
Sudah hampir seminggu tepatnya Tiara tidak lagi mengunjungi mama Ani . Gadis itu tidak dendam, dia hanya menjaga perasaan mamahnya. Apapun yang terjadi di masa lalu antara mamahnya dan keluarga besar. Dia tidak ingin ikut campur atau mencari pembelaan. Karna punca dari segala masalah yaitu Neneknya, pun beliau sudah tidak ada di dunia ini .
Saat tengah bersantai menonton Tv. Terdengar ketukan di pintu. Tiara bangkit membukakannya. Dia mengira itu adalah tantenya. Ternyata dugaanya salah, yang datang adalah mama Ani, Dion juga Dafa. Rupanya Dafa kembali, Ada beberapa kali lelaki itu menghubunginya tapi Tiara memilih mengabaikannya. Semua itu demi mamanya, demi menjaga perasaan Mariana.
"Ada apa kalian kesini.. ?"
Dion ataupun Dafa paham, mungkin Mariana sudah menceritakan segalanya. Jadi wajar jika sikap Tiara jadi berbeda sekarang pada mereka.
"Ra, boleh kita masuk.. ?" Dafa lebih dulu menjawab. " Kita, khususnya mama pengen ketemu mamah kamu.. "
Tiara menoleh kebelakang, mamanya rupanya tahu yang kluarga kakaknya sedang bertandang. Mariana menarik tangan Tiara untuk masuk dan langsung menutup pintunya. Tanpa menyapa atau menpersilahkan tamunya masuk.
Mama Ani mengusap air matanya, Dion sentiasa menggandengnya. Takut terjadi apa-apa pada mamanya. Apalagi mamahnya baru keluar dari rumah sakit.
"Ma, kita pulang dulu. Besok kita coba bicara lagi sama tante Ana.. " Bujuk Dion yang di angguki Dafa.
"Mamah harus mendapatkan maaf dari tante mu Dion, mama ga mau lagi hidup begini. menyimpan rasa bersalah di sisa hidup mama.. " Ujar Ani berurai air mata.
Dion mengusap air mata mamanya. Lelaki itu juga merangkul mamanya. Memberikan kekuatan pada orang yang telah melahirkannya.
Dion menoleh pada Dafa, dan Dafa pun paham. Mereka menngandeng tangan mamah mereka menuju mobil.
Keesokannya, pukul 8 pagi hari minggu. Mariana di kejutkan oleh datangnya beberapa kotak kue buatan toko terkenal
__ADS_1
" Pak, bapak salah alamat ya. Saya ga pesen.. " ujar Mariana pada kurir saat melihat berkotak-kotak kue Brownis coklat kesukaannya dulu.
"Saya hanya mengantarkan bu, silahkan tanda tangan. Semua sudah di bayar pemesan.. " Terang si kurir. Ragu-ragu Mariana membubuhkan tanda tangannya. Dan si kurir mengucapkan terima kasih lalu pergi.
"Banyak banget Ma, kayaknya enak... " Tiara membuka satu kotak. Kue itu tampak sangat menggoda. Gadis itu sudah akan mencomotnya, tapi Mariana langsung menepis tangannya.
"Kamu jangan makan kue ini. Bagikan saja ke orang-orang atau di buang.. " tegasnya, dia punya feeling bahwa Ani lah yang mengirim semua itu.
"Jangan di buang lah Ma, mubazir, di bagi aja. Aku bawa ke panti ujung kampung separonya ma.. " Izin gadis itu.
"Terserah kamu, yang penting kamu jangan makan.. " ujar mariana lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Keesokannya, datang satu mobil box menghantar berbagai kebutuhan pokok. Seperti beras, minyak , gula dan lainnya di rumah Mariana.
Mariana kembali menolak, tapi si sopir bersikukuh minta di terima dari pada nantinya dia di pecat. Dengan berat hati Mariana akhirnya menerimanya. Dan kembali itu semua hanya di bagikan ke tetangga dan panti jompo di dekat rumah mereka.
Puncaknya malam ini, Mereka kembali dikejutkan oleh kedatangan wanita berjas bersama lelaki berkemeja rapi.
