya pada mu sayang ? " tanya Izza lembut. Dia berusaha mendekatkan diri dengan menantunya.
Tiara menggeleng pelan, " Belum Tan, eh maksutnya mama. ."
Izza tersenyum, memaklumi kekakuan Tiara padanya. " Jika akad dan resepsimu menggunakan adat melayu dan padang, esok saat resepsi di pihak kami akan menggunakan adat jawa sesuai permintaan keluarga papa Arlan. "
"Keluarga papa Arlan orang jawa maksutnya Ma..? " tanya Tiara yang sebelumnya tidak tau asal muasal kluarga dokter terkenal itu.
"Iya, jawa.. tepatnya semarang " Izza mengangguk mengulas senyum.
"Kalau mama..? " tanya Tiara lagi.
"Mama juga jawa tapi campuran melayu " terang Izza yang di angguki Tiara.
Mereka masih terus mengobrol sampai tidak sadar kalau Bara sudah selesai mandi dan sholat. Ketukan pintu membuat Tiara beranjak bangun akan membukanya.
"Biar aku aja.. " Bara merapikan rambutnya dan menuju pintu. Melihat itu pun Tiara memilih kembali duduk.
ceklek
"Abang.....!! " Gadis kecil berkerudung dengan memakai baju gaun warna putih tersenyum riang dan menerobos masuk. Di belakangnya pemuda umur 17 tahun mengikutinya dengan manyun-manyun.
"Lailana, kenapa ga ngucap salam? " tegur Izza pada gadis bungsunya.
"Ohh iya, aku lupa. Assalamualaikum.. " gadis itu menyalimi abangnya juga mamahnya lalu berpindah pada Tiara.
"Kakak yang nolongin aku waktu itu kan ? masih inget aku ga? " ucapnya dengan mengulurkan tangannya untuk salim dan tersenyum lebar.
"Tentu, kamu yang nangis di depan gerai es krim kan? " Tiara membalas uluran tangan itu.
"Aku Lailana, kakak namanya Tiara kan? " kembali gadis itu bicara yang di jawab Tiara dengan mengulas senyumnya dan mengangguk. Meski tadi sempat di sebutkan satu persatu anggota keluarga Bara, tapi Tiara tak begitu menyimak.
"Minggir gantian " pemuda itu mendorong adiknya menepi lalu segera salim pada Tiara . " Aku Ammir kak, anak tengah."
"Abang, apa-apaan sih.. " gerutu Lailana sebal.
"Udah-udah.. malu ah, ada kakak di sini.. " Izza menenangkan putri bungsunya yang kesal akan kelakuan abangnya.
"Abang tu ma, aku kan masih pengen ngobrol kenalan sama kakak Tiara. " adunya. Ammir hanya memutar bola matanya, malas melihat tingkah adiknya itu.
Interaksi itu nyatanya bisa membuat Tiara sedikit terhibur. Hingga senyum manis terbit di bibirnya. Bara yang sedari tadi hanya diam memperhatikan ikut menghangat, dia optimis bisa meluluhkan hati Tiara lebih mudah lagi.
Malamnya acara di ballroom itu tampak meriah karna resepsi Tiara. Kalangan atas pun turut hadir karna menyangkut pemilik saham tambang perusahaan itu.
Dengan mengenakan pakaian adat berwarna merah dan kombinasi gold. Tiara tampak cantik mempesona. Suntiang yang bertengger di kepalanya menambah ke anggunan pengantin ala padang. Bara tak kalah mempesona dengan pakaian senada, keduanya tampak serasi.
Sayangnya senyum keterpaksaan membuat rona itu sedikit berbeda. Bara memakluminya, apa lagi Tiara banyak melamun di sepanjang acara.
__ADS_1
"Mama mohon.. untuk kali ini, mengertilah sayang. Semua mama lakukan demi nama baik kamu dan keluarga kita. Bersikaplah layaknya pengantin pada umumnya."
Penuturan Mariana di ruang ganti tadi sebelum acara resepsi terus terngiang di telinga Tiara. Hingga lamunanya buyar saat sekelompok muda mudi naik ke atas panggung.
"Gila lo..... ga nyangka gue.. !" Seorang pemuda memeluk Bara dan menepuk bahunya di iringi tawa.
"Iya, diem-diem bae lo. Tau-tau nikah.. mana sama Tiara.. adoy... kan gue yang duluan suka.. !" teriak yang satunya.
