
...****************...
Meysha memakai dress hitam selutut dengan menyandang tas kuliahnya, ia berjalan dikoridor kampus. Pesona feminimnya membuat semua orang takjub dengan kecantikan natural gadis tersebut. Dia adalah gadis cantik dan sempurna, ditambah lagi dia berasal dari konglomerat tentu sangat terawat sekali.
“meysha” sorak teman temanya membuat si pemilik nama langsung berpaling kebelakang melihat sosok yang memanggilnya.
“dian.” Sapa gadis ini saat dian sudah dihadapannya. “lo sendiri, yang lain mana?” tanya meysha.
“sonia ke korea dengan papanya dan febbi lagi males kuliah katanya.” Jawab dian sambil merangkul tangan meysha.
“hoalah.”
“lo, terlihat sangat cantik mey.” Puji dian.
“haha, biasa aja kok.” Sahut meysha tersipu malu. “hari ini lo ada kegiatan tidak?” tanya meysha melihat dian kembali.
“nggak ada, emang kenapa?”
“nggak papa gue nanya aja.”
Sebenarnya meysha ingin mengajak dian namun seketika ia urungkan niatnya karena ia tidak ingin ada yang tau bahwa ia akan melabrak bella nantik setelah pulang praktikum sore ini.
Mereka sampai didepan pintu masuk labbor, gadis ini memasang jaslabnya terlebih dahulu lalu kemudian baru masuk bersama dian. Setelah masuk meysha melihat razu sudah didepan sedang membaca bukunya.
“permisi bang.” Izin meysha.
Razu melihat meysha “ya, cepat duduk.” Suruhnya dengan cuek.
“kok mereka terlihat seperti tak memilki hubungan apapun ya?” bisik teman temannya bergosip melihat meysha dan razu yang begitu terlihat saling cuek. Kan orang pacaran saja kalau ketemu pasti ada salah tingkahnya apalagi ini suami istri.
“apakah jangan jangan pernikahan mereka sangat membosankan ya.” Argumen argumen tidak penting mulai keluar.
“baik, mari kita mulai ya. Kuis untuk pagi ini. soal nomor satu” razu pun mulai berjalan dari meja kemeja sambil membacakan soal persoal. Selesai membacakan “baik seperti biasa, mulai 5 menit dari sekarang.” Tuturnya.
Pria ini berputar sana sini mengecek setiap pekerjaan dari mereka semuanya. Ia melihat meysha sekilas yang tampak fokus mengerjakan soalnya. Ketika yang lain melihat razu razu langsung menghindari matanya melihat meysha.
“waktu tinggal 30 detik, sipengumpul pertama dapat nilai tambahan 10 point.” Ujar razu membuat anak anak itu makin kejar kejaran ingin mendapatkan nilai sebanyak itu.
Kali ini dian adalah pengumpul pertama lalu baru meysha. Razu dengan datar mengambil kertas tersebut. tak lama pintu labor diketuk membuat semua mata melihat kesana. Dan ternyata itu alfano.
“izin bang, alfano minggu kemarin nggak ikut praktikum. Jadi alfano disuruh gabung dengan kelas ini bang.” Pinta alfano melihat razu.
“siapa yang menyuruhmu?” tanya razu.
“abang sendiri” sahut alfano membuat razu pun langsung teringat.
Tapi nggak harus kelas ini juga kalik. Batin razu berkata kata. Razu mengecek demi kelompok sudah lengkap 3 orang semua, kecuali kelompok meysha. “dian, dimana anggota kelompok mu yang lain?” tanya razu melihat dian.
__ADS_1
“nggak hadir bang, kami hanya berdua bang.” Sahut dian. Razu melihat alfano lalu melihat meysha. “bang alfano disini aja bg, soalnya kami hanya berdua bang.” Pinta dian meysha langsung mencubit lengan dian.
Harus profesional dong razu. “baik lah, alfano kamu gabung dengan kelompok dian dan anindya.” Ujar razu dengan nada sedikit tidak iklas sih. Melihat mantan pacar istrinya dekat dengan istrinya.
“baik bang terimakasih” sahut alfano kemudian menghampiri kelompok meysha. Alfano berdiri ditengah tengah mereka. parktikum pun dimulai. Alfano merakit rangkaiannya, sedangkan meysha kali ini memerhatikan kerja alfano. Setelah menghampiri kelompok satu per satu tiba kelompok meysha. Razu melihat meysha dengan memberikan kode yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh pasangan suami istri ini
“aman?” tanya razu kepada mereka.
“aman bang” jawab meysha.
Seharunya bilang nggak aman lah. Nggak peka banget sih kalau suaminya lagi cemburu. Batin razu menaikan alisnya.
Alfano melihat nilai dari resistor, “anin ini benarkan nilainya seribu?”tanya alfano mendekatkan resistor tersebut,bahkan kepala mereka sangat dekat sekali.
“iya” sahut meysha.
“dian kamu cari resistor 11 kiloohm satu dan 10 kiloohm ya.” Suruh alfano. “sedangkan kami nin, bantu aku membaca gelombang disini lalu catat ntar.” Jelas alfano.
