Dia Yang Ku Cinta

Dia Yang Ku Cinta
Bab 27


__ADS_3

Sepasang kekasih itu saling diam di dalam mobil yang melaju, hujan rintik-rintik seolah menggambarkan perasaan Tiara saat ini.


"Kamu bilang keluarga mu tidak akan mempermasalahkan ini.. " ucap Tiara setelah beberapa saat menahan sesak.


"Tapi nyatanya apa, mereka menentang keputusan kamu. Apa memang sebelumnya kamu belum pernah berunding dengan keluargamu Lex. .?" cerca Tiara dengan tatapan sebal pada seseorang yang tetap fokus mengemudi.


"Aku juga bingung Ra, aku kira mereka tidak keberatan atas keputusan yang aku ambil." ujar lelaki itu, pikirannya juga kalut sekarang, hanya mamanya saja yang mendukung keputusannya. Sedang yang lainnya justru menentang.


"Trus sekarang gimana. ?" tanya Tiara seolah ingin tahu apa yang di fikirkan lelaki itu.


Alex kembali diam, tidak menyahut pertanyaan Tiara. Tiara yang merasakan kecewa memilih membuang pandangannya keluar jendela selama sisa perjalan menuju pulang.


Hujan sudah sedikit reda saat mereka tiba di rumah Tiara, perjalanan pulang jauh lebih lama karna derasnya hujan tadi. Alex lebih memilih mengurangi kecepatan laju kendaraanya karan licinnya jalan.


Tante Ida yang mendengar suara mobil berhenti, memilih melihat dari balik kaca jendela rumah.


"Tiara.. " Alex mencekal lengan Tiara saat gadis itu akan turun.


Tiara menoleh pada wajah kekasihnya itu tanpa mengatakan apapun.


"Aku minta kamu sedikit bersabar, aku minta waktu. Aku akan berusaha meyakinkan orang tua aku. " ucapab Alex begitu meyakinkan. hingga Tiara hanya mampu mengangguk patuh.


"Selamat istirahat ya, akilu ga mampir karna udah malam.. " Tangan Alex terulur membelai pipi Tiara.


"Iya.. hati-hati.. " ujar Tiara sebelum turun dari mobil.


Tiara melambai lemah saat mobil Alex mulai menjauh, impiannya ternyata tak semudah yang dia angankan. Gadia itu mendongak, air hujan membasahi pipinya. Matanya terasa panas tapi sekuat hati menahannya agar tantenya tidak khawatir.


Bunyi pintu terbuka membuat gadis itu memutarkan tubunya. Ida berdiri di pintu.


"Kenapa ga masuk, kamu bisa sakut hujan-hujanan malam-malam.. "


"Iya Tan, aku lagi menikmati rintiknya aja. Udah lama ga main hujan-hujanan.. " Gadis itu berusaha tersenyum guna menyembunyikan semuanya .


"Kamu kayak Maira aja.. " ujar Ida terkekeh.


"Ahh tante ngomongin Maira, aku jadi kangen gadis kecil itu. ." Tiara mengunci pintu setelah dia dan tantenya masuk.


"Iya ya, terakhir ketemu Maira saat lebaran. Pasti anak itu sudah tambah besar dan comel sekarang. Eh, sebentar lagi mungkin udah mau masuk TK.. " tambah Ida.


Tiara tersenyum mendengar penuturan tantenya, mereka memang hanya bertemu saat lebaran.

__ADS_1


Bayangan masa lalu melintas di kepalanya.


Saat itu baru akan memulai ujian ketika para murit heboh melihat Via pingsan di depan kelas. Dengan panik Tiara dan Nino membawa Via ke UKS. Setelah kedatangan Dokter memeriksa dan mengabarkan jika Via hamil 3 bulan.


Tiara dan Nino sama terkejutnya. Tidak menyangka sahabatanya berpacaran kelewat batas.


Via di usir dari rumah saat itu juga karna di anggap pembawa aib. Mama Mariana lah yang menolongnya, meski dengan menebalkan muka karna kehamilannya, Via tetap menyelesaikan ujiannya.


Saat ini Via tinggal di provinsi sebelah bersama Niko, lelaki yang sudah menghamilinya dulu.


Dan Malika adalah putri Via dan Niko. Gadis kecil yang mewarisi wajah ayahnya, tapi sifatnya hampir sama dengan Tiara.


Tiara merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Fikirannya kacau, untung saja tadi tantenya tidak menanyakan apa-apa.


Getar ponsel miliknya membuat gadis itu memaksakan tubuhnya untuk bangun . Di lihatnya layar yang menampilkan si pemanggil.


