Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 4


__ADS_3

"Lo yakin Ra.. ?" Dafa kembali bertanya kesekian kalinya pada gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu.


"Iya kak. Aku yakin. " Tiara mengangguk mantap.


Kemarin setelah mendengar cerita Dafa, Tiara merasa tersentuh dan ingin bertemu dengan mama Ani. Anggaplah itu untuk membayar balas budinya pada Dafa . Walau ragu, Dafa pun akhirnya setuju. Dia berharap dengan ini, kadaanya mamanya akan lebih baik.


Beriringan mereka memasuki sebuah rumah mewah. Rumah ini berada paling ujung sebuah perumahan elit terkenal. Tiara tidak menyangka yang ternyata Dafa anak orang kaya.


Menurut isi otaknya, hanya Haji Umi orang yang bisa di katakan kaya. Rumah megah dengan kebun kelapa sawit berpuluh-puluh hektar juga bisnis pertaminanya dan juga keluarga Baradyaka. Bagaimana tidak kaya, sedang ayahnya seorang dokter terkenal dan ibunya seorang pengusaha sukses.


"Assalamualaikum..." Ucap Tiara saat Dafa membukakan pintu untuknya.


"Waalaikum salam." Dafa tersenyum menjawabnya.


"Duduk Ra, gue ke dalam dulu yaa. Narok tas.. "


"Iya kak. " Tiara langsung duduk di sebuah kursi mewah. Matanya tampak mengamati pigora besar terpampang foto keluarga. Dia tersenyum.


"Dara cantik yaa ternyata.." Kembali Tiara mengagumi hunian ini. Guci mahal tampak tersusun rapi. Warna gold menghiasi rumah 2 lantai dengan luas yang lumayan itu.


"Permisi Non, minumnya.. " Seorang paruh baya membawakan es jeruk juga sepiring kue dan meletakkannya di meja.


"Terima kasih bu, maaf jadi merepotkan." Tiara membantu ibu itu menyusun di atas meja.


"Sama-sama Non, ini tidak merepotkan kok. Ya udah saya pamit ke belakang dulu.Mari Non.."


"Iya bu.. " Tiara membalas senyum ramah .


Tak lama Dafa kembali, sudah berganti pakaian santai. Dia tadi sepulang kuliah langsung menjemput Tiara di sekolahnya.


"Di minum Ra.. " Dafa duduk di sofa sebrang Tiara.


"Eh iya, makasih Kak.." Tiara mulai menyesap minuman dingin itu.


"Apa boleh aku langsung ketemu mama Ani kak.. ?" tanya Tiara setelah meletakkan gelas miliknya.


"Ayo, mama ada di atas. " Dafa berdiri, di ikuti Tiara.


"Tasnya tarok situ aja.. "


"Eh, iya.. " Tiara mengikuti Dafa naik di lantai atas . Mata Tiara pun tak henti memandang sekitar. Rumah ini terlihat mewa dan megah tapi berbalut kesunyian.


"Ini kamar mama.. " Dafa mulai membuka pintu dengan perlahan.


Terlihat di ranjang, seorang wanita berumur 50an duduk termenung dengan pandangan kosong. Rambutnya berantakan tanpa sisiran. Makanan di meja juga utuk tak tersentuh. Menurut cerita Dafa, tidak ada perawat yang betah merawat mamanya. Karna semua ketakutan saat melihat mama Ani mengamuk.


"Assalamualaikum Mama Ani.. " Sapa Tiara lembut. Dia menoleh ke arah Dafa saat merasa tidak ada respon dari wanita itu.


"Memang begitu Ra.. " Dafa lebih dulu mendekat, duduk di ranjang sebelah mama Ani. "Ma, ini Dafa. Mama ga makan dari tadi..? " Dafa mengusap lembut bahu mamanya yang tampak menoleh lemah.


"Dafa, Dara belum makan, mama ga mau makan.. " ujarnya kembali menatap lurus dengan pandangan kosong.


Tiara merasa sesak melihat mama Ani yang memang tampak tak bersemangat hidup. Tubuhnya kurus tak terurus. Walau rutin melakukan pengobatan, bahkan ke psikiater terbaik di kota itu. Nyatanya mama Ani masih kembali lagi seperti itu.


Tiara mengusap air matanya. Lalu berjalan mendekat di sisi ranjang yang berbeda.


