
5 tahun kemudian.
Pagi cerah menyapa penduduk bumi. Hari senin membuat siapapun kembali bersemangat mengisi hari.
Tiara menenteng tas miliknya, dengan kemeja berwarna putih, blazzer hitam yang pegang, rok selutut juga sepatu hak tingginya . Tampak berbeda dengan gadis kusam 5 tahun lalu.
"Tiara jangan lupa sarapannya. !" teriak mamanya dari dapur saat mendengar derap langkah dari tangga.
Rumah mereka sudah berganti, sesuai keinginan Ani dulu. Apa yang menjadi hak Tiara di kembalikan padanya.
"Ma, ini udah jam setengah 7. Aku akan terlambat. . " ucap gadis itu sambil menegak susu hangat.
"Kamu ini kebiasaan Tiara, kalau minum itu duduk.. !" tegur mamanya yang membuat gadis itu hanya nyengir.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Mariana, dan pelakunya tentu saja Tiara.
"Aku berangkat dulu ma, Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.. " Mariana menjawab salam putri nya sambil menggeleng gemas.
Tepat saat Tiara akan membuka gerbang, sebuah mobil tampak berhenti.
Tin - tin.
Wajah tak asing bagi Tiara menyembul dari balik kaca mobil sambil membuka kaca matanya.
"Alex.. " Tiara tersenyum menyambut kedatangan Alex. Lelaki yang sudah di pacarinya sejak pertengahan semester saat kuliah dulu.
Alex balas tersenyum manis hingga menampilkan wajah tampanya.
Tiara masuk ke dalam mobil, dan Alex langsung menjalankan mobilnya.
"Udah sarapan sayang..? " tanya Alex penuh perhatian, lelaki itu sesekali menoleh ke arah pacarnya. Lalu kembali menatap jalan.
"Udah.. " jawab Tiara dengan senyum manisnya.
"Pasti cuma minum susu.. " ujar Alex yang memang sudah hafal kebiasaan Tiara.
"Aku kan... " Ucapan Tiara terpotong saat Alex justru melanjutkan kata-katanya.
"Iya, sampe kantor cuma makan apel sama telur 1 butir. "
Tiara terkekeh mendengar jawsban Alex. Itu memang kebiasaanya. Sejak mulai kuliah, Tiara menjalankan diet agar tubuhnya tak melebar.
"Padahal kamu udah kurus banget sayang.. " komentar Alex seperti biasanya.
"Aku akan berhenti diet setelah kita menikah, tenang aja sayang. Kamu kan tau, aku ingin menikmati bentuk tubuh ku sekarang. Ada perasaan puas setiap kali aku menatap cermin. ". terang Tiara yang hanya di jawab decihan Alex .
"Memangnya kamu beneran udah siap nikah. ?" kali ini Alex menggenggam tangan Tiara. Posisi mereka sedang menunggu lampu merah berganti hijau.
"Tentu aku siap, jika itu dengan mu. " jawab Tiara enteng.
Alex tersenyum lembut, mengecup punggung tangan kekasihnya. Hubungan mereka sudah terjalin lama, hampir 3 tahun. Selama ini Tiara dan Alex sadar jika mereka menganut agama yang berbeda. Walau pada awalnya saling ragu, tapi mereka bisa saling meyakinkan jika Agama bukan halangan untuk hubungan mereka.
"Nanti malam aku ke rumah ya.. ? aku ingin bicara dengan mamah mu lagi.. " ucap Alex sambil mengusap poni Tiara yang membingkai wajah cantik gadis itu.
__ADS_1
"Ok.." Tiara mengangguk lalu membuka seatbeltnya. "Aku turun dulu ya, makasih. "
"Tiara.. " Alex menahan lengan Tiara yang baru akan membuka pintu mobil.
"Iya ada apa Lex..? " tanya Tiara dengan menatap penuh wajah kekasihnya.
Alex tidak menjawab dan justru memajukan wajahnya.
Jarak antara keduanya saling terkikis, desiran nafas keduanya saling bertautan. Saat tinggal seinci jarak itu. Tiara tiba-tiba memalingkan wajahnya.
Alex menghela nafas berat saat melihat Tiara memalingkan wajahnya.
"Bagaimana aku bisa yakin jika kamu siap menikah, kamu bahkan tetap menolak saat.. " ucapan Alex menggantung saat Tiara lebih dulu memotongnya.
"Bukannya kita udah komitmen kalau kita akan pacaran secara sehat.. " ucap Tiara tajam.
Alex memalingkan wajahnya ke sembarang arah setelah mendengar ucapan Tiara.
"Ok, aku minta maaf. ." ucap Alex akhirnya.
Tiara hanya mengangguk, lalu mulai membuka pintu mobil untuk turun.
Tiara melambai pelan saat mobil Alex mulai menjauh dari pelataran parkir.
"Kenapa lama sekali turunnya.. ?" ujar Dion saat melihat keponakannya itu mendekat.
"Ya pamitan dulu kak.. " jawab Tiara sebal.
