
"Kamu dimana Dion? " suara Mariana di talian membuat Dion menepikan mobil yang sedang di kemudikan di bahu jalan.
"Aku. aku.. " Dion bingung akan menjawab apa. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Hingga memilih menyandarkan kepalanya di kemudi mobil dengan ponsel yang masih melekat di telinga.
Dafa di sebelahnya langsung meraih ponselnya setelah melihat keadaan abangnya.
"Hallo Tante.. " sapa Dafa setelah membaca nama pemanggil.
"Dafa, kamu dengan Dion. Kalian dimana, tante mau bicara sama Dion " ujar Mariana di talian.
"Di mana Tan ? " tanya Dafa. Setelah mendengar Mariana menyebutkan nama tempat. Panggilan pun berakhir.
"Bang, sini aku yang bawa mobilnya aja " tawar Dafa dan langsung turun untuk bergantian ke bagian kemudi. sedang Dion berpindah di kursi penumpang. Dion terus memegang kepalanya yang terasa nyeri kliyengan dengan menyandar lemah di kursi .
########
Indah semua cerita
Yang t'lah terlewati dalam satu cinta
Kita yang pernah bermimpi
Jalani semua, hanya ada kita
Namun ternyata, pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Mungkinkah aku meminta
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu
Namun ternyata, pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Mungkinkah aku meminta
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
__ADS_1
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita (cinta kita)
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu, ho-oh
Ho-ho-wo-oh
Ho-oh-oh
Mungkinkah aku meminta
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu melawan restu
###
Lagu itu seolah terus terngiang di telinga Tiara. Gadis itu menelungkup di ranjang sambil memangis, matanya bengkak. Ketukan di pintu bahkan panggilan Via dan Maura tak di endahkannya.
"Ra, bangun donk.. ini udah sore. Kamu belum makan. " kembali ketukan itu terdengar di luar pintu.
Seolah menulikan pendengarannya, Tiara memilih memejamkan mata karna lelah menangis.
Pukul 9 lebih, Tiara perlahan bangkit untuk turun. Perutnya melilit karna tidak makan sedari kemarin. Rumahnya tampak lenggang, tadi dia sempat mendengar suara kehebohan Maira dengan Ahmad. Anaknya tante Ida. Yang maknanya tadi tante Ida datang kesini. Tapi tak terlihat sama sekali ada orang lain di rumahnya.
"Non,mau makan Non.. ?" Suara bik Iyah pembantu baru mamahnya mengagetkan Tiara yang baru sampai di tangga bawah.
Dia menoleh ke arah bi Iyah dan mengangguk lemah.
Bi Iyah dengan cekatan menyiapkan semuanya, menghidangkan lauk dan nasi di sertai air hangat dan teh hangat juga potongan buah.
Tiara makan dengan keheningan, meski tak berselera dia mencoba mendorong makanan dengan air agar bisa masuk. Kepalanya sudah berat akibat terlalu lama menangis.
"Semua orang kemana, Bi ?" tanyanya saat melihat bi Iyah melintas membawa kardus.
"Eh, katanya Ibu tadi kondangan Non.. " Jawabnya gugup.
Tiara mengerutkan keningnya bingung. Seingatnya tidak ada jadwal undangan yang mendekati hari pernikahanya.
"Dengan Via juga tante Ida.. ?" tanyanya memastikan.
"Iya Non, den Dion, den Dafa juga Om nya Non, suami Non Via juga ikut. " Terang bi Iyah lagi.
Tiara memilih kembali ke kamar sembari memikirkan ucapan bi Iyah. Rasanya tidak mungkin kan kondangan tidak mengajaknya. Bahkan Om dan tantenya juga ikut. Apalagi Niko suami Via.
Lama berfikir hingga tak sadar sudah pukul 11 lebih saat Tiara mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.
__ADS_1
Dia bangun untuk mengintip lewat jendela kamarnya. Terlihat mamahnya turun dari mobil Dion. Maira yang tidur di gendong Via turun dari mobil Om nya di ikuti tante Ida juga anaknya. Baju yang mereka kenakan tampak rapi , menujukan jika mereka semua memang pergi ke suatu tempat resmi.
"Tapi kemana.. ?" begitu batin Tiara terus bertanya-tanya.
.
Pagi kembali menjelma, Tiara yang baru selesai mengaji subuh perlahan bangkit saat mendengar ketukan di pintu.
