Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 57


__ADS_3

Meninggalkan restoran miliknya, Bara akur saat Tiara mengajaknya menuju sebuah restoran tepi laut di ujung kota. Jarak hampir satu jam perjalanan terbayar dengan hamparan pasir putih dan ombak menerpa dermaga. Angin laut yang cukup kencang dan terik matahari tak menyurutkan keduanya untuk terus berjalan menuju restoran yang di tuju.


"Aku baru tau tempat ini.. " ujar Bara. Matanya terus memindai tempat yang ternyata cukup indah lalu dengan sigap menarik sebuah kursi untuk Tiara duduk.


" Makasih.. " ucap Tiara setelah duduk dengan nyaman.


"Sama-sama.. '' Bara pun ikut duduk di depannya persis.


Tak lama seorang pelayan datang dan mereka memesan menu seafood juga air kelapa muda.


"Aku dulu sering kesini, jika libur kuliah atau libur kerja. " Tiara menatap hamparan pasir di birunya laut yang berkilau. Semua yang ada di tempat ini belum ada perubahan.


"Aku juga pernah menginap di resort itu." tunjuknya pada resort berbentuk gubuk-gubuk di atas bukit.


"Hari itu hujan deras, kita ga bisa pulang. Jadinya nginep di sana. " terangnya dengan senyum manis yang mengembang. Bara mengikuti arah pandang istrinya, lalu beralih lagi menatap wajah yang terlihat amat manis jika sedang tersenyum.


"Dengan siapa.. ?"


"Dengan Alex." jawab Tiara cepat. Bara merutuki kebodohannya, menyesal menanyakan hal itu.


"Ada banyak kenangan bersama dia di sini, di sini juga akan di gelar tempat resepsi pihak dia. Tapi semua itu hanya angan." tuturnya dengan senyum kecut dan beralih memandang suaminya.


"Kenapa kamu memilih menerima permintaan mama.. ?"


Bara tidak siap untuk pertanyaan itu, dia sendiri tidak tau, kenapa dia mau.


"Aku juga tidak punya jawaban untuk itu."


"Oh ya, ada banyak wanita cantik di sekeliling mu. Bagaimana mungkin kamu dengan mudah menerima menggantikan Alex, sedangkan kita tidak saling mengenal dengan baik." cerca Tiara.


" Kita makan dulu ra, kamu belum makan kan? " Bara mengalihkan pembicaraan saat pelayan datang mengantar makanan mereka. Menu itu sangat nikmat, cocok di lidah keduanya. Tapi selera makan terganggu karna apa yang mereka rasakan.


"Mari kita akhiri semuanya. " ucap Tiara setelah keduanya diam dalam keheningan setelah selesai makan.


Bara langsung menatap lekat ke arah Tiara,seolah tak percaya pada apa yang di katakan istrinya.


"Mari kita akhiri semuanya, aku tidak mau lebih jauh melibat kan mu. Aku berterima kasih karna kamu mau membantu keluargaku agar tak mendapat malu. Tapi sungguh, aku tersiksa dengan hubungan ini. Kita 2 orang asing tiba-tiba harus bersama oleh keadaan." Tiara mengatakannya dengan lugas, semua apa yang dia rasakan, dan Bara hanya mampu diam membisu.


"Minggu depan aku akan ke medan menemui Alex, aku harap kamu bisa mulai memikirkannya mulai dari sekarang. " tambahnya lagi.


"Semudah itu..? " Bara menggeleng pelan, ada yang nyeri di dasar hatinya.

__ADS_1


Tiara tertawa sumbang, " Kenapa harus di bikin sulit, kan bagimu itu juga mudah. Sebagaimana dulu kamu dengan mudah menerima tawaran mama, Mas".


"Aku kira kita bisa saking belajar dan menerima Ra, bagaimapun kita sekarang suami istri dan pernikahan bukan main-main." Helaan nafas panjang terasa tercekat di tenggorokan Bara.


Tiara membuang pandanganya ke arah laut lagi, dia tahu pernikahan bukan main-main. Tapi hatinya begitu tersiksa oleh pernikahan yang dia jalani.


"Aku hanya berusaha jujur atas apa yang aku rasakan. Dari pada terus tersiksa oleh ke pura-puraan".


.


###


Seminggu berlalu, setelah hari itu Tiara justru lebih memberi jarak pada suaminya. Tak lebih pulang hanya untuk tidur. Dan Bara serasa merana, frustasi sendiri akan keadaan pernikahannya.


Hari minggu, istrinya sudah rapi. Dia tahu Tiara akan menemui Alex, walau tak rela tapi dia tak sampai hati melarangnya.


