Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 54


__ADS_3

Seminggu berlalu, kehidupan Tiara tidak banyak berubah meski sudah bergelar istri. Tetap tinggal di rumah mamanya meski sudah di hadiahi rumah oleh Dion dan Dafa.


Kebetulan juga, setelah usai urusan pesta, Mariana justru ikut pulang ke kampung halaman. Alasanya rindu ingin menjenguk makam orang tuanya.


Pagi ini Tiara bangun dengan terburu-buru, dia akan ada meeting pukul 8.30. Bara yang baru pulang jogging hanya diam dan memperhatikan kesibukan istrinya.


"Aku pergi dulu... " ucapnya sembari berlalu. Bara hanya mengangguk lemah.


Sudah seminggu Tiara kerja, sepertinya jabatan baru membuatnya sangat sibuk.


Pagi-pagi berangkat dan pulang hingga pukul 10 malam.


Helaan nafas panjang Bara buang dengan perlahan, seakan mengisi kekosongan hatinya. Dia beranjak untuk mandi. Jangan harapkan ada yang menyiapkan sarapan saat dia turun, bahkan Tiara tidak pernah membuatkannya kopi sejak menikah.


Segala kebutuhan justru bibik yang meladeni bahkan lebih sering Bara melakukannya sendiri.


"Mau sarapan apa Den.. ?" tanya bibik saat melihat Bara turun dari tangga.


"Roti saja bi, biar saya buat sendiri kopinya juga. " ujarnya dan masuk ke dapur menyedu kopi.


Bibi hanya memperhatikan dan berlalu ke taman samping, tidak enak mengganggu majikannya di dapur.


Dari arah jendela luar bibik mengarahkan kamera memfoto Bara yang sedang mengaduk kopi buatanya, saat itu juga bibik mengirimkan pada seseorang di lain tempat.


Setelah sarapan, Bara berpindah ke arah taman. Jam kerjanya di mulai pukul 10 pagi, jadi dia membuat kesibukan dengan menggambar desain perhiasan. Meski baru berkecimpung, nyatanya desain pertamanya sukses karna langsung sold out saat di pajang.


Pukul 9 pagi dia langsung bersiap untuk pergi ke restoran miliknya, begitulah rutinitasnya hingga sore.


Di kantor.


Dion mengetuk pintu ruangan Tiara.


"Masuk." jawab Tiara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Pagi banget datang .. " ujar Dion lalu menarik kursi si depan meja Tiara untuk duduk.


"Eh, kak.. " Tiara mengira yang masuk adalah Nike, sekertarisnya. "Tumben pagi banget? " tanyanya setelah melirik jam.


Dion berdecih lirih, " Kamu yang pagi banget, suamimu ga protes kamu berangkat pagi-pagi? "


Tiara menghentikan fokusnya pada layar dan memandang Dion, "Enggak, dia ga pernah ngomong apa-apa."


"Dan kamu percaya, seolah semua baik-baik saja.?"


"Maksut kakak.. ?" Tiara mengerutkan keningnya heran.


"Tiara, setelah menikah kamu langsung bekerja. Berangkat pagi-pagi, pulang malam. Kamu ga kasian suamimu . Mungkin saja sebenarnya dia keberatan, tapi tidak enak mau menegurmu. "

__ADS_1


Tiara diam, membenarkan apa yang di ucapkan Dion. Tujuannya menyibukkan kerja adalah untuk menghindari Bara. Rasanya amat canggung tiba-tiba bersuami orang asing.


"Pergilah bulan madu, biar urusan kantor kakak yang handle. " ujar Dion.


Tiara tertawa sumbang, '' Bulan madu hanya untuk pasangan yang normal kak."


"Memangnya kalian ga normal.. ?" tanya Dion dengan nada candaan.


"Bukan gitu kak, " Tiara menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Biar kalian saling mengenal Ra, saling bisa menyesuaikan. Kalian suami istri. "


Ucapan Dion seolah terus terngiang di telinga Tiara. Hingga segala kesibukannya telah usai dan pulang kembali ke rumah. Malam ini dia merasa sangat penat, langkahnya bahkan terasa berat untuk sekedar menaiki tangga. Apa lagi membayangkan akan berinteraksi dengan seseorang di dalam kamarnya.


Tiara salah, karna ternyata Bara tidak ada di kamar. Setelah mandi dia memutuskan untuk turun.


"Bik... " panggilnya sesaat setelah duduk di ruang TV.


"Iya Non." Bibik datang dari arah belakang, mungkin baru akan istirahat. Mengingat ini sudah jam 10 lebih.


"Apa Mas Bara, belum pulang dari tadi.. ?" tanyanya ragu-ragu.


