
"Bara, ayo makan siang dulu. Aku sudah menyiapkannya untuk mu. Kamu jangan sampai telat makan." Laras masuk membawa sebuah nampan besar dan meletakkannya di atas meja di depan sofa ruang kerjanya.
Melihat itu Bara buru-buru bangkit untuk membantu, '' Laras, kamu kan masih sakit, kenapa ga istirahat saja. aku bisa mengambil makan sendiri."
Laras tersenyum lebar, baginya tak masalah menyiapkan makn siang untuk Bara. Itu sudah jadi kebiasaanya setelah mulai kerja di sini.
"Kamu akan lupa jika aku siapkan karna sibuk dengan kerjaan mu. Sydah ayo makan." Laras mengambilkan nasi juga lauk keoiting sais padang kesukaan Bara. Ada juga sayur brokoli.
"Makasih ya Ras, aku ngrepoti kamu terus. Aku memang suka lupa kalau udah sibuk. " ucapan itu tulus dari hati Bara sembari mulai menyantap makanannya.
"Kerja sih kerja, tapi jangn lupa makan." tutur Laras, dia pun ikut duduk dan menuang makanan untuknya .
"Aku lihat kamu sangat bekerja keras sekali akhir-akhir ini, bahkan bisa lembur hingga malam membuat desain juga mengurus resto. "
Bara tersenyum, menatap laras yang di anggap sahabat baiknya seperti Gibran. Laras lah yang selalu memotivasinya saat dulu begitu sakit hati berpisah dengan Naina.
"Aku ingin lebih lagi Ras, swtidaknya istriku tidak akan malu bersanding dengan ku. " Ujar Bara dan melanjutkan makannya kembali.
"Istriku seorang Director perusahaan tambang besar, awal menikah aku begitu minder. Ternyata dia waris orang kaya dan kekayaanya tidak sebanding dengan ku, walau secara materi aku mampu dan cukup untuk menghidupinya. Tapi kata papa aku harus extra kerja keras lagi agar aku tidak membuatnya malu, dan itu terbukti aku mulai tidak minder lagi padanya juga orang di luar. Aki bisa buktiin, kini toko perhiasan juga ramai. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. "
Wajah Laras langsung masam mendengar penuturan Bara, " Tapi kan beda kaya karna warisan dan kaya karna kerja keras sendiri."
"Kamu benar." Bara kembali tersenyum. " Dia juga tidak mudah melalui hidupnya selama ini Ras, dulu aku satu sekolah dengannya jadi aku tau banyak tentangnya . Dulu dia kerja sambil sekolah, parttime di mana-mana." ucaopya lagu mengenang nasib istrinya dulu yang sangat jauh jika di bandingkan sekarang.
"Maksut mu dia baru sekarang kayanya, ga sejak dulu.?" Tanya Laras yang memang tidak banyak tahu tentang istrinya Bara. karna tidak menarik baginya untuk tahu.
Bara mengangguk dengan senyumnya, menerawang jauh mengenang sosok istri yang begitu dia banggakan. Terus menceritakan semuanya tentang Tiara. Membuat Laras sudah tidak brrselera makan lagi.
Dan seseorang yang di bicarakan tampak turun dari mobilnya menuju restoran tempatnya melakukan resepsi sebulan yang lalu. Mengenakan celana jeans biru dan kaos wana hitam, kaca mata menutyp mata indahnya, rambut ikal dia ikat meninggi menambah kesan fresh padanya .
"Selamat siang mbak, selamat datang di restoran kami. " ucap pelayan penyambut.
Tiara mengangguk dan mengedarkan pandangannya, tampak seorang pemuda tampan tergopoh-gopoh menghampirinya saat menyadari kedatangannya.
"Selamat siang Nyonya, maaf pegawai ini baru jadi tidak tau siapa Nyonya. Ada yang bisa kami bantu Nya. " lelaki itu mengangguk penuh hormat pada Tiara dan menyenggol pelayan penyambut tamu tadi. " Ini istri bang Bara." bisiknya.
"Maaf kan saya Nyonya, saya tidak tau. " pelayan itu membungkuk beberapa kaki memohin maaf.
"Jangan panggil Nyonya." balas Tiara dengan kekehannya sembari membuka kaca matanya. "Panggil saja mbak, kayaknya lebih pas. Sudah ga papa, lupakan"
__ADS_1
Pelayan itu berusaha tersenyum meski harinya berdebar , berdebar bertemu istri bosnya juga berdebar karna berdiri bersisian dengan pelayan senior .
"Apa mas Bara di sini..? " tanya Tiara akhirnya .
"Ada Nya, mari saya antar. " pelayan senior sigap menunjukan jalan dan menimpin ke arah ruangan bosnya.
"Namu mu siapa..?" tanya Tiara sambil melangkah mengikuti.
"Saya Dani Nya. " jawab Dani sembari menoleh ke belakang.
"Dani yaa, tolong panggil saya mbak saja. Jangan nyonya." tegas Tiara sekali lagi.
"Baik mbak, maafkan saya." Dani tersenyum, lalu mengetuk sebuah pintu dan membukakannya untuk Tiara.
"Silahkan mbak.."
"Makasih ya.. " Tiara balas tersenyum dan masuk ke dalam, membuat 2 orang di dalam ruangan yang sedang enak makan seketika terkejut. Terlebih Bara yang terjingkat hingga menabrak meja saat tiba-tiba berdiri.
"Ara..." langkahnya cepat menghampiri sang istri.
Tiara menatap wajah keterkejutan suaminya juga rekan makannya yang terlihat ikut terkejut tadi , tapi langsung tak mengindahkanya dan kembali fokus makan.
