
Malam ini pria yang akan dikenalkan kepada Ziva akan datang. Semua anaknya,menantu dan cucunya juga ikut hadir. Pria itu membawa 4 paper bag dengan isi yang berbeda tentunya untuk Rachel,Ziva dan dua cucu perempuan Daniel.
"Selamat malam,Tuan Daniel!"sapanya dengan ramah.
"Selamat malam juga, terima kasih sudah mau hadir dalam undangan makan malam di rumahku."Ujar Daniel.
Pria itu pun tersenyum kepada anak-anaknya Daniel.
"Kakak,dia pria yang ada di toko kita beberapa hari yang lalu,"bisik Ziva di telinga Razi.
Pria itupun mengenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya pada Ziva dan disambutnya.
"Ada bingkisan untuk kedua gadis lucu ini,"ucap pria itu.
Reva dan Valia mengambilnya dengan senang hati dan mereka mengucapkan terima kasih. Begitu juga dengan Rachel dan Ziva.
"Wah,tasnya bagus banget. Terima kasih 'ya!"puji Rachel mengintip isi tas kantong kertas itu.
"Sama-sama,Kak!"ucap pria itu.
"Aku mampu membelikan 10 tas seperti itu,"bisik Vano cemburu di telinga istrinya.
"Ayo, silahkan masuk. Mari kita makan!"ajak Daniel.
Mereka duduk dan menikmati makan malam bersama.
Daniel menceritakan semua tentang Ziva dan lainnya hanya sebagai pendengar yang baik termasuk wanita yang diperkenalkan pada pria itu. Sejam kemudian,
makan malam mereka selesai.
"Terima kasih atas jamuan makan malamnya,Tuan Daniel!"ucapnya.
"Sama-sama,Tuan Razka!"balas Daniel.
Seluruh keluarga menyalami Aryan dan mengucapkan terima kasih. Selepas pria itu pergi,Ziva mendekati kakaknya yang sedang menuju kamarnya.
"Pria tadi sepertinya tidak mengenali kita sebelumnya, padahal ia sempat menolong kita,"ucap Ziva.
"Kakak pun juga heran,"sahut Razi.
"Tapi untung saja , pria itu tidak memberi tahu Papa kalau kita sudah pernah bertemu,"ucap Ziva.
"Semoga saja,pria itu tidak membocorkan kejadian kemarin,"harap Razi.
"Semoga saja,Kak!"
...****************...
Seminggu ini Nessa tak datang ke toko,Ziva mulai bertanya pada Razi saat di dalam mobil menuju toko.
"Kak Nessa apa masih bekerja di kafe Kak Vandi?"tanya Ziva pada Razi yang lagi menyetir.
"Kakak sudah lama tidak ke sana,"ujar Razi."Memangnya kenapa?"tanya balik Razi.
"Seminggu ini ia tidak ada membeli kue atau bunga,"jawab Ziva.
"Mungkin dia lagi pergi atau sakit,"ucap Razi.
"Nanti sore kita main ke kafe Kak Vandi 'ya!"ajak Ziva.
"Oke,nanti sore Kakak jemput kamu!"sahut Razi.
Sesampainya di toko,Ziva membantu karyawannya menyusun kue dan roti di etalase. Kemudian ia memilih bunga-bunga yang masih layak dijual. Di tengah kesibukannya,Razka datang ke tokonya.
"Apa aku menggangu kamu?"
Ziva tersentak mendengar suaranya kemudian menoleh ke arah suara."Hai,ada apa?"sapanya sedikit canggung.
"Aku mau membeli beberapa bungkus roti,"ucap Razka.
"Mau berapa bungkus biar karyawan saya siapkan?"
__ADS_1
"Cuma 50 bungkus saja,"jawabnya.
"Baiklah,"sahut Ziva.
"Ini toko milik kamu?"
"Toko kue peninggalan Mama sekarang aku yang meneruskan dan toko bunga itu usahaku yang belum setahun berjalan,"jelas Ziva."Anda tidak bekerja,Tuan Razka?"tanyanya kembali.
Razka tersenyum lalu berkata,"Tidak!"
"Saya lupa kalau kamu ternyata seorang bos,"ucap Ziva tersenyum.
"Kalau tersenyum makin cantik saja dia,"batinnya berucap.
"Nih,Tuan!"Ziva menyodorkan roti pesanannya dalam kantong plastik.
"Terima kasih,"ucapnya."Jangan panggil aku,Tuan!"ucapnya lagi sembari tersenyum.
"Baiklah,Razka!"
"Aku bisa minta kartu nama kamu,"ucap Razka.
"Sebentar!"Ziva merogoh tasnya dan membuka dompetnya kemudian menyerahkannya kepada Razka.
"Terima kasih,Ziva."
"Sama-sama, Tuan eh Razka."
Sore hari,Razi menepati janjinya akan membawa Ziva berkunjung ke kafe Vandi.
