
"Apa kalian sudah mendapatkan pelakunya?" tanya Razka pada penjaga keamanan.
"Dia melarikan diri, Tuan." Jawab salah satu diantaranya.
"Bagaimana bisa kalian kecolongan seperti ini?" bentak Razka.
"Maafkan kami, Tuan." Jawab Gio.
"Kau bertanggung jawab atas kejadian ini, untung saja aku segera pulang. Kalau tidak, aku tak segan menghabisimu!" sentak Razka.
"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan." Ucap Gio.
"Cepat cari dia!" perintahnya.
Gio pun bersama anak buahnya menyusuri jalan sekitaran rumah. Mereka harus segera menemukan pelakunya.
Razka terlihat mondar-mandir di dalam kamar. Ziva yang baru saja ke luar kamar mandi, memperhatikan sikap sang suami.
"Bagaimana? Apa pelakunya sudah ketemu?" tanya Ziva.
"Belum."
"Kau ini begitu saja tidak becus," celetuk Ziva.
"Hai, kenapa kau begitu cerewet?"
"Aku wanita pasti cerewet," jawab Ziva ketus.
"Kau akhir-akhir ini berbeda tak seperti biasanya."
"Itu perasaan kau saja."
"Kau yakin tidak mengalami sesuatu?"
"Sesuatu? Aku tidak mengerti," ujar Ziva.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi, kita hari ini akan ke butik." Ucap Razka.
"Untuk apa?"
"Kau tidak ingin tampil cantik di acara pernikahan kakakmu?"
"Tentunya mau, kau keluarlah aku mau berpakaian." Usir Ziva.
"Kenapa jika aku di sini?"
"Aku tidak mau kita membatalkannya ke butik," jawab Ziva. Ia bisa menebak pikiran suaminya.
"Baiklah," jawabnya malas.
Sesampainya di toko, Ziva mulai mencoba berbagai gaun. Ia begitu semangat memilih, sedangkan Razka menunggu sembari bermain ponsel. Tak lama kemudian ia beranjak berdiri dan menghampiri istrinya."Aku akan keluar sebentar, kau tetaplah di sini!" ucap Razka.
"Baiklah," jawab Ziva.
Ziva di temani Intan untuk memilih gaun yang cocok untuk dirinya.
Razka sudah sampai di tempat yang diberi tahu Gio. Ia memasuki ruangan di mana pelakunya adalah seorang wanita.
"Kenapa kau memberikan obat itu di makanan istriku?" tanya Razka.
"Agar kau tahu bagaimana rasanya melihat istri sendiri berpelukan dengan pria lain," ucap wanita itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya dingin.
Wanita tersenyum mengejek lalu berkata,"Kau anaknya masa tidak tahu?"
__ADS_1
Razka mengernyitkan dahinya."Apa ayah pelakunya?" batinnya bertanya.
"Tidak usah berbelit, cepat katakan aku akan melepas kau!" ujar Razka kesal.
"Mario."
Razka menahan amarahnya dan keluar ruangan itu. Lalu memerintahkan kepada Gio,"Lepaskan dia!"
Gio pun melepaskan, tahanan itu.
Razka menuju rumah Mario dan ia ingin bertanya alasannya. Rasa marah dan kecewa menjadi satu.
"Ayah!" teriaknya memanggil Mario.
"Apa wanita itu sudah memberitahumu?"
"Apa alasan Ayah melakukan ini?"
"Agar kau tahu rasanya di khianati," jawab Mario.
"Ayah, aku tahu kau punya masa lalu tidak baik tapi tolong jangan ganggu kebahagiaanku," pinta Razka.
"Kau ku suruh untuk menghancurkan putrinya bukan mencintainya," ucap Mario.
"Keadaannya berbalik, sekarang aku mencintainya," ungkap Razka.
Mario terduduk, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hentikan permusuhan ini, Mama Lusi juga sudah meninggal. Apa lagi yang ingin Ayah dapatkan?" tanya Razka lagi.
"Pria itu yang menghancurkan cinta Ayah," ucap Mario.
"Ayah juga yang sudah menghancurkan cinta Mama kandungku," sambung Razka.
"Jika masih memiliki dendam itu hanya merugikan diri sendiri dan aku tidak akan segan menghancurkan Ayah kalau berani menyentuh istriku," ancam Razka tegas.
Telepon pun berdering dari sopir pribadinya.
"Aku akan ke sana!" ucapnya lalu menutup teleponnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Mario.
