
"Ini minum," gadis berusia 18 tahun menyodorkan sebotol minuman pada pria berusia 23 tahun.
"Terima kasih," ucapnya.
"Kenapa melamun?" gadis itu duduk disampingnya.
"Aku akan pindah, ke luar kota!"
"Hah!" Nessa, gadis berkulit putih itu menyemburkan minumnya.
"Kau jorok sekali!" keluh Gio.
"Maaf! Ucapanmu membuat aku terkejut."
Gio menghela nafasnya.
"Kenapa? Apa kau keberatan pergi?"
"Aku tidak mau meninggalkanmu," jawab pria itu.
Nessa tertawa mendengar ucapan Gio,"Apa kota yang kau datangi jauh?"
"Cukup jauh."
"Kau bisa meneleponku."
"Pekerjaan ini tidak memungkinkan kita saling berkomunikasi."
"Kenapa?"
"Aku akan menjadi pengawal pribadi," jawabnya.
"Wow, itu keren. Apa dia artis?"
"Bukan, dia seorang pria. Penerus perusahaan besar," jawab Gio.
"Jadi kau langsung bekerja?"
"Tidak, aku harus latihan."
"Tenang saja, aku tidak masalah jika kau pergi demi pekerjaan apalagi ini pekerjaan menurutku keren," jelas Nessa.
Gio menatap gadis disampingnya."Jika kau butuh pekerjaan hubungi aku!"
"Pasti, cobalah tersenyum. Ku lihat kau begitu dingin dan kaku," ucap Nessa tersenyum.
Gio memaksakan tersenyum.
"Pantas saja kau mendapatkan pekerjaan begitu, dirimu sulit tersenyum," ledek Nessa.
Pria menyungging sudut bibirnya.
"Kapan kau akan pergi?"
"Besok."
"Kenapa cepat sekali?"
"Pria itu segera pulang."
"Memangnya dia dari mana?"
"Belajar bisnis di luar negeri."
"Pasti dia pria yang tampan," puji Nessa.
"Kau ingin punya kekasih seperti itu?"
"Bukan kekasih tapi suami," jawabnya semangat.
"Aku tidak termasuk kriteria pria itu," ucap Gio membuang wajahnya.
Nessa tersenyum,"Jangan berkecil hati, aku mau terima kamu!"
"Jangan memberiku harapan palsu!"
"Aku serius," ucap Nessa.
"Sudahlah, aku mau pulang. Ada beberapa pakaian dan perlengkapan yang harus ku bawa," Gio bangkit dari kursi.
"Kau harus mengantarku!"
"Iya, aku akan mengantarmu. Bayar minumannya," Gio mengeluarkan selembar uang puluhan ribu kepada Nessa.
__ADS_1
"Kau pasti nanti akan kelihatan tampan," ucap Nessa tersenyum.
"Memang aku tampan," jawabnya percaya diri
...****************...
Setahun kemudian..
"Halo Nessa," ucap Gio.
"Halo, apa kabar? Kau sudah lama tidak mengirimkan aku pesan," ucap Nessa.
"Aku sibuk, Bagaimana keadaan dirimu?"
"Aku baik-baik saja."
"Apa sudah ada pria yang mendekatimu?"
"Hei, kenapa kau tanya begitu? Aku di sini masih menunggumu," ujar Nessa.
"Jangan menungguku," ucapnya.
"Kenapa? Apa ada wanita lain yang mengisi hatimu?"
"Tidak ada. Aku takut tidak bisa membagi waktu antara cinta dan karier," jawab Gio.
"Kau ini? Sesibuk itukah pekerjaanmu?" tanya Nessa penasaran.
"Sangat sibuk selain mengawal, aku juga bekerja di perusahaan ini," ucapnya.
"Kenapa begitu?"
"Mereka ingin aku juga mengerti tentang bisnis."
"Kau beruntung sekali," ujar Nessa.
"Aku yakin kau pasti bisa, Nes."
"Terima kasih semangatnya."
"Bagaimana kabar Ibumu?"
"Penyakitnya masih sering kambuh, aku butuh pekerjaan untuk membiayai pengobatannya," jawab Nessa sedih.
"Terima kasih banyak, Gio."
"Aku harus kembali bekerja. Jaga dirimu dan jangan menungguku. Jika ada pekerjaan untukmu nanti ku hubungi. Kau pantas bahagia," ucap Gio kemudian menutup panggilan teleponnya.
Nessa menghela nafasnya, ia memegang dadanya. Rasanya sakit sekali ketika pria yang dicintainya harus mengucapkan kata-kata begitu.
...****************...
Beberapa tahun kemudian..