"Via. . . !" teriak gadis itu setelah menekan tombol hijau.


"Baru aja aku sama tante Ida ngomongin kamu, Mana Maira. . Maira tante kangen.. "


"Eh buset. Mulut lo dah ngalahin beo di rumah, Maira sudah tidur. " jawab Via di hujung talian.


"Yahh.... " desah kecewa Tiara dan kembali merebahkan tubuhnya.


###


Di sebuah rumah, terlihat seorang pria membujuk adik bungsunya yang sedang menangis.


"Udah donk Laila, bang Amir kan ga sengaja.. "


"Gak sengaja apa, bang Amir sengaja numpahin air di kertas gambar ku.. hwahu.. " Gadis itu semakin keras saja menangisnya, membuat Bara menghela nafas panjang.


"Hust.. nanti abang beliin yang baru deh, 2 buku sekaligus.. " kembali Bara berusaha membujuk.


"Ah, Abang sama aja sama bang Amir, suka ngibulin adek... hwahu.. mama... papa... "


"Abang ga ngibulin, besok kita beli ya. Sekarang jangan nangis cup-cup.. "


"Beneran ya.. ?" tanya gadis itu di sela senggukannya.


Bara mengangguk " bener, besok sepulang kerja kita ke mall beli ya.. " ucapnya meyakinkan.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk patuh, mengusap ingusnya dengan hujung bajunya.


"Uh.. jorok, minum dulu.. " Bara menyerahkan gelas berisi air untuk adiknya yang langsung di terima gadis kecil itu dan meneguknya hingga tandas.


" Udah malem, sekarang tidur . Besok sekolah.. " Bara mengusap sayang kepala adiknya.


"Iya, Laila bobok dulu bang.. " Gadis itu bangkit menuju kamarnya. " Jangan lupa janji abang " ucapnya sebelum hilang dari balik pintu.


Setelah melihat Laila masuk ke kamar, Bara bangun menuju kamar adik lelakinya. Amir.


Tok tok


"Boleh abang masuk.. ?" Tanya Bara pada Amir yang terlihat menoleh ke pintu.


Bara masuk ke kamar itu, mendekati Amir yang tengah membuka pelajaran sekolahnya.


"Kamu jago basket dek, apa nanti akan jadi profesor. ?"


Amir melirik sebal, yang di sambut gelak tawa Bara. Jelas-jelas Basket dan profesor adalah 2 profesi yang berbeda.


"Katanya mau jadi kayak papa, jadi kayak papa tu mesti sabar. Karna tingkah pasien kan beda-beda. Dan kamu ini ga ada sabar tlatennya jadi orang " .


"Aku mau ngurusin pasien yang enak di urus aja, kalau ga enak di urus aku suruh dokter lain yang ngurus. " ujar Amir santai.


Bara berdecih " Di dunia mana ada dokter model kayak gitu..?"


"Di dunia ini lah, dan aku lah orangnya " ucap Amir penuh kebanggan.


Bara merebahkan diri di ranjang adiknya, ranjang ini model single bed. Dengan hiasan ala anak muda menjelang dewasa. Satu tanganya menyangga kepalanya dengan posisi miring menghadap Amir.


"Dek. Kamu kan abangnya Laila, kenapa kamu selalu mengusik dia, bikin dia sebel sampe nangis. " tegur Bara akhirnya.


"Aku jengkel sama Laila, dia tu udah SMP. Tapi manjanya minta ampun ngalahin adik temen ku yang baru TK. Cengeng, dikit-dikit nangis, tukang ngadu lagi.. " gerutu Amir.


"Biar bagaimana pun itu adik kamu, adik kita. kalau kamu ga kamu atau abang, trus sapa yang akan jagain Laila. Apa lagi sikap kamu sama Laila kayak gitu terus.."


"Boleh ga sih bang, kita tuker aja adik kita itu. Aku mau adik yang manis, ga cengeng ga manja ga ngaduan. Beneran nanti aku bakalan jagain dia, ga akan ganggu dia, ga akan usil. "


Bara melongo mendengar penuturan Absurt adik lelakinya itu.


Model kayak gini nurun dari siapa. Mama Izza adalah wanita yang kalem, dan sedikit banyak itu menurun pada Bara.

__ADS_1


Papa Arlan sangat bijak dan manja, bukan sekali dua dia melihat betapa manjanya papa Arlan pada mama Izza. Mungkin itulah sedikit menurun pada Lailana.


"Kamu ini nurun siapa sih ,Dek.. ?"


__ADS_2