
Apartemen
Razu meletakan sebuah buku catatan didepan meysha yang tengah duduk di sofa. Dan juga sebuah pena. “tulis apa yang tidak kamu bisa disini.” Pintanya.
Meysha melihat buku kecil itu kemudian melihat razu. “ Aku tidak bisa melakukan apapun, kecuali makan dan belajar.” Ujarnya.
“tinggal catat aja.”
“Aku tidak bisa mencatat sebanyak itu.”
Razu pun mengalihkan pandanganya dan mengganti topik pembicaraan nya. “hari ini orangtuaku pulang dari amerika. Jadi ntar malam persiapkan dirimu untuk bertemu mereka.” ujar razu. “aku akan membawa mu ke rumah orangtuaku untuk melihat mereka.”
“oke”
“kalau gitu aku kekampus dulu.”
“iya”
Kembali ketempat ini lagi, tempat yang menakutkan untuknya namun keluarganya tak memahami itu semua. Tinggal bersama orang yang tidak ia cintai, meski orang itu sedang berusaha baik kepadanya itu adalah ketakutan yang selalu menghantui dirinya setiap memejamkan mata.
Meysha menghela nafas. “baiklah. Aku akan mencobanya.”ujarnya tersenyum. Ketika meysha hendak masuk tiba tiba seseorang sudah menekan sandi dan itu terdengar beberapa kali. “siapa yang datang?” Tanya meysha bertanya Tanya.
Akhirnya bell dibunyikan oleh orang tersebut. meysha pun menghampiri pintu. Kemudian mematung melihat sosok yang datang dari alat canggih tersebut. “kenapa dia datang?” Tanya meysha dalam hati.
Cukup lama ia terdiam kemudian dikejutkan dengan bell ketiga kalinya. Meysha menghela nafas berusaha tenang kemudian membuka pintu. Melihat sosok wanita seangkatan ibunya ini membuat meysha menelan ludahnya.
“sejak kapan sandi apartemen anak ku diganti?” Tanya alira masuk menerobos dengan dinginnya.
“bang razu menggantinya baru 2 hari yang lalu, tante .” Sahut meysha mengikuti alira dengan rasa takutnya.
Alira langsung ke dapur dan menyiapkan semua yang dia bawa. “dimana razu?” Tanya alira.
“bang razu, dikampus. Tante.”
“ saya membawa beberapa bahan makanan dan saya juga membawa banyak makanan. Bilang sama dia untuk memakannya.” Tutur alira sambil mengisikan bahan bahan mentah kedalam kulkas besar tersebut.
“iya. Tante.” Sahut meysha.
“jangan memanggilku tante. Bagaimana pun hubungan saya dan mamamu dimasa lalu. Sekarang kamu adalah putri ku juga. tolong panggil aku mama..” pinta alira.
“i_ya. Tan. Eh mama.”
“aku tidak membencimu, tapi aku hanya tidak menyukaimu dan mamamu.”
“iya”
“aku bawakan ini untuk mu, ini sangat cocok untuk pengantin baru. Aku harap kamu segera memberikan cucu untukku. Aku tahu keluargamu sudah punya banyak anak kecil. tapi aku belum mempunyai nya. Aku juga ingin menggendong anak dari putraku karena dia sudah menikah.” Tutur alira membuat meysha berkeringat dingin.
“kamu dengar aku?” Tanya alira.
__ADS_1
“iya tante. Eh mama”
“oke, aku pergi dulu.”
“iya mah, hati hati.”
Meysha mengantar alira keluar setelah itu ia masuk kembali dengan gesit ia menghirup oksigen. “jantungku hampir saja berhenti berdetak” rutuknya. “ ibu dan anak, mereka sama sama meresahkan” ujar meysha.
Malam pun datang, mereka sudah siap siap hendak pergi. “bagaimana?” Tanya meysha melihatkan dirinya dengan dress hitam yang membalut tubuh cantiknya.
“Kenapa kamu begitu antusias. Biasa saja. Oke.” Tutur razu agar membuat meysha rileks.
“oke”
Mereka pun berangkat. Dan sampai disitu kisaran pukul delapan. Ia disambut oleh orangtua razu. Terutama anton yang begitu semangat sekali menyambut sang menantu.
Mereka berempat saling pandang diujung pintu tersebut.
“ayo masuk, aku sudah lapar.” Ujar alira dengan gaya dinginnya itu.
“ayo masuk, jangan takut ya menantu papa.” Ujar anton begitu ramah dengan meysha.
“baik. Pa.” sahut meysha tersenyum malu.
Diruang makan. Anton melihat meysha yang tampak masih sangat canggung. Razu juga melihat wajah meysha yang tampak tak nyaman. Ia pun menggenggam tangan meysha kemudian berbisik. “santai saja.”
