
Hujan gerimis membuat suasana di dalam mobil semakin hening. Setelah menyetujui ajakan Bara untuk pulang. Tiara berusaha menerima, ya hanya itu yang bisa dia lakukan. Setidaknya dia ingin menemui mamahnya untuk meminta maaf atas semua kesalahannya.
Tepat pukul 2 siang, mereka telah tiba di kediaman Mariana. Mariana sendiri yang membukakan pintu untuk mereka.
"Mamaa.. " Tiara menghambur memeluk mamanya.
"Sayang.. " Keduanya berpelukan dengan erat. Terdengar isak tangis keduanya .
"Aku minta maaf Ma.. " isak Tiara di dekapan Mamanya. Mariana mengangguk, menyeka air matanya.
"Aku salah, aku salah ma.. " sesal Tiara lagi.
"Sudah.mama sudahmemafkan kamu tanpa kamu meminta. " bujuk Mariana, lalu mengurai pelukannya. Di usapnya kedua pipi Putrinya yang basah.
"Jangan lagi pergi dengan membawa emosi ya.." nasihatnya pada putrinya .
Tiara mengangguk lalu menoleh pada suaminya. Seolah paham Mariana langsung mengajak keduanya masuk untuk makan siang.
"Nanti habis ini aku keluar dulu ya, Ra. " ujar Bara setelah selesai makan. Mereka baru selesai bersih-bersih dan sedang istirahat di kamar.
"Mau kemana..? " tanya Tiara tanpa menoleh dan tetap sibuk dengan laptopnya. Banyak pekerjaan yang harus dia periksa sepeninggal dia dari kantor.
"Aku mau ke resto, juga ke apartmen.." Bara mengambil jaket miliknya juga kunci mobil. Mendengar jawaban suaminya Tiara langsung menoleh,
"Mau ke RedOne atau yang lain..?" tanyanya dengan wajah serius. Jujur saja sejak tempo hari bertemu Laras, dia merasa tidak suka jika Bara ada di sana.
"RedOne lah, ada yang booking buat acara tunangan anak anggota dewan. Katanya tertarik karna resto itu pernah menggelar resepsi pernikahan kita. Lebih tepatnya ada nama kamu disana. Jadi mereka tertarik." terang Bara denhan seny penuh arti.
Tiara manyun,dia ingin melarang tapi segan. Ingin ikut tapi sebentar lagi ada agenda meeting online dengan rekan bisnisnya di jakarta. Tiba-tiba memorinya kembali mengurai kenangan resepsi di RedOne. Betapa malam itu Bara begitu memperlakukannya sangat istimewa. Malam itu dia merasakan apa itu ciuman untuk pertama kalinya.
"Raa.. Sayang...! " Panggil Bara sembari menggoyang-goyangkan lengan istrinya.
"Ekh.. iya.." Tiara yang terkejut segera menoleh.
"Mikirin apa sih? di panggil dari tadi ga nyahut.hmm ...?" tanya Bara.
"Enggak.. "Tiara pura-pura sibuk membaca file yang di kirim Dion.
"Ya udah aku pergi dulu, kamu mau di bawain apa? "
__ADS_1
Tiara kembali menatap suaminya, " Steak nya juga boleh."
"Ok.. " Bara maju mengecup dahi istrinya." Aku pergi dulu, Assalamulaikum."
"Waakaikum salam.." masih dengan mode terkejut sepeninggal Bara, Tiara meraba keningnya yang masih terasa hangat akan kecupan suaminya. Sebuah lengkungan terukir di bibirnya.
Keesokannya, aktifitas kembali seperti biasa. Pukul 8 pagi Bara menhantarkan istrinya ke Kantor. Meski tadinya Tiara menolak, tapi lelaki itu tetap memaksa.
"Nanti pulang jam berapa ? biar aku jemput. " tanya Bara dengan tangan cekatan membuka seatbelt istrinya.
"Aku agak lembur, ga pasti, jadi ga usah jemput. " jawab Tiara sembari merapikan pakaiannya.
Bara menoleh menatap istrinya yang cantik dengan pakaian formalnya.
"Hari ini ga bisa pulang agak cepet, malam ini Aamir ulang tahun. Aku pengen dateng bareng kamu. "
Tiara melotot menatap suaminya, " kok kamu ga bilang mas, di bikin pesta? "
"Enggak, cuma tasyakuran. Pagi tadi mama baru telpon."