Gadis itu mengusap lembut tangan keriput yang tampak layu. Yang seketika membuat mama Ani menoleh.


"Dara, kamu sudah pulang nak. . ?" senyum mengembang di wajah mama Ani. Yang seketika membuat Tiara dan Dafa saling berpandangan bingung.

__ADS_1


"Ma, itu Tiara. Bukan Dara.. " Bisik Dafa lembut.


Mendengar itu, mama Ani menoleh ke arah Dafa dengan tatapan kesal.


"Matamu di mana Dafa..!! Adik sendiri tidak mengakui.." maki Mama Ani tiba-tiba yang membuat Tiara sangat terkejut, hingga mengusap dadanya.


"Jelas-jelas itu Dara..!!" kesalnya lalu menoleh ke arah Tiara. "Dara sayang, kamu sudah makan.? abang mu tadi tidak lupa menjemput mu kan nak ? mama akan aduin ke Dion agar di potong uang jajannya karna selalu lupa menjemput mu pulang sekolah.."


Tiara melihat Dafa menyeka air matanya. Pria itu tampak terima saja makian dari mamanya.


"Dara.." Sebuah sentuhan yang menyadarkan kebingungan Tiara akan apa yang terjadi. Tiara berusaha tersenyum dan bangun. Mengambil nampan berisi makanan dengan menu lengkap.


"Kita makan bersama-sama ya Ma.. " Tiara cekatan menyendokkan lauk saat melihat mama Ani mengangguk antusias.


"Aaaa...." Satu suapan nasi beserta lauk berhasil masuk ke mulut mama Ani. Di kunyahnya pelan sambil menoleh ke arah Dafa dengan tatapan menusuk.


"Ayo ma, aa.. lagi.. " Tiara mengalihkan perhatian mama Ani. Dan ternyata mama Ani mau mendengarkannya.


"Kamu keluar sana, biasanya kamu sibuk dengan teman-teman mu. Mama mau bersama Dara saja.. " Mama Ani merangkul posesif lengan Tiara.


Dafa memandang khawatir ke arah Tiara


"Udah kak, aku di sini aja. Kakak keluar aja, aku ga papa.. " ujar Tiara meyakinkan.


"Kamu yakin Ra..? " Dafa sudah tidak lo-gue lagi dengan Tiara. Takut menambah murka mamanya jika mendengarnya.


"Udah kakak tenang aja.. " Tiara tersenyum lembut kembali menyuapi mama Ani.


"Nanti kalo ada apa-apa lo langsung lari keluar ya Ra.. " pesan Dafa sebelum benar-benar menghilang dari pintu yang langsung di angguki Tiara.


Tiara tidak hanya menyuapi mama Ani, tapi juga membantu wanita itu mandi. Menyisirinya dengan lembut, membuat mama Ani tak mau melepas tangannya.


"Iya, jangan lama-lama ya.. " rengek mama Ani manja, yang di angguki Tiara dengan membelai bahu mama Ani lembut.


Tiara menuruni tangga cilngak clinguk mencari letak dapur . "oh, mungkin di sana. ."


Gadis itu mengayunkan langkah ke arah samping kanan, dan benar itu adalah dapur. Terlihat ibu yang tadi membawakan minum untuknya sedang menyiangi bawang.


"Non..." Wanita itu berdiri untuk mengambil alih nampan yang di bawa Tiara.


"Ga papa bu, biar saya cuci ." Tiara langsung membawa ke singki untuk di cuci.


"Nyonya beneran mau makan non..?" tanya Bu Darmi, yang tampak tak percaya melihat piring yang kosong.


"Iya bu.." Tiara mengangguk sambil menyelesaikan cucian piringnya.


"Non makan dulu, tadi den Dafa pesan Non suruh makan kalau udah turun.Udah bibi siapin. Panggil saja saya bi Darmi ya Non.. Ayo non.." Pembantu itu ikut antusias hingga menggiring Tiara menuju meja makan.


"Ah bu.. bi.. saya mau ganti baju dulu ya. Gerah.. "


"Oh baiklah, apa non bawa ganti..? "


"Ada bi, saya bawa kaos kok tadi.. " Tiara menuju depan untuk mengambil tasnya. Dan kembali menuju dapur untuk bergati di toilet dapur.