"Aku pikir cipika-cipiki dulu.. " ledek Dion yang di sambut gelak tawanya.
Tiara hanya memberengut kesal sambil melangkah mengikuti Dion menuji Lift.
"Pagi.. " jawab keduanya dengan raut wajah yang berbeda.
Tak lama lift pun terbuka, Dion lebih dulu masuk di ikuti Tiara.
Ting.
"Aku duluan kak.. " pamit Tiara saat lift berhenti di lantai 5 bangunan itu.
"emm.. semangat kerjanya. Jangan lupa makan siang. " Dion mengusap lembut bahu Tiara.
"Iya kak.. " Gadis itu mulai melangkah keluar menuju ruangannya.
Meski sudah memiliki saham perusahaan sebanyak 30 persen. Tiara tetap memilih mengawali karir dari staf biasa. Alasannya tentu saja gadis itu ingin mencari pengalaman sebelum benar-benar di angkat pada salah satu posisi penting perusahaan.
"Pagi bu Muti.. " begitu sapa OB yang menghantarkan sarapan miliknya.
"Pagi juga Joko, terima kasih ya.. " ucap Tiara saat melihat joko meletakkan sepotong apel juga telur rebus di atas mejanya.
"Sama-sama bu, saya permisi.. " pamit si OB sopan.
"Iya... " Tiara tersenyum mengangguk melepas kepergian Joko.
"Mutia, siang ini kita ada janji temu ya. Jangan lupa.. " Ujar Bu Ayu, kepala staff di bagian penasaran.
__ADS_1
"Baik ibu, terima kasih sudah di ingatkan.. " jawab Tiara lugas.
Gadis itu segera memulai pekerjaanya, merangkap semua data yang di perlukan.Agar saat tiba jam 11 pekerjaanya sudah berkurang.
"Mutia, Ayo... " David sudah berdiri di depan meja Tiara.
"Eh, iya. sebentar saya beresin ini dulu pak... " ucap gadis itu. Cekatan dia merapikan berkas-berkas yang akan di bawa.
"Saya tunggu di bawah ya. " ujar David yang langsung melenggang pergi.
Tiara memandang wajahnya di layar ponselnya.
"Ok lah, ga perlu tuch-up.. " gumamnya kecil lalu menyambar tas miliknya.
Tiara pergi bersana David menggunakan mobil kantor, tempat pertemuannya di sebuah restoran karna merangkap makan siang.
"Ingat ya Muti, kamu harus bisa meyakinkan klien ini biar mau ambil barang di kita.." kembali David menekankan pada Tiara untuk kesekian kalinya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak.. " Helaan panjang mengahiri ucapan Tiara, dan mobil pun mulai masuk ke salah satu Mall terbesar di kota itu.
Tiara mengikuti David di belakangnya, bagaimana pun David lebih senior di banding dirinya. Dia begitu menghormati senior, apalagi David. Meski terkesan bawel, lelaki itu tidak pelit ilmu dan mau membantu jika Tiara belum paham tentang pekerjaanya.
Suasana restoran tampak ramai, karna memang jam makan siang sudah tiba.
"Saya ada janji temu dengan pak Bara.. " ucap David pada pelayan. Tiara tidak mendengarkan ucapan David, gadis itu justru asik memandang keramaian restoran.
"Ramai banget, apa makanannya enak.. "Gumam gadis itu.
"Oh iya pak, mari saya antar.. " pelayan itu mempersilahkan.
"Mutia, Ayo.. " tegur David saat melihat Tiara tidak ikut berjalan mengikutinya.
"Eh, iya pak. Maaf.. "
Mereka di tunjukan pada ruangan VIP yang terlihat tertutup pintunya.
"Silahkan pak... " Ucap pelayan itu.
"Oh iya terima kasih.. " ucap David, sedang Tiara hanya mengangguk sembari tersenyum.
Sepergian pelayan, David masuk kebih dulu.
Di dalam sudah tampak lelaki duduk dengan posisi membelakangi pintu.
"Selamat siang pak Baradyaka.." sapa David sambil mengulurkan tangannya.
Tiara mengerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan nama itu.
Lelaki itu berdiri dan menyambut uluran tangan David.
"Selamat siang pak David.. " Suaranya tampak macho di telinga Tiara.
"Maaf kami terlambat pak, dan kenalkan ini staff pengiring saya hari ini. " Ujar David lalu beralih menatap Tiara. " Mutia... "
Tiara maju dan saat bersamaan lelaki itu menoleh ke arahnya. Tatapan mereka bertemu, saling diam dan memperhatikan. Tiara terkejut melihat klien nya ternyata justru Bara. Baradyaka, orang yang pernah bermasalah dengannya dulu.
__ADS_1
"Se.. selamat siang pak Bara.. " sapa Tiara sambil mengangguk kan kepalanya.Gadis itu berharap lelaki itu tidak mengenalinya lagi, mengingat mereka sudah lama tak pernah bertemu.
"Siang Tiara. . ah, maksut saya Mutia. . " Senyum manis menghiasi wajah Bara, membuat Tiara tercekat.