
Tiara tengah mematut dirinya di depan cermin ruang gantinya. Tunik bunga-bunga dia padankan bersama skinny Jeans warma hitam.Rambut ikalnya dia biarkan setengah tergerai, sedang setengahnya dia jepitkan pin berbentuk kupu-kupu.
Dandananya tidak menor, hanya simple. Lipstik warna nude dia kemas dalam nuansa natural. Tak lupa dia juga meraih tasnya, setelah lebih dulu mengecek isinya.
Setelah di rasa cukup, gadis itu melangkah keluar dari kamarnya.
"Gak makan dulu.. ?" tawar Ida saat melihat keponakannya sudah rapi.
"Enggak Tan, nanti aku kekenyangan ga bisa makan di sana. "
Tingtong.
Bunyi lonceng membuat Tiara bergegas memakai sepatu santainya.
"Itu kayaknya Alex " buru-buru Tiara membukakan pintu. Ida juga mengikuti hingga depan.
Alex tersenyum hangat, lelaki itu tampak mecing dengan kaos berlambang kuda.
"Udah siap.. ?" tanya Alex setelah melihat Tiara.
"Udah.. " gadis itu mengangguk lalu menyambar tangan tantenya " Aku pergi dulu ya Tan. " pamitnya.
"Iya, hati-hati.. " balas Ida.
Alex pun ikut menyalami Ida untuk pamit.
"Saya izin bawa Tiara, Tan .. "
Ida mengangguk sembari tersenyum " hati-hati,, ga lebih dari jam 10 ya.. " tutur Ida mengingatkan.
"Beres tan.. " jawab Alex meyakinkan .
Alex pun segera membukakan pintu untuk Tiara, mempersilahkan gadis itu masuk dan duduk nyaman.
"Makasih Alex.. " ucap Tiara.
"Sama-sama sayang. " Alex langsung memutari mobilnya ke arah kemudi. Setelah membunyikan klakson untuk pamit pada Ida, mobil mulai merayap menjauh menuju jalan besar.
Di dalam mobil, hanya keheningan yang melanda keduanya. Tiara tampak gugup meski berusaha menutupi.
" Sayang.. " tegur Alex dengan sesekali menoleh pada Tiara.
"Iya.. " jawab Tiara.
"Kamu nervous.. ?"
Gadis itu mengangguk, menghela nafas panjang guna menetralkan degup jantungnya. Ini adalah pertama kalinya Alex mengajak ke rumahnya, bertemu keluarga besarnya. Sesuai janji lelaki itu tempo hari, setelah papanya Alex kembali dari Belitung, Dia akan mengajak Tiara menemui keluarga besarnya.
"Santai aja ya, ga usah gugup gitu.. " Alex tertawa, agar Tiara tidak terlalu tegang.
"Bagaimana nanti aku bersikap Lex, jujur aku- aku panik banget. Takutnya melakukan kesalahan trus takutnya bikin keluarga kamu ilfil.. "
__ADS_1
Alex meraih satu tangan Tiara , mengenggam tangan yang terasa dingin itu.
" Mereka pasti akan menerima kamu sayang, keluarga ku orangnya santai kok, ga perlu terlalu tegang. Jadi diri kamu apa adanya ya.. Bersikap selayaknya kamu ke keluarga kamu.. " Alex mencium punggung tangan kekasihnya itu lembut. Membuat Tiara sedikit nyaman, melupakan segala hal yang dia fikirkan.
Jarak yang di tempuh untuk sampai ke rumah Alex adalah hampir 2 jam, lumayan jauh. Tiara merasakan jantungnya kembali maraton saat mobil memasuki kawasan perumahan dan berhenti pada sebuah rumah yang pagarnya sudah terbuka.
Suasana rumah itu lumayan ramai, karna banyaknya anak-anak yang mainan di halaman rumah. Beberapa mobil juga terparkir rapi di halaman yang luas itu.
Alex lebih dulu turun guna membukakan pintu untuk Tiara.
"Eh, kalian sudah datang..? " Mama Ellen menyambut kedatangan Alex dan Tiara.
"Apa kabar tante.. " sapa Tiara sambil salim pada mama Ellen.
"Baik, tante baik. Tiara apa kabar.. ?" mama Ellen tersenyum ramah. Dia menyukai Tiara, karna bagi dia gadis itu cukup baik jika bersanding dengan anaknya.
"Baik juga tante .. " jawab Tiara.
"Ayo masuk .. " Ellen menggandeng tangan Tiara, sedang Alex tersenyum mengikuti mereka dari belakang.
Tiba di ruang tamu suasana yang semula riuh langsung senyap saat Tiara masuk. Semua orang yang ada di dalam tampak menatap lekat ke arah Tiara.
Ellen melewati semua orang di ruang tamu, dan langsung menuju ruang tengah.
"Nah ini Papanya Alex.. " ujar Ellen saat berhenti di depan sekumpulan laki-laki yang tengah berbincang. " Papa, ini Tiara.. "
Lelaki dengam perut sedikit buncit itu langsung bangun dari duduk.
"Oh ini calonnya Alex..? " di iringi tawa ringan.
"Saya Tiara Om.." Ucap Tiara memperkenalkan diri.
"iya... nama Om Jonathan. Kalau mamanya Alex sudah kenal kan..? "lelaki itu merangkul pinggang istrinya sambil tersenyum.
