Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Keluarga Razka


__ADS_3

"Selamat datang,cucu menantu!"sapa wanita tua bernama Merin berusia 72 tahun memeluk Ziva lalu melonggarkan pelukannya dan menatap cucu laki-lakinya.


"Nenek,Kakek,apa kabar?"tanya Razka memeluk keduanya.


Merin memukul lengan cucunya,"Kamu yang tidak pernah mengunjungi kami, tiba-tiba saja mengabarkan akan menikah,"ucapnya.


"Razka sibuk,Nek!"ucap pria itu memberikan alasan.


"Mari kita makan,jangan mengobrol saja."Ajak Kakek Razka.


Razka dan Ziva pun menuruti ajakan kakek.


"Sejak kapan kalian kenal?"tanya Merin.


Ziva menoleh ke arah Razka,ia berharap suaminya itu yang menjawab.


"Dia anak dari rekan bisnis Razka,kami kenal 3 bulan yang lalu,"jelas Razka.


"Secepat itu kau melamarnya?"tanya Merin lagi.


"Iya, agar dia tak diambil orang lain,"jawab Razka asal.


"Kamu itu persis kayak kakek dulu ketika melamar nenek,dia ini kembang desa di kampung kami,"cerita kakek.


"Oh,ya!"sahut Ziva begitu semangat."Apa kalian saling mencintai?"pancingnya.


"Tentunya,kami saling mencintai. Makanya,Kakek melamarnya,"jawabnya.


"Nenek jadi malu,"ucap Merin tersipu.


"Kisah cinta kalian awet sampai sekarang,"ucap Ziva kagum.


"Pernikahan itu seumur hidup sekali bukan untuk mainan,"ucap Merin.


"Semoga saja cinta kita seperti Kakek dan Nenek 'ya?"sindir Ziva.


"Mengapa kamu mau menikah dengan Razka?"tanya Merin.


"Jawabannya sama seperti kalian karena kami saling mencintai,"Ziva melirik suaminya yang hanya diam.


"Sepertinya istrimu ini, wanita yang baik dan cerdas,"tutur kakek sekarang berusia 75 tahun.


"Iya,Kek. Makanya,Razka menikahinya,"ujar cucunya itu.


"Kemarin pesta kami,mengapa Kakek dan Nenek tidak hadir?"tanya Ziva.


"Karena Razka memberi tahu kami secara mendadak,"ucap Merin."Dia akan menikah pukul 9 pagi tapi baru mengabari kami dua jam sebelumnya,"


lanjutnya lagi.


"Apa benar Kakek dan Nenek tinggal di luar kota?"tanya Ziva lagi.


"Apa 'sih yang ingin kamu ketahui dari aku?"tanya Razka membatin.


"Kebetulan ada urusan saja, beberapa bulan ini kami harus tetap di sana,"jelas kakek lagi.


"Kakek harap kamu mampu menjaga Razka ,"ucapnya.


"Ngapain juga jagain dia,cucumu itu sudah besar!"batin Ziva.


Ziva hanya menjawab dengan senyuman.


"Jika Razka menyakiti kamu,kami akan membantumu lepas dari dia,"ucap Merin.


"Nenek!"protes Razka.

__ADS_1


"Biar kamu jadi pria yang bertanggung jawab atas apa yang telah disepakati,"nasehat Merin.


Sore harinya,Ziva dan Razka pulang ke rumah. Gadis itu sedari tadi hanya tersenyum walau tidak berkata apa-apa.


Saat di perempatan jalan mobil berhenti,Ziva segera memegang handle pintu namun tangan suaminya telah menggagalkannya.


"Mau coba kabur?"tanya Razka dengan tatapan tajam.


"Iya,aku mau kabur dari suami sepertimu,"jawab Ziva.


Sesampainya di rumah, Razka terus memegang erat tangan istrinya itu hingga membuatnya meringis kesakitan. Razka membuka pintu kamar dan kembali mendorong tubuh istrinya itu di atas ranjang.


"Jangan coba-coba kabur dariku!"ancamnya.


Ziva berdiri dan mengejar langkah Razka,ia menarik lengan suaminya. "Semakin kau siksa aku,maka semakin aku ingin keluar dari sini!"ucapnya dengan tegas.


Lagi-lagi Razka mendorong tubuh istrinya hingga terhuyung ke lantai. Ziva mengepalkan tangannya dan menatap pintu yang tertutup dengan kasar. "Aku akan katakan pada keluargaku dan keluargamu, apa yang telah kau lakukan padaku!"ucapnya menekankan kata-katanya.


...****************...


Seminggu sudah Ziva tak tinggal di rumah Papa Daniel karena sehari setelah menikah suaminya sudah memboyongnya ke rumahnya.