Tiara meringis saat mereka semua menatapnya, sedikit minder. Itu adalah teman-teman Bara di SMA. Ronal, Fatih, Gibran, Fatoni dan yang lainnya.
Tanpa di nyana, tangan Bara terulur memegang pinggangnya membawanya mendekat.
"Gerak cepat , keburu di kadalin sama kalian.. !" balas Bara dengan senyum lebarnya.
"aahh.. bangkee lo.. !" kesal Ronald, lalu beralih menatap Tiara. " Ahh ya ampun, kenapa kamu tambah cantik aja Ra.. ? kamu kemana aja. Setelah lulus udah ga pernah ketemu sama kita-kita. " tuturnya lembut dengan wajah menyesal.
Baru Tiara akan membuka mulutnya tapi kalah cepat dengan Bara.
"Ga usah di ladeni sayang.. " sergah Bara.
Tiara mendongak menatap wajah Bara, seakan tau akan ke khilafannya Bara langsung nyengir mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Ehh... buruan donk ahh, gantian... !" gerutu tamu yang lainnya di belakang.
Bara dan Tiara kembali fokus ke arah teman-temannya.
"Iya-iya, selamat ya.. karna kita ga di undang, jadi kita langsung pulang aja. Nanti di resepsi lo. Kita tungguin sampe acara selesai. " ucap Gibran setelahnya memeluk Bara dan beralih menyalami Tiara.
"Maaf ya, aku ga tau alamat kalian. Jadi ga ke undang " ucap Tiara tidak enak hati.
"Eh, bukan maksutnya gitu Tiara. Jangan di ambil hati ucapan Gibran. Udah yuk... " Ronald mengomando rombongannya untuk turun.
"Iya.. " jawab Bara dan Tiara bersamaan.
"Termasuk juga sabar kalau njebol gawangnya bro. pelan-pelan.. " tambah Fatih sebelum berlari turun. Membuat kedua pengantin merona dan salah tingkah.
Sisanya malam itu di habiskan oleh tamu orang-orang terpandang di kota. Bara tidak menyangka, gadis yang dulu sempat di pandang remeh. Nyatanya kini kaya lebih kaya dari keluarganya. Dia juga baru tahu yang Tiara adalah salah satu pemilik saham di perusahaan tambang itu.
Ada rasa minder dalam dirinya, merasa mereka tidak sesuai. Bahkan mulai timbul di hatinya, apa dia akan mampu menafkahi Tiara. Sedang penghasilannya dari toko dan restorannya, mungkin hanya setengah dari pendapatan Tiara di perusahaan.
"Selamat ibu Mutia, saya tidak menyangka yang ibu adalah pemilik saham 30 persen itu.. " seorang paruh baya tersenyum lebar menyalami Bara dan Tiara. Di belakangnya berdiri seorang wanita yang mungkin istrinya, lalu lelaki yang cukup tampan yang kemungkinan anaknya.
"Ahh iya, terima kasih pak Wibi atas kedatanganya.. " Tiara mengenal lelaki itu saat rapat dulu.
" Ini istri saya bu, Maya. Barang kali kalian bisa berbincang-bincang atau arisan bersama nantinya. " ujarnya memperkenalkan. Wanita itu menyapa anggun dam tersenyum.
"Dan ink Putra saya satu-satunya, masih lajang. Namanya Dirga." tuturnya.
"Selamat malam bu Mutia dan bapak.. selamat atas pernikahannya.. " ucap lelaki tampan itu sambil menyalami.
"Terima kasih.. " jawab Tiara dan Bara hampir bersamaan.
"Seandainya saja saya tau ibu Mutia ini pemilik saham 30 persen itu, saya ga ngalarang anak saya Dirga buat menjalin pertemanan dengan ibu. Mana tau cocok kan.. haha. "
Bara mengeram kesal mendengar ucapan lelaki itu, apa itu hanya candaan.
"Hehe... tapi maaf, dia sudah menilah sekarang . " jawab Bara setengah kesal.
"Ah iya, maaf pak bukan bermaksut merebut pak, santai. Saya dengar anda anak dokter terkenal di kota ya. Saya hanya bingung, soalnya nama pengantin pria di undangan lain dengan nama pengantinnya sekarang ." ujarnya blak-blak'an.
__ADS_1
Seketika baik Tiara dan Bara saling bungkam. Dari sekian banyak tamu yang datang baru lelaki ini yang mengatakan kelainan nama mempelai.
"Pa, mungkin kesalahan cetak " ucap anaknya Dirga.