Tiara mengangguk kikuk.
"Alex, ayo kenalkan Tiara pada keluarga yang lain.." ujar papa Jonathan.
Alex pun mengangguk, " Ayo Ra... " dengan menggandeng mesra tangan Tiara, Alex mengenalkan gadis itu pada seluruh keluarga besarnya.
"Kenapa kamu ga bilang Lex kalau ini ada acara ulan tahun adik mu, jujur aja tadi aku sempet bingung. Pas liat rumah kamu rame banget.. " gerutu Tiara saat Alex memintanya untuk duduk setelah acara perkenalan.
"Hehe... aku emang sengaja ga bilang, takut kamu tambah panik kerepotan cari kado.Apa lagi kamu juga sibuk kerja kalau hari biasa.. "
"Tapi aku justru malu, karna ga dateng bawa hadiah.. " Alex mengusap lembut bahu Tiara saat gadis itu memberengut kesal.
"Udah ga papa, lagian Angel hadiahnya udah banyak. "
Tak lama semua anak-anak kecil tampak berkumpul saat di panggil ibu mereka masing-masing dan acara ulang tahun pun di mulai. Angel adik bungsu Alex yang duduk di kelas 2 SMP tersenyum bahagia di hadapan kue tart besar berbentuk idol K-pop.
Alunan lagu happy birthday mengalun kencang di iringi musik piano. Tiara ikut mengikuti meriahnya suasana. Saat tiba giliran dia dan Alex memberi ucapan selamat untuk Angel.
__ADS_1
Tiara memeluk gadis itu, yang dulu pernah dia temui saat makan bersama dengan mama Ellen.
"Happy Birthday Angel, Wish you All the best for everything. " ucap Tiara.
"Thankyou kak Tiara.. " gadis itu tersenyum lebar saat pelukan terurai.
"Happy birthday Angel, tambah gede jangan manja.. " giliran Alex memeluk adiknya.
"haha.. makasih kak Alex, aku kan bungsu jadi wajar aja manja.. "
"Ga berarti karna bungsu jadi harus manja Angel.. " Alex mengusap penuh sayang kepala adiknya.
"Angel, maaf kakak ga bawa hadiah. ini untuk beli hadiah yaa.. " Tiara menyerahkan beberapa lembar uang merah yang di gulung pada Angel.
"Makasih kak..." Angel tersenyum lebar menerima uang yang cukup banyak untuk anak seumuranya.
"Sayang, kamu ga perlu repot-repot .. Angel, kembalikan uangnya ke kak Tiara.." ujar Alex saat mengetahui. Angel pun mengerucutkan bibirnya tidak rela.
"Ga papa lex, itu sebagai ganti hadiah. Boleh ya..? " ucap Tiara memelas.
Alex membuang nafas kasar lalu mengangguk, memilih mengalah saat Tiara tampak memelas. Tiara langsung merangkul tangan Alex kembali saat melihat lelaki itu mengangguk.
Selesai makan siang, Alex mengajak Tiara untuk duduk di ruang tengah. Di sana sudah ada papa Jonathan, mama Ellen, tante Fany, om Handoko juga saudara yang lain. Tak lupa kakek dan nenek Alex. Semua orang dewasa duduk tenang di kursi sofa yang memanjang.
Sedangkan anak-anak di ruang depan.
"Ma, pa, Ci dan semua yang ada. Anak lelaki ku sepertinya ada yang ingin di sampaikan sore ini.. " ucap Jonathan sembari tersenyum mengangguk pada Alex.
"ekhem.. " Alex lebih dulu berdehem sebelum membuka suara.
"Selamat sore semuanya, Jadi hari ini Alex memang sengaja membawa Tiara datang kesini, karna moment nya pas saat semua anggota keluarga berkumpul " Alex menjeda kalimatnya sambil memindai seluruh wajah anggota keluarga.
"Di samping Alex ini adalah gadis pilihan Alex dan Alex berniat serius bersama Tiara, untuk itulah Alex memohon restu kepada kalian semua. Rencananya bulan depan kami akan melangsungkan pertunangan.."
Tiara yang mendengat penuturan Alex hanya menunduk sambil meremas tanganya.
"Apa kamu sudah yakin Lex. ?" tanya kakek.
"Alex yakin kek, Alex sudah sangat yakin pada pilihan Alex. ."
"Bagaimana dengan Tiara..? "kali ini suara tante Mina, yang langsung membuat Tiara mendongak .Tiara tampak bingung karna gugup.
"Maksut tante Mina, apa Tiara juga sudah yakin pada Alex.. ?" tambah mama Ellen seolah tahu apa yang di fikirkan calon menantunya itu.
"Tiara juga sudah yakin pada Alex.." jawab Tiara malu-malu.
"Bagaimana dengan keyakinan kalian.. ?" kali ini nenek yang berbicara.
Alex memandang wajah Tiara, bertepatan gadis itu juga sedang menoleh ke arahnya.
Dengan saling menggenggam tangan. Alex dan Tiara mengangkat wajah mereka.
__ADS_1
"Alex mencintai Tiara, untuk itu Alex bersedia mengikuti keyakinan Tiara .. " tegas Alex dengan lantang.
Setelah mendengar ucapan Alex, seluruh anggota keluarga tampak saling memandang satu sama lain. Keadaan itu membuat Tiara bingung dan cemas sampai memucat.