Gio menelepon dirinya untuk datang ke kota di mana pria itu sekarang menetap. Ia dijanjikan akan diberikan pekerjaan karena ibunya butuh biaya untuk berobat di tambah lagi biaya sekolah adiknya.
Semenjak ayahnya meninggal dia ikut membantu ibunya dengan semangat ia datang ke kota bersama keluarganya. Rumah telah dibeli dan menjadi milik pribadi. Biaya perobatan juga ditanggung termasuk keperluan dan kebutuhan kedua adiknya.
Nessa pun menemui Gio."Kapan aku bisa bertemu dengan atasanmu?"
"Sebentar lagi, tunggulah di sini!" ucap Gio dingin.
"Kau dari dulu tidak berubah selalu ketus dan dingin," tutur Nessa.
"Aku tidak menyuruhmu mengomentari diriku," ujar Gio tanpa menoleh.
"Sampai kapan kau begini? Buka sedikit hatimu, biar hidupmu terasa berwarna," sindir Nessa.
"Apa hidupmu sudah berwarna?" tanya Gio menyindir.
"Sejak kau hadir, hidupku berwarna." Ucap menghisap jusnya.
"Lupakan saja!"
"Aku tidak akan bisa melupakannya," ujar Nessa.
"Suatu saat juga kau akan melupakannya," celetuk Gio.
"Kita lihat saja nanti," jawab Nessa ketus.
Gio pun diam, gadis itu pun melirik pria yang didepannya itu.
"Apa pekerjaanmu tiap hari begini?"
__ADS_1
Gio yang sedang bermain ponselnya menatap Nessa.
"Maksudku, kau 24 jam bersama pria itu."
"Tetaplah diam, jangan banyak bertanya!" ucap Gio dingin.
Nessa mengerucutkan bibirnya.
Tak lama pria yang ditunggu pun datang. Dia Razka Dyana Wiguna anak pemilik perusahaan ternama. Gio pun berdiri saat atasannya itu menghampirinya. Nessa pun ikut juga melakukan hal yang sama dengan pria yang berada di depannya.
"Jadi dia orangnya?"
"Iya, Tuan." Jawab Gio.
"Siapa namanya?" tanya Razka.
"Nessa, Tuan."
"Segera beri tahu pekerjaannya," Razka duduk di kursi di mana Gio tadi duduk.
Gio pun menyodorkan dua foto di atas meja.
"Kau, duduklah!" ucap Razka.
Nessa pun kembali duduk.
"Kakak beradik ini adalah anak dari Daniel pemilik perusahaan DM Grup. Sang pria bernama Razi Putra Daniel dan gadis itu Ziva Lusiana Daniella," jelas Gio.
Nessa mengernyitkan keningnya.
"Tugasmu menghancurkan mereka," ujar Razka.
"Hah, apa!" ucap Nessa terkejut."Kalian ingin aku membunuhnya?" tanyanya.
Razka tersenyum tipis."Jika kau bisa kenapa tidak?"
"Aku tak mau," tolak Nessa.
"Aku sudah memberikan uang yang banyak kepadamu, jadi kau harus melakukannya," ucap Razka.
"Aku akan mengembalikannya, kau tega memberikanku pekerjaan begini," ucap Nessa berdiri yang sudah meliputi rasa marah menatap Gio.
"Duduklah!" perintah Gio tegas.
"Aku mundur," ucap Nessa.
"Kau hanya perlu mendekati mereka dan mencari kelemahannya," ujar Razka.
"Maksud kalian mata-mata?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Razka.
"Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Secepatnya, agar mereka tidak curiga kau harus bekerja sebagai pelayan kafe tempat pria ini sering mendatanginya," Razka menunjuk foto Razi.
"Tampan juga dia," ucap Nessa melirik Gio.
"Kau tak boleh jatuh cinta padanya," Razka memberi peringatan.
"Aku tidak bisa berjanji," ujar Nessa.
"Itu terserahmu, jangan sampai kau menyesal." Tutur Razka.
"Gadis ini di mana aku bisa menemuinya?"
"Dia memiliki toko roti dan bunga, kau bisa mengunjunginya," ucap Razka.
"Gadis ini cantik, kelihatan dia juga pintar. Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya pada Razka.
"Pekerjaanmu cukup mendekati keluarga mereka," ujar Razka.
" Baiklah, Tuan. Hari ini aku bekerja untukmu," ucap Nessa semangat.
"Bagus, beri semua laporan tiap hari padaku!" ucap Razka.
"Siap, Tuan!"
"Bagus," Razka berdiri lalu melangkah.
Tak lupa Gio, ikut menyusul dibelakangnya.
"Ku harap aku tak jatuh cinta pada ini orang," gumam Nessa memegang foto Razi dan Ziva.
__ADS_1