Tanpa di nyana, saat Tiara baru turun untuk berangkat ke bandara. Pintu depan terbuka, menampakkan Mariana yang pulang di antar Dion.


"Mama... " pekik Tiara, tudak menyangka mamanya pulang hari ini.


"Assalamualaikum, anak mama.. " Mariana tersenyum. Merentangkan tangannya.


Tiara yang awalnya terkejut segera turun dan menghambur ke arah mamanya.


Mariana mengurai pelukan anaknya, mengusap lembut kepala putri semata wayangnya.


"Mama sengaja memberi kejutan, oh iya mana suamimu.? Apa kalian akan pergi, kemu sudah cantik dan rapi sekali. " Mariana memperhatikan penampilan anaknya.


"Eh, aku-aku hanya akan jalan menemui teman, Ma." jawab Tiara serba salah.


"oh begitu." Mariana menoleh menatap keponakannya, " Dion, sarapan dulu yuk. Kamu dah sarapan sayang? " tanya Mariana pada Tiara .


"Belum ma.. "


Dion lebih dulu berjalan dan duduk di meja makan, Mariana dan Tiara berjalan saling bergandengan.


"Panggil suamimu dulu sayang, ajak sarapan bareng-bareng." ujar Mariana saat putrinya baru akan duduk.


Tiara patuh, berdiri dan naik tangga menuju kamarnya. Tanpa mengetuk karna kesal tak jadi menemui Alex. Dan sialnya Bara justru sedang memainkan ponselnya hanya dengan memakai handuk.


"aah...!! " teriak Tiara, cepat-cepat dia berpaling. Bara tak kalah terkejut, dia kira istrinya sudah pergi.

__ADS_1


"Kenapa mainan telpon kalau belum pake baju. " Kesal Tiara.


"Maaf, aku baru mandi. Ponsel ku terus berbunyi. " Bara cepat-cepat menuju ruang ganti.


Sedang Tiara menghela nafas panjang..


"Cepatlah, mama ada di bawah sama kak Dion."


"Mama sudah pulang.. ?" tanya Bara dari ruang ganti .


"Iya." jawab Tiara, dia melepas sepatu yang dia pakai dan duduk di tepi ranjang. Wajahnya kusut,sekusut hatinya.


"Kenapa mama ga ngabarin kita? " Bara kembali sambil merapikan bajunya. Mengoles minyak rambut juga menyisir asal rambutnya di depan meja rias Tiara.


Tiara hanya memperhatikannya ,rambut Bara tak serapi milik Alex. Gaya mereka jelas berbeda, Alex lebih sering rapi khas kantoran formal. Sedang Bara tampak kasual dan santai.


"Apa ada yang salah.. ?" Bara memandang pakaiannya juga wajahnya. Takut ada yang aneh dalam dirinya hingga istrinya begitu memperhatikannya sedari tadi.


"Tidak, kamu cocok dengan baju itu. " puji Tiara jujur, sembari berpaling meletakkan tasnya di meja khusus.


Bara yang mendengar menjadi senyum-senyum sendiri.


"Ayo kita turun." Ajak Bara dan Tiara mengangguk dan melangkah lemah mengikuti suaminya.


Setelah bersalaman mereka semua mengambil posisi duduk di meja makan.


"Tiara, layani suamimu, ambilkan makananya. " tegur Mariana saat anaknya hanya asik menyendok makanan di piringnya sendiri.


Tiara menatap mamanya lalu beralih pada Bara yang terlihat kikuk sedang Dion mengulum senyumnya.


"I-iya ma.. " Pertama kalinya, Tiara melayani Bara meski dengan perasaan tak menentu. Selama ini dia tak begitu mengendahkan tugasnya, dia hanya selalu mencari cara agar bisa terhindar dari suaminya.


"Kenapa hanya mengambil sedikit, mana kenyang suamimu Nak." kembali Mariana memberi instruksi.


"Ga papa ma, ini cukup kok. Nanti bisa nambah." ujar Bara saat tak enak hati melihat wajah terpaksa istrinya.


"Nak Bara, jangan ragu menegur anak mama jika dia salah . Mama tahu kamu tidak menyukai wortel. Tapi lihat, istrimu justru mengambilkan copcay wortel. " Mariana melirik ke arah anaknya.


"Sayang, apa kamu tidak tau suamimu tidak suka wortel? " pancing Mariana pada putrinya.


Seolah di adili, Tiara menggeleng pelan dan memindai wajah mereka semua lalu beralih pada suaminya yang hanya diam melihatnya.

__ADS_1


Mariana menghela nafas panjang. Dia tahu putrinya bahkan tidak tau yang Bara juga memiliki riwayat maagh. Dia semakin sedih, ternyata Bara tidak pernah di perhatikan oleh anaknya.


__ADS_2