“bagaimana kabar mu?, Apa kamu diperlakukan dengan baik oleh anak nakal ini?” tanya anton kepada meysha.
“siapa tau aja. Kamu kan rada aneh.” Tutur papanya.
“udah ayo makan.”
Meysha pun hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun makan dengan tenang sampai waktu berlalu mereka selesai makan. Entah kenapa setelah meysha makan ia merasa tubuhnya panas.
“mah ac diruang makan rusak ya?” Tanya razu.
“anggak tuh. Kenapa emang?” Tanya alira.
“kok panas ya. Anin kamu merasa panas nggak?” Tanya razu melihat anin. Anin mengangguk lemas.
“itu obatnya sudah beraksi berarti.” Sahut alira membuat ketiga orang itu terkejut.
“obat apa maksudnya mama?” Tanya razu.
“obat kuat.”
“apa itu papa?” Tanya razu.
“mah, kamu melakukan itu?” Tanya anton tidak menyangka istrinya berbuat begitu.
__ADS_1
“mama hanya ingin cepat dapat cucu.” Sahut alira.
Razu dan meysha tidak lagi paham apa yang mereka katakan. Karena tubuhnya benar benar lemas dan bergairah. Tiba tiba ia merasakan ada yang mengangkat keduanya. Sedangkan alira dan anton bertengkar karena sudah ikut campur privasi anaknya.
“pah pengen dapat cucu bukan?”
“tentu.”
“kalau gitu diam saja.”
“tapi mah meysha itu masih kecil, papa tidak suka gaya mama ah.” Suaminya kesal benget.
“intinya pengen cucukan?” Tanya alira lagi. Kalau cucu tentu anton tidak menolak Karena memang itu yang sangat ia inginkan selama ini. tapi sayang dia hanya punya satu anak jadi harus sabar menunggu.
Dikamar dua insan tersebut sudah tak tahan dengan tubuh mereka masing masing sebab karena ulah alira yang memaksakan kehendaknya. “kita harus tahan ini.” tutur razu meyakinkan meysha pasti bisa menahan diri.
“tapi ini sangat panas.” Tutur meysha merengek.
“kita harus menahannya… jangan sampai kita melakukan apa yang akan membuat mu menyesal.” Bujuk razu.
“sampai kapan?” Tanya meysha benar benar sangat lemas dan haus ingin disentuh.
“aku tidak tahu, semoga aja hanya sebentar.” Tutur razu juga kesulitan menahannya.
“apakah kamu menyukaiku?” Tanya meysha melihat razu dengan segenap hatinya. Razu pun mengelakkan wajahnya dari wajah meysha karena terlalu dekat sekali.
“aku tidak akan melakukan apapun. Jadi tahan lah.”
Tubuh mereka berkeringat dan wajahnya benar benar kepanasan. Razu menjauh dari meysha dan meraih pintu toilet yang ternyata terkunci entah siapa yang menguncinya. Arggh ini gila!. Teriak razu frustasi. Sedangkan obat yang berada ditubuhnya terus memompa dirinya.
“pa_panas bg razu.” rengek meysha. “apakah tidak ada ac.” Tanya meysha.
“AC tidak akan berfungsi dengan keadaan kita yang seperti ini nin.” Sahut razu.
“lalu?, bagaimana?. Apakah kita akan mati disini.” Tutur meysha kini melangkah gontai dan akhirnya terjatuh kelantai. "Rumah orang kaya, kok nggak ada Ac-nya sih. aneh."
“kamu tidak papa?” Tanya razu.
“aku hampir mati, bang razu. tolong bawa aku kerumah sakit.” Rengek meysha memohon.
Namun razu sepertinya sudah tak bisa menahan dirinya. Ia mengecup benda kenyal gadis ini ketika gadis ini merengek untuk dibawa kerumah sakit. Meysha pun menahan tubuh razu. dan sedikit mendorongnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya meysha.
“tidak ada cara lain untuk keadaan ini mey. Maafkan aku. Aku tidak mau gila dan aku juga meninggal hanya karena hasrat yang tak terpenuhi” Ujar razu menatap meysha dengan sangat haus. Namun meysha menahan wajah razu yang hampir saja mencium apa yang dapat olehnya.
“apakah kamu menyukaiku?” Tanya meysha. Razu mengangguk. Disitu meysha melepaskan tangannya dari Razu. Razu pun dengan hausnya menenggelamkan wajahnya pada leher meysha.
Kemudian ia mengangkat wajahnya kemudian mengecup si kenyal milik istrinya tersebut. tanpa ragu lagi mereka saling membalas. Ini adalah pertama kalinya untuk seorang meysha mendapatkan dirinya dicium begitu brutal. Sedangkan razu yang sudah lihai dalam berciuman makin mendominasi ciuman tersebut. makin detiknya makin dalam.
__ADS_1
Bersambung;)