DIAM-DIAM MENIKAH

DIAM-DIAM MENIKAH
Dosen Killer


__ADS_3

Keesokan paginya meysha sudah sibuk beres beres hendak kekampus. Sedang razu pagi pagi sudah didepan laptopnya sedang mengetik. Meysha mendekati razu dengan membawa pengering rambut sekaligus ikat rambutnya.


“tolong” tuturnya menyodorkan barang berang tersebut. Razu yang sudah paham pun menarik pinggang meysha untuk duduk di pahanya kemudian menghidupkan pengering rambut tersebut dan mulai mengeringkannya.


“belajar sama siapa sekarang?” tanya razu.


“sama bapak kiler itu.” tutur meysha tampak menyesal sekali membayangkan sosok killer itu. bahkan ia berkali kali menarik nafasnya.


“pak akman?” tanya razu.


“ya iyalah siapa lagi. Kan Cuma dia yang jahat di tempat itu.” oceh meysha.


“shittttt nggak boleh bilang dosen itu jahat.” Ujar razu kini berpindah menyisir rambut gadis cantik ini.


Setelah selesai meysha pun pergi meninggalkan razu yang kembali mengerjakan tugasnya.


Dikampus meysha datang hampir saja terlambat, karena ia berdiri dibelakang dosennya yang paling ditakuti oleh seluruh mahasiswa. Ia adalah seorang dosen tua yang terkenal sangat killer dikampus ini. namanya pak akman. Semua orang sudah tau bahkan semua orang sangat takut terhadapnya.


Cerita kebanyakan senior ia mudah sekali main tangan, dan kerjaannya hanya marah marah saja. Marah marah itu sungguh benar suatu fakta karena tak ada satu hari pun belajar dengannya terasa tenang.


“nomor 14.” Panggilnya. Ia memanggil sesuai urutan absen. Nomor 14 itu sudah ditandai alpha oleh pria tua ini. “anda nomor 14 bukan?” bentak pak akman menunjuk meysha yang baru saja duduk dan menghela nafas karena berlari lari tadi.


“i_iya pak” jawab meysha terbata bata karena masih mengatur nafasnya.


“lalu kenapa anda tidak menjawab tadi!” teriaknya.


Baru pagi sudah kenak hantam saja sama bapak ini. “maaf pak” tutur meysha dengan wajahnya yang berubah pucat pasi.


Pak akman pun mengubah absen meysha dari alpha menjadi hadir kemudian menyimpan filenya. Pelajaran itu dimulai. Awalnya pak akman menerangkan baik baik saja terus makin jauh makin keras dan itu sudah biasa untuk mahasiswa kelas ini. bahkan mungkin seluruh lokal baik itu angkatan satu angkatan dua tiga dan angkatan terakhir.


Hari ini sepertinya tidak biasanya, bapaknya lebih ganas dari sebelumnya. Bahkan ia berkata kotor dan menyumpahi mahasiswanya karena tak mampu menjawab pertanyaan dari dirinya.


“bodoh!” kata kata yang paling sering ia katakan dengan suara lantang. “ kalian bodoh melebihi cacing!” teriaknya lagi lagi melihat semua orang hanya diam.


“inii mahasiswa macam apa?. Kok ada mahasiswa sebodoh kalian ini!” teriaknya lagi. Pria tua itu menghampiri satu persatu dari mahasiswa dan mengecek hasil kerja mahasiswa tersebut.

__ADS_1


Sumpah hari ini bapaknya terlihat sangat tidak mood sama sekali, bahkan ia terlihat terpaksa mengajar. Makin dekat hati meysha makin berdegup kencang dan menyesak dadanya. Dua dari mereka kenak dorong kepalanya.


“mana yang anda buat?” tanya pak akman kepada meysha melihat tugas meysha yang kebetulan meysha tak mengerjakan apa pun hari ini.


Meysha langsung menundukkan pandangannya. Hari ini ia membuat kesalahan dua kali dengan orang yang sama. Pria ini makin terlihat geram. “oik” bentak pria ini me Noel bahu meysha dengan kasar. “saya bicara dengan anda!”


Demi apapun suara pak akman benar benar sangat menakutkan. Apalagi sorotan matanya. “jawab saya bodoh! Tolol!” teriak pak akman langsung dengan ringannya tangan nya melayang mendorong kepala meysha dengan sangat kuat.


Meysha memejamkan matanya,menahan rasa sakit kena tangan dosennya ini. air matanya pun turun. Sedangkan pak akman tak memiliki tatapan iba dengan gadis ini. ia justru pergi dengan masih memaki maki semua mahasiswa dengan kata sakralnya tersebut.


“saya mengasih waktu untuk kalian 7 menit!. Tapi apa. Mana yang kalian kerjakan itu hah?!” teriaknya membuat semua orang akhirnya menunduk tak berani menatap mata pak akman.


Tang!.