"Mereka kembali meneror," ucap Razka kemudian segera meninggalkan rumah Mario dan pergi ke butik.
Sesampainya di butik, dia melihat salah satu mobil miliknya penuh dengan tomat dan telur busuk.
"Nona Ziva baik-baik saja," ucap pengawal istrinya tanpa di tanya.
"Periksa CCTV butik ini!" ucap Razka pada Gio.
Razka masuk ke dalam butik, Intan sedang menenangkan Ziva. Ia pun mendekati istrinya namun yang ada penolakan."Jangan dekati aku!" usirnya.
"Dia kenapa?" tanya Razka pada Intan, temannya itu hanya menaikkan bahunya.
Ziva berjalan melewati tubuh suaminya, ia tak menghiraukan pria itu dengan wajah kesal ia masuk ke dalam mobil yang tadi ditumpangi Razka.
Razka yang melihat istrinya cemberut membalikkan tubuhnya menyusulnya,"Apa kau sudah selesai memilih gaunnya?" tanyanya berbasa-basi.
Ziva tak menjawab hanya menyodorkan paper bag.
"Oh, kau sudah memilih. Kalau begitu kita pulang!"
Razka pun memerintahkan kepada sopirnya mengendarai mobilnya.
Selama diperjalanan Ziva hanya diam, Razka tak berani mengajak berbicara. Pria itu hanya sesekali melirik sang istri.
__ADS_1
Mobil pun berhenti tepat di pintu masuk rumah, Ziva turun dengan menutup pintu belakang kendaraan dengan kasar. Suaminya juga menyusulnya dengan membawa barang belanjaan.
Ziva segera mengganti pakaiannya lalu ia turun ke bawah meminta pelayan menyediakan makanan. Dengan cepat pelayan, menyajikannya. Tanpa menunggu sang suami dia menyantap hidangan makan malam.
Razka pun mendudukkan dirinya dan ikut makan walau istrinya terlihat ketus dan dingin.
Selesai makan Ziva kembali ke kamar, ia memilih untuk merebahkan diri dan memejamkan matanya.
Razka juga melakukan hal yang sama, dia mengalungkan tangannya ke pinggang istrinya. Namun Ziva, tak menolaknya dan malah cuek.
"Maaf!" ucap Razka berbisik.
...****************...
Keesokan paginya, Ziva masih diam tetapi ia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Razka yang baru keluar dari kamar mandi menarik lengan istrinya dan merangkul pinggangnya lalu mengecup bibirnya.
"Jangan seperti ini!" pinta Razka memohon.
Ziva masih tetap diam.
"Apa ada aku salah?" tanya Razka.
"Ada," jawab Ziva."Karena kau hidupku tak tenang, sejak kau hadir selalu saja ada masalah. Sampai kapan teror ini berakhir?" Ia meluapkan kekesalannya pada suaminya.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih.
"Aku capek dan lelah, Raz!" sentak Ziva.
Razka memeluk erat istrinya yang menangis."Aku akan mencari pelakunya," janjinya.
"Kapan?" tanya Ziva menantang.
Razka terdiam, selama ini dia tak memiliki musuh. Tapi ia sendirilah yang diam-diam menjadi musuh bagi keluarga istrinya tanpa diketahui mereka.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau belum menemukan pelakunya," ucap Ziva ketus.
Melihat Ziva pergi, Razka mengacak rambutnya.
"Jika bukan Ayah, siapa pelakunya?"batinnya."Apa Rena?" gumamnya."Tidak mungkin dia, itu sama saja ia mengorbankan karirnya hancur," ucap Razka lirih.
Ia pun menelepon seseorang,"Aku butuh bantuanmu!"
"Sejak kapan kau lemah begini?" tanya seseorang diujung teleponnya.
"Sejak aku jatuh cinta," jawab Razka asal.
Pria itu tergelak mendengar jawaban sahabatnya itu,"Kau bisa juga jatuh cinta,ya?"
"Aku pria normal, ya bisalah," jawab Razka.
"Selama ini para wanita yang mengejar," ucapnya.
"Kau ingin membantuku atau sekedar mengejekku?" tanya Razka mulai kesal.
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Asistenku yang akan menjelaskannya," ucap Razka.
"Jangan lupa komisi untukku," ujarnya.
"Kerja dulu, baru bicara komisi." Ucap Razka.
"Siap Tuan, saya akan menyelesaikannya dengan baik," ujar pria itu lagi.
"Aku tunggu kabar darimu secepatnya," ucap Razka kemudian menutup teleponnya.
__ADS_1