Tiara mendesah pelan, agendanya sangat sibuk hari ini. "Aku usahain, tapi aku ga janji ya.. "
"Yaa..?" Tiara menoleh, dan secepat kilat Bara membenamkan bibirnya pada kening Tiara lagi.
"Semangat kerjanya. " ujar Bara dengan senyum hangatnya.
Tiara yang sesaat terpaku segera mengangguk dan turun karna pipinya terasa panas.
Mobil Bara pergi setelah memastikan istrinya masuk ke dalam kantor. Ada rasa yang mengusik hatinya. Kehidupan Tiara sangat jauh di atasnya. Rasa tak percaya diri kembali menguasai hatinya.
Istrinya pewaris juga pemegang saham terbesar di keluarganya. Bisa di katakan kelas konglomrat sudah bisa Tiara sandang. Apalah dia yang hanya pengusaha kecil. Tidak bertitel tinggi atau berkelas seperti rekan kerja Tiara .
Sedang di kantor, Tiara langsung menuju ruangan Dion mesku tahu kakaknya itu belum sampai ke kantor.
"Bu Muti ingin minum apa?, biar saya siapkan. " Tanya Felin , sekertaris Dion .
"Ga usah mbak, saya udah sarapan tadi. " tolak Tiara dengan senyum ramahnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu bu, jika ada apa-apa ibu jangan segan untuk memanggil saya." pamit Felin di iringi anggukan Tiara.
__ADS_1
Dion datang 10 menit kemudian, dengan pakaian rapinya membuat dia tampak matang meski sudah berumur 39 tahun.
Senyumnya mengembang saat membuaka pinti, Tiara pun tak kuasa untuk tidak berlari memeluknya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Ra. " Dion mengusap lembut ounghung Tiara.
"Kenapa kak Dion ga pernah cerita selama ini? " cerca Tiara setelah mengurai pelukannya. Sungguh hatinya terasa amat malu menghadapi kakaknya itu.
"Sudah lah, jangan bahas itu lagi. Yang penting kamu sudah tau semuanya sekarang."
"Aku bener-bener minta maaf kak, aku egois.Memikirkan hanya aku sendiri tang tersakiti selama ini. Maaf kak.. "
Dion tersenyim, menuntun adiknya unikuk duduk. Di usapnya punggung tangan adiknya dengan lembut.
"Tiara, lupakan masa lalu. Jangan lagi di ingat karna akan kembali membuat hati terluka. Sejujurnya saat tahu kenyataan itu kakak juga frustasi. Tapi kembali lagi, mungkin dia memang bukan jodoh kakak."
Tiara tak terasa meneteskan air mata harunya, bagaimana kakaknya begitu redha akan semuanya. Dion sungguh jauh berbeda dengan dulu yang selalu mengedepankan emosinya.
"Oh iya, ada kabar baik loh.." ujar Dion lalu meraih ponselnya.
"Apa.. ?" tanya Tiara sembari menyeka air matanya.
Dion memberikan ponselnya pada Tiara, di sana terpampang chat dari Dafa.
"What.. ? kak Dafa mau ngelamar Nabila.. ?" Pekik Tiara terkejut, sedang Dion hanya tersenyum sembari mengangguk.
"Kenapa aku ga pernah dengaer kabar mereka deket kak.. ?"
"Karna kamu sibuk sama Alex sialan itu, Bara juga sudah tau. "
"Apa ? mas Bara juga sudah tau. Dan dia ga pernah cerita. Awas ya dia nanti.. "
Dion tergelak melihat exspresi adiknya itu, "Sepertinya kalian baik-baik saja. Jadi gimana, di batalkan kan.. ?" tanya Dion kemudian.
Tiara kembali menatap Dion, gadis itu menggeleng pelan. "Aku juga bingung kak.. "
"Tanyakan pada hatimu Tiara, sepertinya kalian memang sudah mulai saling nyaman. " Dion berdiri menuju mejanya. Bohong jika hatinya sekarang tak gundah. Apalagi teringat percakapannya bersama Dafa. Adiknya berharap dia segera menikah Agar tak terlangkahi olehnya. Meski Dion tak mempermasalahkan jika Dafa lebih dulu bertemu jodohnya. Tapi Dafa menolak menikah lebih dulu dari Dion.
"Apa perasaan nyaman saja cukup kak?" tanya Tiara lagi. Membuat Dion diam, karna dia juga tidak yakin.Apa hubungan akan tetap bisa bertahan jika hanya perasaan nyaman saja yang ada.
__ADS_1