"Ahh kalau kesalahan ga akan sampe semua undangan.. " Lelaki itu terus menyiram minyak. Membuat kedua pengantin menyuram.
"Tapi kalian bukan pernikahan kontrak kan.. ?" bisiknya lagi.
Bara yang memanas rasanya ingin menerjang lelaki itu saat itu juga. Tapi genggaman tangan Tiara di tangannya seolah sedikit menahannya.
"Pak, kesalahan tentang undangan itu memang fatal. Tapi pernikahan kami bukan main-main. Semua sah di mata hukum dan agama. " ujar Bara berapi-api.
"Ahaha... saya tau pak. Maaf jika ucapan saya menyinggung. " ucap lelaki itu santai.
"Rasanya kami turun dulu, tidak enak dengan tamu di belakang. Selamat ya ibu Mutia dan bapak. Satu pesan saya jika Ibu Mutia mau mengganti nama suami ibu, anak lelaki saya siap di jadikan serep'an bu ." tuturnya sebelum berlalu turun.
Bara rasanya ingin meledak saat itu juga. Wajahnya sampai merah padam menahan marah. Sedang Tiara hanya diam dan tidak perduli.
Pesta usai pukul 10 lebih, dengan lelah dan letih kedua pengantin menyeret langkah menuju kamar mereka. Tidak ada percakapan antara keduanya. Tiara lebih dulu mandi, lalu bergantian Bara.
Bara juga tak banyak bicara, suasana hatinya sedang tidak nyaman karna ucapan lelaki di pesta itu.
"Ra, aku keluar dulu... " pamitnya pada Tiara sambil memasukan dompet di saku celananya.
Gadis itu hanya menoleh sebentar lalu merebahkan tubunya di ranjang, tidak perduli bahkan menjawab ucapan Bara.
Bara menatap nanar seseorang yang merebah di ranjang. Dengan pakaian tidur satin berwarna hitam, Tiara amat mempesona dan menggoda imannya. Tapi sikap cuek Tiara membuatnya tidak berani mendekat.
Merasa di abaikan, Bara langsung keluar tanpa berpamitan lagi.
Sedari tadi ponselnya terus berdering karna Naina menghubunginya meminta bertemu.
Secara mengendap-endap Bara berusaha memutar arah agar tidak ketahuan keluarganya maupun keluarga Tiara yang masih di hotel itu.
"Nak Bara, mau kemana.. ?" teguran mamahnya Tiara yang tak lain mertuanya menghentikan langkahnya.
Bara berbalik, "Eh, mau ada urusan tan, Ma.. " ucapnya tergagap.
Mariana mengerutkan keningnya heran, dia baru akan naik menuju kamarnya saat melihat siluit menantunya keluar dari lift sambil celingukan.
"Urusan apa, ini kan sudah malam."
Bara membeku, tiba-tiba tidak bisa berfikir mencari alasan yang tepat.
"Apa Tiara memintamu keluar kamar.. ?" tebak Mariana khawatir.
"Ah, tidak ma." jawab Bara, tidak menyangka mertuanya punya penikiran seperti itu.
"Syukurlah.. " ujar Mariana lega. " Ayo kembali ke kamar, mama antarkan. Ini malam pengantin kalian. Mana ada pengantin keluar di malam pertamanya. " Mariana menggiring menatunya kembali memasuki lift, yang membuat Bara mengangguk manut.
Mariana benar-benar mengantar hingga depan kamar dan memastikan Bara masuk. Setelahnya baru pergi. Bara yang sudah masuk ke kamar memanyunkan bibirnya lalu membuka pakaiannya .
Pandangannya melirik pada sosok di atas ranjang yang tidur lelap terlentang. Perlahan dia mendekat dan naik ke ranjang setelah melepas celana panjangnya, menyisakan kaos dalam dan boxer miliknya.
Matanya menelisik wajah manis istrinya, dadanya berdebar-depar untuk pertama kali berdekatan dengan wanita apa lagi seranjang .
Jika saja pernikahannya normal, pasti dia akan merengkuh dan memakan habis Tiara malam ini juga. Tapi jika dia memaksakan, apa dia tidak kejam .
Bara hanya bisa menelan ludah kasar dan membaringkan tubunya di dekat Tiara. Sambil berusaha memejamkan mata menaham biraihiinya. Aroma rambut Tiara membuatnya memiringkan tubunhya menghadap Tiara. Dan tak lama terlelap sendiri karna kantuk dan lelah.
__ADS_1