
Suara klakson mobil begitu memekik telinga, dua orang wanita berusaha ingin masuk ke dalam istana Razka.
Para pengawal mencegah mereka masuk. Salah satu di antara wanita itu menekan klakson berkali-kali dan seorang lagi beradu mulut dengan penjaga.
Mendengar suara keributan, Ziva ingin mengetahui siapa yang telah membuat onar di rumah suaminya.
"Nona, lebih baik di dalam saja!" seorang pelayan melarangnya keluar rumah.
"Aku ingin tahu mereka siapa?"
"Maaf, Nona. Kami diperintahkan Tuan untuk melarang anda keluar rumah," jelasnya.
"Memang benar kata Razka, jika nanti aku pergi pasti ada yang datang," batin Ziva berkata. Ia pun mengikuti perintah pelayan untuk tidak melihatnya, karena juga demi kebaikannya sendiri
Sore harinya, Razka pun pulang kerja. Ia melonggarkan dasinya dan menggulung kemejanya hingga ke lengan.
"Di mana Nona?" tanyanya.
"Taman belakang,Tuan."
Razka segera berlari mendekati istrinya yang sibuk menyiram bunga.
"Kau sudah pulang?" sapa Ziva.
"Apa ada tamu yang datang ke sini?" tanya Razka sembari mengecup pucuk kepala istrinya.
"Ada tapi aku tidak tahu siapa, pelayan melarangku untuk melihatnya," jawabnya."Kau pasti sudah tahu?" tanyanya kembali.
"Aku melihat CCTV, seluruh ruangan ini terpantau dengan kamera pengawas," jelas Razka.
"Seluruh ruangan? Kau tidak meletakkannya di kamar juga, kan?"
"Apa kau mau aktivitas di kamar aku awasi juga?"
Ziva segera menggeleng.
"Jika kau mau aku bisa suruh orang memasangnya," celetuk Razka.
"Tidak, itu maunya kamu."
"Apa Papa Daniel hari ini tidak meneleponmu?"
"Kenapa dengan Papa?" tanya Ziva khawatir.
"Papa tidak apa-apa, dia hanya mengundang kita besok pagi di acara lamaran Razi."
"Kak Razi mau menikah," ucapnya semangat.
"Iya."
Ziva tersenyum bahagia jika kakaknya telah menemukan jodohnya.
"Ayo, kita latihan lagi." Ajak Razka menarik tangan istrinya.
"Haruskah kita tiap hari berlatih ini?"
"Ini semua demi keselamatanmu," jawab Razka.
"Aku bukan dinikahi seorang mafia, kan?"
Razka tersenyum lalu bertanya lagi,"Memangnya kenapa jika suamimu ini mafia?"
Ziva mendelikkan matanya lalu berkata,"Semoga saja itu tidak benar."
"Hari ini aku hanya melihatmu saja berlatih," ucap Razka.
Ziva mengangkat pistolnya perlahan menarik pelatuknya dengan hati-hati kali ini tepat sasarannya. Dia mencoba tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.
"Good job," ucap Razka.
__ADS_1
"Apa latihan kita hari ini cukup?" tanya Ziva.
"Cukup, nanti malam kau harus latihan bela diri." Ucap Razka.
"Apa! Kau pikir aku mau jadi pengawal pribadi sehingga latihan seperti itu," ujar Ziva.
"Suatu hari juga kau akan tahu," jelas Razka.
"Apa yang disembunyikan dia sebenarnya?" dalam hati Ziva bertanya.
Sementara itu, Vano dan keluarga sedang menikmati sore hari dengan berjalan-jalan santai di sebuah mall.
Mereka menikmati minuman pelepas dahaga di kafe yang menghadap langsung dengan matahari terbenam.
"Sayang, aku mau ke toilet. Kamu jaga anak-anak!" ucap Rachel pada suaminya.
"Iya, sayang."
Rachel pun ke toilet, tak lama kemudian telepon Vano berdering segera ia mengangkat panggilan tersebut. Ia sedikit menjauh dari anak-anaknya untuk mendengar jelas suara penelepon.
Valia dan Reva saling bercanda terkadang berlari-lari kecil mengitari meja kafe tanpa sengaja putri bungsu Vano menabrak seseorang hingga membuat minuman yang di pegang wanita itu tumpah.
"Kalian!" hardiknya geram.
"Maafkan saya, Tante!" ucap Valia ketakutan.
Vano yang melihat Valia bermasalah dengan seseorang segera memutuskan panggilan teleponnya. Ia berjalan mendekati putrinya itu.
"Valia ,apa yang terjadi?" tanyaVano pada putrinya tepat di belakang tubuh wanita itu.
Wanita itu pun membalikkan tubuhnya,"Anda orang..."
"Helen!"
"Vano."
Valia segera berlari mendekap tubuh papanya. Reva juga ikut mendekat kepadanya.
"Oh , jadi kau orang tuanya?"
