
"Permisi, Nona!" Tari memasuki ruangan Luna.
"Ada apa, Tari?"
"Ada seorang pria yang mencari anda!"
"Siapa?"
"Namanya Dave."
"Mau apa lagi dia?" Luna membatin.
"Bagaimana, Nona?"
"Aku akan menemuinya," jawabnya. Luna segera keluar menemui Dave. "Mau apa kau ke sini?" tanyanya pada pria yang telah membuatnya mabuk dua tahun silam.
"Aku ingin bertemu dengan kamu," jawab Dave.
"Sekarang kau sudah bertemu denganku, katakan tujuanmu?"
"Aku ingin memilikimu," jawab Dave terus terang.
"Jangan gila!"
"Bukankah kau belum memiliki kekasih?"
"Aku tidak memiliki kekasih tapi aku sudah punya calon suami," jawab Luna.
"Wow, ternyata secepat itu kau mendapatnya," ucap Dave. "Andai waktu itu kedua temanmu itu tak mengganggu kita pasti kau sudah menjadi milikku," lanjutnya lagi.
"Aku malah bersyukur, kedua sahabatku itu membawa diriku dari pria jahat sepertimu," ucap Luna dengan tatapan tajam.
"Tidak semudah itu melepaskan kau!"
"Memangnya kita punya hubungan? Tidak, kan?"
"Jangan gembira dulu Nona Luna, aku tidak akan membiarkanmu dengan dia!"
Luna merasa kesal dengan ucapan Dave. "Lebih baik kau pergi dari sini atau perlu aku suruh petugas keamanan untuk menyeretmu!" usirnya.
Dave tersenyum sinis dan bergegas pergi dari kantor Luna.
"Berani sekali dia mengancamku!" batin Luna.
-
-
"Hei, kenapa diam saja? apa kau sakit?" tanya Gio di dalam mobil saat perjalanan pulang.
"Aku tidak sakit," jawab Luna.
"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Luna menghela nafas lalu berkata, "Ada!"
"Katakan saja?"
"Apa kau ingat dengan kejadian malam saat mabuk kedua temanku menyuruhmu mengantar aku pulang?"
"Iya, aku ingat."
"Pria itu tadi datang ke kantor."
"Untuk apa dia menemuimu?"
"Dia menginginkan diriku," jawab Luna.
"Apa kau menyukainya atau memberikannya janji?"
Luna menoleh ke arah Gio dan menatapnya kesal. "Kalau aku menyukainya sudah dari dulu kami bersama dan tak perlu mengejarmu!" ucapnya ketus.
"Iya, aku tahu kau hanya mencintaiku!" Gio tersenyum.
"Dia mengancamku juga?"
"Apa kau takut?"
__ADS_1
"Aku tidak takut," jawab Luna.
"Sebaiknya kau hati-hati, aku akan membantumu untuk mencari tahu tentang pria itu," ucap Gio membuat Luna tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona Luna!"
"Ada apa?"
"Pria yang kemarin mencarimu," jawab Tari.
"Aku akan segera menemuinya," Luna berjalan ke arah Dave yang telah menunggunya.
"Aku pikir kau tidak akan menemui ku?"
"Cepat katakan berapa uang yang kau minta?"
"Hei, aku ke sini bukan meminta uang."
"Lalu kau ke sini untuk apa?"
"Aku ingin memilikimu," jawab Dave tersenyum.
"Jangan bermimpi!" Luna memilih pergi namun tangannya di tarik Dave. "Lepaskan aku, brengsek!" ia menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Ternyata, kau galak juga Nona Luna."
"Tak perlu berbasa-basi, kau bekerja untuk siapa?" tanya Luna.
"Tidak ada yang menyuruhku," jawab Dave.
"Kita baru saja kenal, aku tidak pernah tahu siapa keluargamu dan apa pekerjaanmu, tiba-tiba saja kau datang untuk mendapatkan aku. Apa ini tidak masuk akal?"
Dave pun terdiam dan berpikir.
"Aku akan melepaskan kau jika berhenti mengganggu ku tapi jika kau masih memaksa jangan harap aku membiarkanmu hidup tenang," ucap Luna dengan tegas.
Mendengar itu Dave segera pergi, Luna menatapnya kejauhan dengan tersenyum tipis.
"Halo, sayang. Sepertinya pria itu suruhan orang untuk mendekatiku. Dia sudah pergi tanpa harus menyentuhku," ucapnya.
"Jika saja dia berani menyentuhmu, aku tidak akan segan menghancurkannya," sahut Gio.
"Oh, sayang. Sebegitukah, kau menyayangiku?"
"Kau ini masih saja mempertanyakan itu," jawab Gio.