"Belum non. " jawab bibik sambil menahan senyumnya.


Tiara mengerutkan keningnya heran, tidak biasanya lelaki itu pulang malam. Biasanya saat dia pulang kerja, Bara sudah di kamar. Atau sedang menonton TV.


"Ya sudah, bibik boleh istirahat." ucapnya pada akhirnya.


Tiara berusaha tidak memperdulikan Bara, bahkan dia tidak tau kapan lelaki itu pulang. Saat subuh bangun, dia hanya melihat Bara yang terlelap begitu pulas di sampingnya. Dan itu berlangsung hingga beberapa minggu ke depan.


"Hallo, gimana ada kabar.. ?" tanya Tiara saat jam istirahat kantornya.


"Mereka pindah ke Medan.. " Begitu jawaban seseorang di sebrang talian.


Tiara menghela nafas panjang, sudah hampir sebulan dia berusaha mencari Alex. Dan baru sekarang dia mendapatkan titik terang. Akhir minggu ini dia akan ke sana menemuinya.


Siang ini entah kebetulan atau tidak. Klien Tiara justru memintanya menemuinya di restoran milik Bara.


"Nike, apa semua berkas sudah siap..? " tanya Tiara sebelum pergi pada sekertarisnya.


"Sudah bu Muti." jawab Nike mantap.


"Bagus, ayo kita berangkat sekarang.. "


Agenda hari ini hanyalah temu ramah plus makan siang, tapi Tiara lebih dulu menyiapkan bahan. Jikalau tiba-tiba kliennya meminta penjelasan detail tentang perusahaannya. Dengan di antar pak Irul, Tiara dan Nike memasuki sebuah kawasan pusat perbelanjaan. Keduanya berjalan beriring menuju sebuah restoran nusantara.


"Selamat Siang bu.. Selamat datang di restoran kami." Sapa pegawai restoran ramah.

__ADS_1


"Siang mbak, saya ada janji dengan pak Herman." ucaobya kemudian.


" Baik ibu, mari saya antar. " jawab si pegawai.


Tiara hanya tersenyum tipis dan mengangguk mengikuti pegawai itu. Matanya sesekali mencuri pandang restoran yang tampak ramai di jam makan siang. Tiba-tiba hatinya berharap bisa bertemu seseorang di sana.


"Silahkan bu.. " Pegawai itu membukakan pintu ruang VVIP, membuat Tiara sedikit terkejut.


"Terima kasih." jawabnya singkat lalu masuk di ikuti Nike.


"Selamat siang bu Mutia." seorang lelaki paruh baya menyambut mereka berdua.


"Selamat siang pak Herman." keduanya pun saling bersalaman. " Perkenalkan ini Nike, sekertaris saya. "


"Salam kenal bu Nike. Mari silahkan duduk bu Mutia, bu Nike. " ujar pak herman ramah.


Tiara pun duduk setelah mengucapkan terima kasih, di ikuti Nike. Mereka saling berbincang sembari makan siang.


Hingga acara makan siang itu usai, Tiara tidak melihat Bara di restoran itu sama sekali. Ingin bertanya tapi dia segan.


"Bu, apa ada yang ibu butuhkan..? " tanya Nike. Saat melihat bosnya celinguk'an.


"Eh, enggak. Ayo..." jawab Tiara dan langsung berjalan keluar restoran.


Malamnya, Tiara pulang lebih awal. Dan kembali dia tidak menemui Bara di rumah. Hingga dia memutuskan istirahat lebih dulu. Tengah malam entah pukul berapa dia mendengar pintu kamarnya terbuka.


"Baru pulang..? " tanyanya setelah menegakkan tubuhnya di sandaran ranjang.


Bara tampak terkejut, biasanya saat kembali istrinya sudah tidur dengan pulasnya..


"Kamu belum tidur..? "


"Sudah, kebangun denger pintu terbuka." jawab Tiara dengan membekap mulutnya saat menguap.


"Oh maaf, aku mandi dulu.. " Bara baru akan beranjak saat Tiara kembali mengeluarkan suaranya.


"Kita perlu bicara Mas. "


Seketika dia menoleh, untuk pertama kali dia mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan 'mas'. Hatinya tentu saja bersorai riang, hilang sudah segala letih ragawinya. Dia mengangguk dengan senyum tipisnya.


"Aku mandi dulu.. "


.


**Maafkan keterlambatan update. Sebenarnya, novel ini lebih gampang punya ide buat nulis. Tapi melihat View nya yang sangat kurang bikin otor galau.


Hingga episode 50 lebih belum ada perubahan signifikan..

__ADS_1


Sedih banget**.


__ADS_2