"Kamu rindu denganku 'ya?"celetuk Vandi sesaat Razi dan Ziva duduk.
"Itu maunya kamu,"sahut Razi.
"Ada apa Nona cantik ini kemari?"tanya Vandi.
"Apa Nessa bekerja hari ini?"tanya Razi.
"Sebelumnya apa ia bekerja juga?"kali ini Ziva yang bertanya.
"Bekerja,baru hari ini saja tidak. Memangnya kenapa?"tanya Vandi penasaran.
"Tidak ada,Kak. Seminggu ini Kak Nessa tidak ke toko bunga atau kue,"ungkap Ziva.
"Mungkin tidak disuruh atasannya,"terka Vandi.
"Bisa jadi,tapi syukurlah jika dia memang masih bekerja di sini. Aku pikir ia sakit atau apalah,"ucap Ziva.
"Kamu perhatian sekali dengan Nessa,"ucap Vandi.
"Tidak ada apa-apa,Kak. Dia pelanggan di toko aku,"jelas Ziva.
Setelah meminum minuman yang telah disediakan,
Razi dan Ziva pamit pulang.Malam harinya,ada pesan masuk di ponsel milik Ziva.
"Razka!"gumamnya.
Ziva membalas pesan yang Razka kirim.Wanita itu sedikit berhati-hati dalam menjawabnya. Ia takut pria itu mengharap lebih darinya. Bisa saja Razka akan meminta Papa Daniel menikahkan putrinya untuknya.
...****************...
Hari ini mentari tidak bersinar cerah,mendung mengelilingi kota tempat tinggal Ziva . Gadis itu sibuk dengan rutinitas hari-harinya. Hampir dua mingguan Nessa akhirnya kembali berkunjung ke tokonya.
"Kak Nessa apa kabar?"sapa Ziva ramah.
"Baik,"sahut Nessa tersenyum.
"Kakak ke mana saja? Sudah lama tidak berkunjung,"ucap Ziva.
"Hem..aku, atasanku lagi ke luar negeri jadi ia tak memesan roti atau bunga,"jelas Nessa memberikan alasan.
__ADS_1
"Oh, begitu."
"Kemarin itu kamu dan Razi ke kafe?"
"Iya,aku pikir Kakak tidak bekerja lagi,"jawab Ziva.
Nessa membalas dengan tersenyum.
"Ada yang mau dipesan, Kak?"
"Tidak ada cuma ingin bermain saja. Aku tidak menggangu kamu 'kan?"tanya Nessa.
"Tidak,Kak. Aku malah senang. Mari duduk!"
Nessa memperhatikan kegiatan Ziva yang berkutat dengan tepung dan bunga-bunga.
Sembari merangkai beberapa bunga,Ziva bertanya,"Bagaimana kabar Ibu ,Kak?"
"Baik,Ibu sudah diizinkan pulang oleh dokter,"jawab Nessa.
"Lain waktu aku dan Kak Razi bertamu ke rumah Kak Nessa, boleh?"
"Hem...apa?Bertamu 'ya?"tanya Nessa gugup.
"Iya,bertamu."
"Boleh saja,tapi Ibu tidak di rumah,"Nessa memberikan alasan.
"Mengapa tidak di rumah? Bukankah sudah keluar dari rumah sakit?"
"Dia ingin ke rumah saudaranya di kampung sekalian menjalankan pengobatan lanjutan di sana!"jelas Nessa berbohong.
Ziva menganggukan kepalanya.
Sebuah mobil mewah terparkir di halaman toko,mata tertuju pada kendaraan itu begitu juga dengan Nessa.
Pria itu menyapa Ziva.
"Pagi,Ziva!"sapanya.
"Pagi juga. Kamu pesan kue atau roti lagi?"
"Tidak,"jawabnya tersenyum kemudian melirik Nessa.
Nessa menundukkan kepalanya mendapat tatapan dari Razka.
"Jadi?"tanya Ziva lagi.
"Aku cuma ingin bertemu kamu saja,"ucap Razka.
"Maksudnya?"Ziva mengernyitkan keningnya.
"Oh, tidak. Aku cuma mau memberikan ini kepadamu,"Razka menyodorkan kantong kertas berwarna coklat.
Ziva melihat isinya kemudian berkata,"Dress?"
Razka tersenyum.
"Kamu sudah memberikan aku tas,ini di beri lagi ,"ucap Ziva ingin menolak.
"Terima ! Aku tidak butuh penolakan,"ujar Razka.
"Baiklah,aku terima. Sekali lagi terima kasih,"ucap Ziva.
"Sama-sama,aku pamit!"ucapnya tersenyum kemudian melirik lagi Nessa yang masih menundukkan kepalanya.
Setelah mobil hitam itu menghilang,Nessa mendekati Ziva."Dia siapa?"tanyanya.
"Dia Razka, teman bisnis papaku!"jawab Ziva.
"Apa!"ucap batin Nessa terkejut.
__ADS_1