"Iya, apa yang telah dilakukan mereka?" tanya Vano dingin.
"Tanyakan saja pada mereka!" ucap Helen.
"Valia tidak sengaja menumpahkan minuman Tante itu," jelasnya.
"Apa kamu sudah minta maaf?" tanya lembut Vano pada Valia.
"Sudah, tetapi Tante itu marah-marah." Valia menunjuk Helen dengan ketakutan.
"Kau sudah dengar dia bilang apa, aku akan mengganti minumannya." Ucap Vano.
Dengan cepat Helen menjawab,"Tidak perlu!" ia lalu meninggalkan Vano dengan wajah kesal.
Rachel yang melihat Valia ketakutan menghampirinya dan bertanya pada suaminya."Kenapa Valia?"
"Valia menjatuhkan minuman Tante itu," tunjuk Reva pada seorang wanita yang berjalan cukup jauh.
"Apa kamu sudah minta maaf?" tanya Rachel pada putrinya itu.
Valia mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak Rachel.
Malam harinya di rumah Razka, ia dan istrinya bersiap akan latihan bela diri.
"Ikutin aku," Razka memperagakan gerakan dasar.
Ziva pun mulai mengikuti langkah yang diajarkan oleh sang suami.
__ADS_1
"Konsentrasi!" ucap Razka tegas.
Gerakan dasar telah dilakukan, Ziva disuruh untuk mempraktekkannya sendiri. Ia mulai mengerakkan berbagai cara yang diajarkan suaminya.
"Fokus, Ziva!" ucap Razka lantang.
"Kau ini aku baru sekali latihan sekali, mana mungkin bisa," protes Ziva meninggalkan melangkah tempat latihan.
"Kau mau ke mana?" teriak Razka.
"Mau tidur, aku capek!" jawab Ziva dengan lantang dari jarak jauh.
Razka menepuk jidatnya."Bagaimana cara aku mengatakan sebenarnya?" gumamnya bertanya.
Pria itu segera mengejar istrinya lalu merangkul pundaknya dan berkali-kali mengecup pucuk kepalanya. Ziva mendorong tubuh suaminya hingga hampir terjatuh.
"Aku mau istirahat, jangan mengangguku!" sentak Ziva.
Razka mensejajarkan langkahnya,"Kau begitu cantik!"
"Tak usah merayuku, badanku lelah. Besok aku harus fit untuk acara lamaran Kak Razi," ujarnya mempercepat langkahnya.
Sesampainya di kamar, Ziva sejenak berhenti dan diam.
"Kenapa?" tanya Razka heran.
"Astaga, aku tidak punya gaun untuk dipakai buat acara lamaran Kak Razi." Ia menepuk jidatnya.
"Bersihkan badanmu, kita akan ke butik sekarang!" ucap Razka.
"Jam segini ke butik? Mana ada yang buka, ini sudah hampir jam 11 malam," ujar Ziva.
"Ikutin saja perintahku," ucap Razka.
"Baiklah," jawab Ziva. Ia pun ke kamar mandi, membersihkan diri lalu turun ke bawah menghampiri suaminya yang sudah menunggu.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju butik milik seorang wanita yang merupakan teman Razka.
"Aku tidak akan mau membuka toko ini, jika bukan kau yang memintanya," ujar Intan sesampainya pasangan suami istri itu tiba.
"Maaf, Nona. Mengganggu istirahat anda," ujar Ziva.
"Hei, Razka ternyata kau punya istri yang baik hati dan ramah. Bukannya seperti kau yang dingin dan angkuh," tutur Intan lagi.
"Sudahlah, tak usah mengomentariku. Dari dulu kau selalu begitu," ujar Razka dingin.
"Baiklah, aku akan menunjukkan gaun koleksi di butik ini," ucap Intan mempersilakan Ziva memilih.
Ziva segera memilih gaun yang akan digunakan saat acara lamaran kakaknya. Tak lama memilih, ia meminta pemilik butik membungkusnya.
Wanita itu telah berdiri tepat di depan Razka duduk. Pria itu mendongakkan kepalanya," Apa kau sudah siap memilih?"
"Sudah."
"Cepat sekali?"
"Aku hanya memilih satu saja," jawab Ziva.
"Apa kau ingin memborong semua pakaian di sini?"
"Tidak, kau pikir aku mau membuka toko di rumah."
"Siapa tahu kau mau?"
"Aku bukan tipe wanita yang berlama-lama dalam belanja apalagi sampai membeli pakaian terlalu banyak," jelas Ziva.
"Baguslah, uangku takkan habis." Celetuk Razka.
"Kau pikir aku tak mampu membelinya?" tanya Ziva kesal.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo pulang! Kau terlalu lelah," Razka mengenggam tangan istrinya dan menoleh ke arah Intan. Lalu berkata," Gio yang akan urus pembayaran."
"Oke, terima kasih temanku!" sahut Intan.