Semua orang terkejut mendengar benda jatuh itu. ternyata itu adalah laptopnya. Pak akman membanting leptop tersebut karena emosi dosen ini sudah sampai di ubun ubun. “kalian semua memancing mancing saya!. Sebenarnya itu bukan saya yang killer. Tapi kalian lah yang killer bodoh. Tolol binatang.” Umpat pak akman. “kalian yang memancing mancing emosi saya terusan.”


“Keluar kalian semua.” Teriak pak akman.


Sedangkan mereka semua hanya diam. Untuk kedua kalinya dosen ini pun berteriak. “keluar kalian semua sebelum saya tampar” bentaknya. “jam kalian semua sudah habis dengan saya jadi keluar!” tambahnya.


Semuanya pun segera membereskan barang barangnya dan meninggalkan tempat tersebut. meysha keluar lebih dulu ia segera menuruni anak tangga. Teman temannya mengejar dari belakang.


“apa?” tanya meysha berhenti melihat febi dan dua temannya dibelakang.


“lo nggak papa?” tanya dian.


“gue nggak papa”sahut gadis ini. meski matanya sudah sembab karena menangis.


“nggak biasanya lo, nggak bikin tugas bapak itu. kenapa?. Apakah lo lagi ada masalah?” tanya febi.


“gue nggak sempat belajar karena sibuk open BO.” Ketus meysha sambil melihat sonia yang hanya diam disamping dian. “lain kali tidak usah pedulikan wanita murahan ini.” ujarnya kemudian meysha pergi dari sana.


Saat ia menjauh dari teman temannya ia tak sengaja ketemu dengan razu yang sepertinya hendak masuk kelasnya juga. Meysha menunduk kepada razu dan razu pun seperti biasanya sebagai senior. Yaitu cuek dan menatap dingin.


Ketika gadis itu sudah berlalu, razu melihat punggung gadis tersebut. kemudian melihat ke depan ada teman temannya yang terdiam. Terutama sonia. Razu menatap sonia dengan serius. “aku ingin bicara dengan mu” pinta razu kepada sonia.

__ADS_1


“aku tidak ada waktu bg razu, sorry” ketus sonia kemudian pergi dari sana.


“sonia dan meysha kenapa si?” tanya dian kepada febi.


“bukan apa apa.” Sahut febi kemudian ikut pergi sehingga dian pun merasa canggung berduaan dengan seniornya.


“so sorry kak. Saya harus pergi juga. permisi.” Tutur dian akhirnya lari terbirit birit.


Tak lama rombongan kelas meysha berpapasan juga dengan razu, razu melihat ada dua orang diantara mereka yang matanya sudah bengkak akibat menangis. Ia pun berpikir sejenak akhirnya paham sebab teringat kata istrinya bahwa kelasnya belajar dengan pak akman.


“ternyata keterusan ya.” Rungutnya sembari pergi berlalu.


“gue lebih kasian kepada meysha sih dari pada anak anak itu.” tutur rombongan tepat disaat razu berhadapan dengan mereka semua. Seketika mereka menunduk menyapa razu kemudian meneruskan jalannya sambil berbincang bincang.


“padahal meysha itu pintar banget dan dia selalu dipuji puji tapi bisa bisanya dia yang kena pukul.” Sambung yang lain.


Deg!


Seketika mata razu membelalak mendengar meysha yang sudah dipukul oleh dosen killer itu.


“apa meysha kenak pukul sama pak akman?” suara laki laki itu menyadarkan razu dari keterkejutannya. Pria ini langsung melihat sosok pria itu. siapa lagi kalau tidak alfano. Alfano menghampiri rombongan itu. “kalian serius meysha dipukul. Sekarang dia dimana?” tanya alfano sangat khawatir melebihi dari razu.


“kami tidak tahu dia dimana. Karena habis keluar mereka saling pergi begitu saja.” Tutur mimi.


“pasti mentalnya tidak baik baik saja saat ini.” ujar alfano merungut sendiri. Alfano pun pergi setelah mengatakan terimakasih atas info tersebut.


Saat alfano telah jauh razu menghalangi jalan pria ini dengan menantang membuat alfano hampir saja tergelincir. “mau kemana lo?” ketus razu dengan amarahnya. “bukannya arah labor kesitu?” tunjuk razu ke gedung bewarna oren tersebut.


“maaf bang razu, saya buru buru.” Ketus alfano lantang.


“Apakah lo sedang berniat untuk menemui istri gue?” tanya pria ini mengangkat alisnya dengan wajah yang sangat curiga.


“istri?. Oh iya. Saya hampir lupa. Meysha adalah istri bang razu, ya.” Kekeh alfano dengan senyum miringnya. “Tapi maaf bang razu. Saat ini saya tidak bisa melihat meysha tertekan sendiri. Sedangkan suaminya tak peduli. Jadi saya minta lupakan dulu hubungan aneh kalian itu. permisi!”


Razu langsung mengepalkan kedua tangannya. Ia benar benar hendak memukul wajah pria yang telah berlari menjauhi posisinya itu. “kurang ajar” rungutnya.

__ADS_1


….


Bersambung:)


__ADS_2