Luna tertawa kecil lalu berucap, "Aku yakin sangat kau menyayangiku. Nanti malam kita bertemu!"
"Baiklah." Keduanya pun menutup teleponnya.
-
-
-
"Aku jadi penasaran siapa orang yang telah menyuruh Dave mendekatiku," Luna menyesap kopinya.
"Sepertinya orang yang mengenalmu dengan baik," tebak Gio.
"Siapa?"
"Kita bisa pelan-pelan mencari tahu, terpenting saat ini ia tak mengusikmu lagi," jawab Gio.
"Aku juga heran setelah dua tahun ia malah datang, semakin mencurigakan saja," tutur Luna.
"Kalau aku boleh tahu, mantan kekasihmu itu siapa?"
"Dia Dika salah satu pemilik properti di kota A," jawab Luna.
"Kalian putus karena apa?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku ingin tahu saja tentang pria itu," jawab Gio.
__ADS_1
"Kau tidak cemburu jika aku berbicara tentang dia," ucap Luna.
"Sekarang kau milikku untuk apa aku cemburu?" Gio tersenyum.
"Aku dan Dika putus karena dia melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, tak lama ia kembali dari luar negeri. Ia ingin melamarku tapi seorang wanita mengacaukan semuanya, dia mengaku hamil dan butuh pertanggungjawaban dari Dika. Akhirnya orang tuanya ingin Dika menikahi wanita itu, ternyata wanita itu berbohong," jelas Luna.
"Setelah itu?"
"Di tengah kegundahan hatiku, Andri datang pria itu begitu baik namun akhirnya dia harus selingkuh," jawab Luna sendu.
"Apa Dika dan wanita itu menikah?"
"Semua terbongkar sehari sebelum pernikahan terjadi," jawab Luna.
"Apa dia ingin kembali padamu?"
"Sampai saat ini ia masih menghubungiku," jawab Luna.
"Kenapa kau tidak ingin menerima dia lagi?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau mau aku kembali padanya?" Luna mulai kesal dengan pertanyaan Gio.
"Aku cuma bertanya saja," tanpa rasa bersalah menjawabnya.
"Asal kau tahu jika aku ingin kembali padanya, aku takkan pernah mengemis cinta darimu!" Luna bangkit dari duduknya dan memilih pergi. Ia melangkah kakinya dengan cepat.
Gio pun mempercepat langkahnya mengejar Luna.
Luna segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya dengan hati kesal. "Selalu saja dia mempertanyakan hal itu!" gumamnya.
Gio pun mengejar mobil Luna, ia melihat kekasihnya itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sebuah panggilan telepon membuatnya melambatkan laju kendaraannya.
"Tuan, Nona Luna dalam bahaya. Seorang pria berhasil mengotak-atik mobilnya," ucap pria itu pada Gio.
"Apa!" Gio menutup ponselnya dan mempercepat laju kendaraannya.
-
-
-
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?"
"Anak anda masih dalam masa kritis," jawab Dokter. "Dia kehilangan banyak darah," lanjutnya lagi.
Gio hanya berdiri dan diam dengan mata berkaca-kaca.
Razka yang mendapatkan kabar dari Gio, jika Luna kecelakaan dia segera datang. Tak ketinggalan kedua asistennya Luna juga hadir.
Razka mengajak Gio sedikit menjauh dari Tama. "Bagaimana bisa Luna kecelakaan?" tanyanya.
"Seseorang telah membuatnya celaka," jawab Gio.
"Kau tahu orangnya?"
"Tidak terlalu jelas, Tuan. Orang suruhan Dino yang memberitahunya, kemarin aku meminta dia untuk mencarikan orang mengawasi Luna dari jarak jauh," jawab Gio.
"Kenapa kau bisa kecolongan begini?"
"Ini salahku, Tuan."
"Semoga ini jadi pelajaran untukmu dan kita berharap Luna segera sadar," ucap Razka.
"Iya, Tuan."
Sepuluh jam pasca kecelakaan, Luna di bawa ke ruangan rawat inap. Walau ia sudah melewati masa kritis, wanita itu belum bisa di jenguk. Pengawalan ketat dilakukan di sekitar ruangan Luna, ini dilakukan atas keinginan Gio.
"Paman, aku akan keluar sebentar," pamit Gio.
Ia itu pun berjalan menuju parkiran mobil di rumah sakit tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang perawat memakai masker penutup mulut. Perawat itu berjalan tergesa-gesa sambil melihat ke kanan kiri dan cukup mencurigakan.
"Maaf, Tuan!"
"Ya, tak apa!" ucap Gio.
__ADS_1