"Oh iya bi, kemana kak Dafa..? " Tanya Tiara sekembali dari toilet. Gadis itu tampak segar karna sudah mencuci wajahnya.


"Den Dafa tidur non, semalam nyonya mengamuk. Dan den Dion tidak di rumah karna sedang keluar kota. Jadi den Dafa tidak tidur semalaman menjaga nyonya.." terang bi Darmi yang di jawab anggukan Tiara tanda mengerti.


"Pantesan tadi mata kak Dafa sayu sekali.. "

__ADS_1


"Ayo non, makan dulu.. " Bi Darmi membukakan piring untuk Tiara.


"Bibi udah makan.. ?" tanya Tiara kemudian.


"Udah Non, ayo makan aja.. di enakin non.. " Bi Darmi membuka semua tutup lauk.


"Banyak banget lauknya, ada udang, ayam sayur.. " batin Tiara.


Gadis itu mengambil seperlunya dan bangkit menuju dapur menyusul bi Darmi.


"Loh non, kok ga duduk di sana..?" tanya bi Darmi saat melihat Tiara justru membawa piring ke belakang dengan gelas air sekali.


"Ga enak bi makan sendirian, mending di sini bareng bibi.. Mari bi, makan.. " tawar Tiara.


"Iya non.. " Bibi tersenyum, merasa ada temannya membuat dia juga senang.


Di sela makan Tiara bertanya dan bibi juga bercerita.


"Saya seneng, nyonya mau makan sampe habis non. Tapi non, kenapa saya lihat-lihat non Tiara sedikit mirip dengan nyonya ya.. ?" Bi Darmi mengamati Tiara dari atas sampe bawah yang membuat Tiara tersedak.


"Aduh maaf non.. " Wanita itu mendekat menepuk bahu Tiara lembut.


"Bibi ini ada-ada aja. panggil Tiara aja bi, Tiara . jangan Non.. " Tiara menegak air minumnya hingga tandas.


Perasaan Tiara memang sedikit merasa ada kemiripan antara mama Ani dan Mamanya. Tapi gadis itu berusaha menepis. Mamanya hidup sebatang kara sejak dulu,tidak mungkin punya saudara. Apalagi sekaya mama Ani.


Sorenya Dafa masuk ke kamar mama Ani. Terlihat di ranjang Tiara menemani mama Ani yang tengah menonton Tv. Melihat kedatangan Dafa pun Tiara segera bangkit.


"Ma, Aku ke bawah ya . Ambil buah buat mama.. " pamit Tiara.


"Jangan lama-lama ya.. " ucap mama Ani seolah tidak rela Tiara menjauh.


Tiara mengangguk dan tersenyum lalu berjalan keluar pintu.


"Kak.. " Sapa Tiara setelah menutup pintu.


"Kamu berhasil ngurus mama hari ini Ra.. ?: Dafa tersenyum senang.


Tiara mengangguk dan mengikuti Dafa turun ke lantai Satu.


"Alhamdulillah kak.. "


Mereka duduk di ruang tv.


"Sorry, gue baru bangun. Maksut ku aku baru bangun. Semaleman aku jagain mama.. " Ujar Dafa.


"Iya ga papa kak, aku udah paham. Tapi bibi cerita. " Jawab Tiara.


"Kita tunggu abang pulang ya, oh ya kalau kamu butuh apa-apa bilang bibi ya, mungkin kamu segan minta sama aku. Atau kamu mau mandi dulu, baju Dara masih banyak di kamar.. " Tawar Dafa yang hanya di balas senyum Tiara.


"Enggak kak, aku pake ini aja. Terlalu lancang aku kalo langsung pake baju alamarhum Dara.. " tolak Tiara yang di angguki tanda maklum oleh Dafa.


Setelah cukup mengobrol, Tiara pamit untuk mengambilkan buah untuk mama Ani.


"Non, saya kebelet. Non ambil aja buahnya di kulkas yang ada gambar buah, itu khusus buah dan sayur.. " Terang bi Darmi sebelum hilang di balik pintu toilet.


Tiara menggeleng pelan sambil membuka kulkas, dia berjongkok untuk mengambil selada. Dia berniat membuat salad buah dan sayur untuk mama Ani.


"Siapa kamu...???! "

__ADS_1


__ADS_2