"Mama... " suaranya tercekat melihat wanita yang di cintainya tampak kuyu, mungkin kurang tidur . Ada rasa bersalah menyeruak dalam hatinya dan langsung menubruk memeluk mamahnya. Sedari kemarin mama Mariana tidak menemuinya atau bahkan bertanya apa-apa padanya. Saat itu juga Tiara merasa belum siap mengatakan kebenarannya. Tapi saat melihat wajah sayu mamahnya, hatinya ingin menjerit.
"Maaf Ma... Maaf.. " ucapnya di iringi tangis yang menyayat hati.
Sedang bagu Mariana. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat putrinya tampak berantakan dengan mata membengkak. Mariana ikut menitikan air matanya, tapi langsung di hapusnya seketika. Dan mengusap lembut punggung anak gadisnya yang masih berbalut mukena.
"Sudah jangan menangis.. " Di urainya pelukan itu, tangannya terulur mengusap bulir air mata yang mengenang di pipi Tiara.
"Maaf ma, maaf kan aku.. " kembali Tiara meminta maaf dengan terisak.
"Cup..cup.. sudah.. " Mariana menepuk pelan bahu anaknya. " Kamu percaya takdir kan.. ? " di tatapnya wajah anaknya itu. Tiara mengangguk cepat dengan menyeka ingus yang mulai mengalir.
"Seberapa kuat pun kamu berusaha jika dia bukan takdir mu, tidak akan pernah jadi takdir mu. "
Ucapan Mariana sukses membuat hati Tiara mencelos. Tapi kembali perasaannya yang menguat pada Alex membuatnya seolah menutup mata pada apa yang terjadi .
"Ayo turun sarapan.. " ajak Mariana saat melihat anaknya hanya diam melamun .
Gadis itu menurut juga akhirnya, kembali ke kamar untuk membuka mukenanya dan turun mengikuti mamanya.
"Wahhhhh... ini ponakan tante kah? kenapa jelek banget " Ida yang sedang menyiapkan piring mengernyit heran, tentu saja itu adalah caranya menggoda Tiara.
Yang di goda tampak terus menunduk sambil memanyunkan bibirnya dan memilih duduk tidak menghiraukan gelak tawa tantenya yang mengejeknya.
Tak lama Suami tante Ida juga bergabung, di ikuti Via dan suaminya. Minus Dafa dan Dion yang memang tidak tinggal di situ.
"Besok keluarga dari padang baru berangkat mbak.. " ujar Ida setelah semua duduk dengan khidmat di meja makan.
Mariana mengangguk " Jadi sebelum hari H semua udah berkumpul ya, Alhamdulillah.. "
Tiara langsung mendongak mendengar ucapan mamahnya. Lalu menatap pada mamanya juga beralih pada tante Ida, Om ipul, Via dan Niko.
"Mama.. pernikahannya ga jadi " ucapnya lirih tapi berhasil menghentikan kegiatan semua orang di meja makan.
"Memangnya kenapa ga jadi, kamu ga mau nikah? " jawab Mariana santai dan kembali menyendok nasi goreng buatan bik Iyah yang terasa hanbar di lidahnya.
Tiara menelan ludahnya kasar. Baru akan menjawab tapi kembali terdengar ucapan mamahnya.
"Semua sudah siap, kamu akan menikah tanggal 3 nanti . Kenapa kamu bilang ga jadi. Kamu ga mau nikah? " kembali pertanyaan itu keluar dari mamanya.
"Kamu mau nikah apa enggak? " kali ini suara tante Ida yang keluar.
Tiara bergantian menatap wajah mamahnya yang santai menyendok nasi goreng dan tante Ida yang menatapnya lekat. Seoalah menunggu jawabannya.
"Aku mau tapi Alex... "
"Ya udah Ra, kalau mau ya mau. Udah kamu ga usah banyak fikiran. Tenangkan hatimu, berdo'a agar semuanya lancar. Ya kan Tan.. ? " Via berbicara sambil menoleh ke arah tante Ida yang mengangguk.
"Aku belum selesai bicara Vi.. " Tiara melotot kesal pada Via yang tiba-tiba memotong pembicaraannya.
"Sudah sayang. Kamu kalau udah selesai kembali ke kamar.Banyak-banyak ngaji, berdo'a agar semuanya lancar.. " Ujar Mariana sambil menatap lekat ke arah putrinya.
Sepergian Tiara ke kamar Mariana menyandar lemah di kursi depan TV. Meaki pandangannya tertuju di layar TV. Tapi tidak dengan fikirannya.
__ADS_1
"Gimana mbak.. ?" Tanya Ida yang datang membawakan potongan buah naga. Dia duduk persis di sebelah kakak iparnya itu.
"Mereka bilang minta waktu 3 hari. Maknanya malam sebelum hari H adalah keputusannya. " jawab Mariana lesu.