"Aku mau mengajak mu makan siang, tapi ternyata aku terlambat. " jawab Tiara dengan binar wajah penuh sesal tapi di selipi senyumannya. Matanya lekat menatap meja yang terdapat 2 piring juga aneka lauk dan sayur juga wanita lain di sana.
"Ahh ayoo, sebentar.. " Bara berbalik dengan riang hendak mengambil kunci mobilnya.
''Bara, makananmu gimana? kan mubazir, belum kamu habiskan." ketus Laras melirik sebal pada Tiara.
"Aku mau makan siang bersama istriku Ras, makanan itu tolong kamu simpan saja. Nanti malam aku makan lagi."
"Ga bisa donk, nanti basi. Lagian kenapa istrimu tidak makan di sini saja. Apa seleranya memang steak mahal restoran mewah. " ketusnya karna merasa terganggu akan kehadiran Tiara.
"Laras." Suara Bara mulai meninggi, tidak suka temannya itu mengatai istrinya.
"Aku benar kan, ini juga udah jam satu lebih, orang makan siang jam segini bisa-bisa sakit maagh." sindir Laras lagi.
"Ekhem.. sepertinya temanmu benar. Habiskan makanan mu mas, jangan mubazir. Aku makan di depan saja yaa, maaf mengganggu makan siang kalian." ucap Tiara setelahnya langsung berbalik dan pergi dari sana. Membuat Bara kelabakan.
"Ara, tunggu.. " Bara berlari mengejar istrinya. Hatinya sudah berbunga-bunga tadi saat tau istrinya mengunjunginya. Tapi justru merasa jadi takut salah paham karna sikap Laras pada istrinya.
__ADS_1
"Tiara..." Bara berhasil mencekal tangan istrinya, " Jangan marah, ayo kita makan bersama. Kamu mau makan apa? " tuturnya lembut, mencoba membujuk istrinya yang terlihat kesal.
"Aku rasa lain kali aja makan bersamanya. Jugaan kamu udah makan jadi aku pulang aja, tadi bibik juga udah masak." Tiara menghempas cekalan tangan itu.
"Ekh, kok gitu. . Tiara!" Bara masih berusaha mengejar istrinya yang melangkah cepat. Tepat sebelum sampai di ujung ruangan luar, Bara berhasil meraih lengan Tiara menariknya kuat hingga jatuh dalam pelukannya.
Bruk.
"Lepas..!" ronta Tiara kesal, tadi hatinya sedikit melunak ingin mengajak suaminya makan siang. Tapi sindiran teman Bara membuatnya suasana hatinya buruk lagi.
"Hustt..." Bara berusaha menenangkan dengan pelukannya, mencium puncak kepala istrinya beberapa kali di iringi desiran halus dari hatinya.
"Lepasin.." Tiara yang sudah sadar berada dalam dekapan lelaki itu jadi ikut berdebar ingin segera menghindar.
"Enggak, kamu lagi marah gini. Aku ga mau nglepasin." Bara seolah memanfaatkan moment, kapan lagi dia bisa menyentuh istrinya seperti ini. Seringainya muncul bersamaan tangannya yang lebih mengeratkan lagi pelukannya pada tubuh istrinya.
"Lepas, aku susah nafas!" kesal Tiara, jantungnya saja sudah maraton karna tubuhnya melekat erat pada tubuh Bara.
Bara segera mengurai pelukannya saat mendengar ucapan istrinya.
"Maaf sayang.. maaf.. kamu ga papa kan?" tanyanya dengan penuh khawatir dengan tangan memegang kedua pundak istrinya
Sedang Tiara menatap lekat manik suaminya, dan seketika menunduk malu dan kikuk mendengar panggilan ' sayang ' dari Bara. "Aku ga papa.. "
"Ya udah, ayo makan. Jangan marah ya.. " bujuknya lagi.
"Kamu kan udah makan.." Tiara mengerling kesal.
"Aku bisa makan banyak Ara, ayoo.. " Segera di rangkulnya bahu istrinya dan menggiring untuk melangkah keluar.
"Ga mau, aku pulang aja. Nanti pasti kamu ga makan dan cuma nemenin aku." Protes Tiara.
"Enggak, aku akan makan juga. Ga percaya banget. Aku bahkan masih bisa makan....." ucapan Bara menggantung begitu saja saat menyadari kecerobohannya, segera di bekapnya mulutnya itu.
"Apa..? " Tiara yang penasaran karna Bara tidak menyelesaikan kalimatnya jadi mendongak menatap suaminya itu. Dan Bara justru tersenyum penuh makna juga lebih mengeratkan rangkulannya.
"Lupakan.."
Tiara mengerutkan keningnya penuh heran. Sedang di ujung lorong Laras yang menyaksikan semuanya mengepalkan tangannya penuh kesal. Dia awalnya berharap bahwa pernikahan itu hanya sebuah kesalahan. Toh Bara tidak menyukai wanita itu. Perkiraanya mereka akan berpisah juga kedepannya, dan dia bisa mulai mengisi hati Bara. Itulah dia mati-matian memberi Bara peratian lebih.Apalagi selama menikah, tidak pernah dia melihat bentuk perhatian Tiara pada Bara selayaknya pengantin Baru pada umumnya. Tapi melihat tatapan penuh cinta Bara pada Tiara, juga ucapan lelaki itu yang memuji segala yang ada pada istrinya membuat hatinya patah hati.
__ADS_1
"Apa aku memang ga berkesempatan memilikimu Bara.. "