“iya” sahut meysha tak dapat berkutik karena suaminya masih disitu melihat kerja mereka.
“bang razu” tiba tiba daa yang memanggil membuat pria itu akhirnya pergi meninggalkan kelompok meysha.
“suami lo kok cuek banget sih sama lo” tutur dian membuat alfano sedikit tersentak dan kurang nayaman dengan pembahasan dian.
“kalau gue jadi dia, mungkin gue udah cemburu liat kalian dekat segitunya tadi.” Ujarnya karena memerhatikan meysha dan alfano sejak tadi. Tapi bisa bisanya razu hanya terlihat biasa saja dimata dian.
“cinta nggak sih dia sama lo?” tanya dain seketika.
“udah ah, orang praktikum kamu malah membahas yang tidak penting” tutur meysha.
Sedangkan alfano hanya diam saja sambil mengerjakan parktikumnya. “nin tolong pegangin ini dong.” Pinta alfano. Meysha pun segera memegang dua kabel penghubung tersebut. “udah” sahut alfano.
“bisa ambil data kan?”tanya meysha kepada alfano.
“udah.” Jawab alfano. “dian tolong catat ya. Kita mau baca datanya.”
Praktikum berlangsung dengan baik, ya seperti biasanya namun kali ini ada yang kepanasan karena ada mantan pacar dan suami dalam satu ruangan. Setelah selesai a;fano menghampiri meysha yang berdiri didekat razu.
“ada apa, al?” tanya meysha.
“mmm, bang razu. boleh pinjam anindya bentar?” tanya alfano membuat meysha langsung mengerjapkan matanya dan melihat razu.
“pinjam?. Emang lo kira dia buku perpustakaan hah?. Pake dipinjam.” Jawab razu dengan sinis.
“hehe, tapi saya mau bicara serius dengan meysha. 4 mata” ujar alfano melihatkan 4 jarinya karena ingin bicara dengan meysha.
“nggak bisa 6 mata?” tawar razu.
__ADS_1
“hehe.. nggak bang. Boleh ya.” Ujar pinta alfano.
“5 menit” tawar razu.
“haha, oke oke.” Sahut alfano mengiyakan.
“yok anindya.” Ajak alfano meraih tangan meysha.
“nggak penggangan tangan juga lah.” Ketus razu sewot membuat alfano langsung melepaskan tangan meysha.
“sory sorry bang.” Ledek alfano. Sedangkan meysha mengikuti alfano.
Sudah jauh dari sana meysha pun bertanya. “ada apa al, kok jauh jauh sekali.”
“mmm, aku ingin mengembalikan ini.” alfano memberikan gelang antik tersebut membuat meysha terdiam.
“kenapa kamu kembalikan?, inikan aku buat untuk mu. ini karya pertamaku loh.” Ujar meysha lirih.
“aku tau nin. Tapi aku merasa tidak pantas menerima ini.” tutur alfano meraih tangan meysha dan meletakan gelang tersebut ditelapak tangan meysha. “maafkan aku ya, aku nggak bisa menerima barang ini.” tutur alfano.
Meysha pun menggenggamnya. “baik lah kalau itu sudah menjadi keputusanmu.” Sahut meysha menerima keputusan alfano untuk mengembalikan gelang yang pernah ia berikan kepadanya saat baru jadian hari itu.
Gelang itu ia buat sendiri dengan ukiran nama alfano dan menyimpannya begitu lama, namun akhirnya gelang itu pun malah dikembalikan oleh pria ini. alfano pun pamit meniggalkan meysha dan meysha pun mengangguk menerimanya.
Setelah itu meysha menghampiri razu kembali. Razu melihat meysha. “Apa yang kalian bicarakan?, kenapa tiba tiba wajah mu ditekuk begitu?” tanya razu.
“bukan apa apa kok bang, oh iya aku duluan ya.” Tutur meysha.
“setelah ini kamu mau kemana?” tanya razu kembali.
“mungkin aku agak lambat pulang, karena ada urusan yang harus ku selesaikan bg.” Tutur meysha membuat razu bertanya tanya,namun bila melihat raut wajah gadis ini pasti gadis ini tidak akan menjawabnya.
“oke, hati hati.” Jawab razu lebih mengabaikan.
Meysha pun pergi dari sana dengan menyandang tas kecilnya meninggalkan labor yang isinya Cuma dirinya dan razu tersebut.
Tak lama razu juga keluar dari sana. Saat razu keluar ia bertemu dengan danto dan teman temannya yang lain.
“eh zu, habis ngapain lo. Baru baru ini gue lihat si anindya yang keluar. Kalian berdua didalam?” tanya danto dengan tatapan mesumnya itu.
“apa yang lo pikirkan?” tinju pelan razu ke bahu danto.
“haha… istri lo ada urusan apa dengan bella?. tumben mereka akur?” tanya wira membuat razu menaikan alisnya.
“apa lo bilang?. Meysha dengan bella berduaan?” tanya razu kembali untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
“iya. Baru aja pergi.” Sahut wira menunjuk arah kebelakangnya. Seketika razu langsung berlari untuk menyusul namun kehilangan keduanya.
__ADS_1
Bersambung :)