"Val, kangen dengan Tante Ziva!"ucap putri kedua Rachel.


"Opa juga, bagaimana kapan-kapan kita ke rumah Tante Ziva?"tanya Daniel pada cucunya.


"Reva mau,Opa!"


"Valia, juga!"sahutnya semangat.


"Opa, akan telepon Tante Ziva,"ucap Daniel. Ia pun segera menelepon putrinya namun yang menjawabnya suaminya.


"Halo,Pa!"


"Ziva lagi di kamar mandi, Papa bisa sampaikan kepada saya saja!"ucapnya lembut.


"Baiklah,kami rencana besok akan mengunjungi kalian."


"Maaf,Pa. Kami tidak berada di rumah,rencana besok kami akan ke luar kota. Ada janji dengan seorang teman,"ucap Razka berbohong.


"Oh, tidak apa-apa. Lain waktu kami akan mengunjungi kalian,"ujar Daniel.


"Baiklah,Pa. Kami tunggu kedatangannya,"ucap Razka.


Daniel menutup teleponnya dan menatap kedua cucunya lalu berkata,"Tante Ziva, tidak bisa. Kalian mau 'kan kita ke sana Minggu depan saja?"


"Mau, Opa!"ucap keduanya serempak.


Sementara,Razka tersenyum tipis."Kalian pikir akan berjumpa lagi dengan dia,jangan harap!"ucapnya.


Pintu kamar kembali di gedor Ziva, padahal sarapan pagi sudah di antar pelayan.


"Mau apa lagi dia?"tanyanya membatin.


"Tuan, jadi kita berangkat sekarang!"ucap Gio.


Razka mengiyakan, mereka pergi ke luar kota tanpa Ziva.


Sementara itu Ziva semakin berteriak, pelayan pun membukakan pintu.


"Di mana dia?"tanya Ziva tak bersahabat.


"Siapa ,Nona?"


"Razka!"

__ADS_1


"Tuan Razka ke luar kota."


"Ke luar kota? Berapa hari?"


"Saya kurang tahu, Nona!"


"Sudahlah sana!"usir Ziva kesal.


Di mobil, Gio bertanya,"Apa Tuan yakin meninggalkan Nona Ziva?"


"Memangnya mengapa?"


"Nona Ziva, wanita yang nekat. Bisa saja tanpa ada Tuan dia bisa kabur,"ucap Gio.


"Penjagaan di rumah kita cukup ketat. Aku yakin dia takkan kemana-mana,"ucap Razka."Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Rena?"tanyanya kembali.


"Sudah,Tuan. Dia berencana akan menikah dengan kekasihnya,"ucap Gio.


"Hancurkan perusahaan kekasihnya!"perintah Razka.


Gio menggangukkan kepalanya kemudian ia menghubungi seseorang.


Sejam kemudian, Razka tiba di kediaman temannya semasa sekolah.


"Bagaimana kabarmu?"sapanya.


"Jika sampai di sini dengan selamat itu artinya aku..."


"Baik-baik saja,"potong Riky."Aku dengar kamu sudah menikah,"tanyanya.


"Yang kamu dengar itu benar,"sahut Razka.


"Siapa gadis yang membuatmu luluh?"


"Sudah baca beritanya atau belum?"tanya Razka.


"Jadi benar gadis itu Ziva Lusiana Daniella?"


Razka mengangguk, sedangkan Riky tersenyum mendengar nama itu.


"Mengapa kau tersenyum?"


"Aku hanya ingat dengannya 12 tahun yang lalu,"ucap Riky tersenyum.


"Kau kenal dia?"tanya Razka tak percaya.


"Sebenarnya tak sengaja aku mendorongnya,saat itu dia lagi melihat temannya bermain di lapangan sekolah.Karena begitu ramai yang melewati jalan itu aku tak sengaja menyenggolnya membuat ia jatuh dan menangis. Tapi kakaknya datang memukulku,"


ucapnya.


"Kau tak melawan?"


"Tidak, tapi gadis itu berusaha melerainya sampai seorang guru memisahkan kami,"ucapnya.


"Tak bisa aku bayangkan pukulan kakaknya,"tutur Razka.


"Tapi,gadis itu makin cantik saja,"puji Riky.


"Tapi,dia sudah menikah,"celetuk Razka.


"Aku tak menyangka kau menikahinya,"ujar Riky.


"Apa kau juga berniat ingin memilikinya?"tanya Razka tak senang.


Riky tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya itu,"Jika kau melepaskannya,aku siap menerimanya,"jawabnya meledek.

__ADS_1


__ADS_2