Mereka mengaku sebagai notaris dan pengacara. Meminta Tiara menandatangani sebuah surat pengalihan atas kepemilikan ruko dan rumah juga .
Semua itu di buat atas nama Tiara, bahkan pengacara juga menjelaskan kepemilikan saham atas nama Mutiara Andini dalam perusahaan tambang emas.
Mariana yang geram mengusir mereka semua, dan keesokanya tanpa memberi tahu pada Tiara. Mariana nekat mendatangi rumah Ani.
__ADS_1
Bi Darmi menyambut kedatangan Mariana ramah, wanita itu menghantarkan Mariana menuju kamar Ani.
Di ranjang, tampak Ani di rawat dengan selang infus juga alat medis lainnya. Wajah Ani tampak pucat. Dafa sentiasa menungguinya sambil menggenggam tangannya.
"Den, ada bu Ana.. " Ujar Darmi setelah membuka pintu.
Dafa menoleh, menatap wanita berkerudung labuh itu . Lalu beralih pada mamanya yang ternyata sudah terbuka matanya saat mendengar Darmi mengucap nama Ana .
"Ana... " Ani tersenyum haru melihat kedatangan adiknya.
"Duduk An..." pintanya ramah dengan suara lemah.
"Aku ga akan lama di sini mbak, aku mohon hentikan kegilaan mu. Tidak perlu mengirim apapun ke rumah ku. Bahkan sampai dokter tulang untuk merawat kaki ku. Aku mohon hentikan semua itu mbak. " Tegas Mariana.
Ani tak terasa meneteskan air matanya, hatinya berdesir mendengar Mariana memanggilnya 'mbak '.
"Kalau kamu menolak, lalu dengan apa lagi aku memohon maaf mu An. Aku tidak mungkin bisa membangunkan papa kembali atau mama kan ? Aku sadar An, salahku sangat besar padamu. Tapi tak bisakah kau beri maaf mu untuk ku. Aku sudah kehilangan suamiku, anak kesayangan ku. Aku anggap itu karma ku. Hidup ku tak lama lagi An. Aku mohon maaf kan aku.. Bukan aku mau menghiba belas kasih mu atas penyakitku . Tapi aku tidak mau mati tanpa mendapat maaf dari mu An.. " Ujar Ani dengan derai air mata. Dafa yang mendengar penuturan mamahnya tampak ikut mengusap air matanya
sambil menggenggam lembut tangan wanita itu.
Mariana tercekat mendengar penuturan kakaknya, ada rasa terkejut dalam hatinya. Penyakit apa kah yang sedang di dera kakaknya itu. Satu-satu keluarganya yang tersisa, tapi sungguh luka di masa lalu itu masih sangat membekas di hatinya.
Tanpa menjawab, Mariana memilih melangkah pergi dari rumah itu. Dengan kaki terseok-seok. Wanita itu pulang menuju makam suaminya. Menagis tersedu-sedu di atas makam lelaki yang sangat di cintainya itu. Lelaki yang sangat mengerti dan menyayanginya di masa lalu.
__ADS_1
"Mas, aku harus bagaimana. Aku tidak berdendam mas tapi rasa sakit itu masih jelas melekat di hatiku mas. Bagaimana aku bisa membuang rasa sakit itu mas. Aku hanya manusia biasa. Huhuhu... hati ku tidak semulia diri mu mas, yang sangat mudah memaafkan orang lain yang menyakitimu... " ujarnya dengan isak tangis menyayat hati. Melihat kondisi kakaknya. Ada rasa sedih di hatinya, tapi rasa itu kembali menguap saat mengingat perihnya luka lara di hatinya.
Mariana menangis sampai tertidur, dia merasa dalam tidurnya seseorang memanggil namanya juga mengusap kepalanya dengan lembut. Saat bangun dan kesadaran kembali, Mariana terkejut karna tak mendapati siapapun di sana. Suara Adzan dzuhur bertalu-talu. Membuatnya bangkit untuk pamit dari makam suaminya itu.