
"Semalam kau membuat rumahku ini berantakan?" tanya Razka.
"Pasti wanita itu yang memberitahumu!" tebak Ziva.
"Mengapa kau lakukan itu?"
"Aku bosan jadi apa salahnya mengajak mereka makan bersama," jawab Ziva.
"Lain kali jika kau ingin melakukan itu beri tahu aku terlebih dahulu," ujar Razka.
"Baik suamiku!" ucap Ziva tersenyum.
Gio fokus dengan makanannya, ia tak mau mendengar atau ikut berbicara .
...****************...
Sementara itu Nessa pagi ini menemani Razi, ia resmi bekerja di perusahaan kekasihnya itu.
"Kita singgah ke mini market, ada yang ku beli," ucap Nessa.
Razi pun menghentikan mobilnya di depan mini market yang ditunjuk kekasihnya itu.
Nessa pun berjalan menyusuri lorong, tanpa sengaja ia menyenggol seorang wanita berkisar 30-an.
"Maaf, Nona!"
"Kau punya mata atau tidak, hah!" ucap Helen marah.
"Sayang, ada apa ini?" tanya pria hampir sebaya dengan Paman Daniel.
"Gadis ini, menabrakku. Kamu lihat ini sepatuku jadi kotor karena diinjak dia!" tunjuknya ke arah sepatu.
"Saya tidak sengaja, Nona!" ucap Nessa.
"Sudahlah, sayang. Masalah ini kecil, kamu sudah selesai belanjanya?" tanyanya.
"Sudah, sayang. Ayo, kita pulang!" ajak Helen pada kekasihnya itu.
Nessa menyebikkan bibirnya,"Dasar orang kaya sombong!" gumamnya.
Nessa terus menerus ngedumel sampai ke bawa di mobil .
"Kenapa?"
"Itu tuh wanita angkuh, aku tidak sengaja menginjak sepatunya dan sudah minta maaf. Eh, mulutnya asyik ngerocos tak menentu," ucap Nessa mengeluarkan beban hatinya.
Razi tergelak melihat kekasihnya itu berceloteh," Aku takut nanti kau sakit!"
"Sakit?"
"Iya, darah tinggimu naik aku juga yang repot!" celetuk Razi.
"Ih..kamu ini," Nessa memukul lengan Razi.
"Jangan marah-marah aja tambah cantik nanti," ejek Razi.
"Kamu 'ya!" Nessa menyebikkan bibirnya.
"Tersenyumlah, baru juga seminggu bekerja tapi seperti menanggung beban pekerjaan begitu berat," ujar Razi.
Nessa pun kembali tersenyum.
Di kantor Razka, ia kedatangan mertuanya. Pria paruh baya itu ingin mengobrol dengan menantunya.
"Papa!" sapa Razka yang terkejut mertuanya datang.
__ADS_1
"Apa kabar, Nak?"
"Baik ,Pa. Kenapa tidak beri tahu Razka jika ke sini?"
"Papa kebetulan lewat kantor kamu jadi singgah sebentar sekedar mengobrol. Bagaimana kabar Ziva?"
"Dia baik-baik saja,Pa."
"Apa dia tidak nakal dan manja?" tanya Daniel tersenyum.
Gio mengetuk pintu, ia membawa dua gelas jus untuk atasannya dan mertuanya. Setelah meletakkan minuman ia keluar ruangan.
Razka menyunggingkan senyumnya, bingung menjawab pertanyaan sang mertua.
"Biasanya dia suka merengek kalau keinginannya tidak terwujud dan dia selalu takut jika mendengar suara petir," ungkap Daniel.
"Pantas saja dia ketakutan seperti itu," batin Razka.
"Razka mau tanya apa Ziva punya trauma masa lalu dengan sesuatu begitu?" tanyanya pada Daniel.
"Jika terdengar petir dan tembakan," jawab Daniel.
"Tembakan? Apa ia pernah tertembak?" tanya Razka lagi.
"Dia pernah diculik 11 tahun yang lalu," jawab Daniel.
"Kenapa Pa?"
"Ada seseorang tidak menyukai keluarga kami dan Ziva menjadi korban penculikan itu." Jelas Daniel. "Bocah 11 tahun harus disekap dan ia melihat seseorang tertembak di depan matanya sendiri," tutur Daniel lagi.
"Lalu ?"
"Dia mengalami trauma beberapa bulan, Ziva selalu berada dalam pengawasan kami. Ke manapun dia pergi selalu ada pengawal dan ia tak kami izinkan pergi tanpa orang kepercayaan disampingnya." Jelasnya.
"Apa yang dimaksud oleh Papa Daniel adalah Ayah Mario?" tanya Razka dalam hati.
"Mario!"
Deg..
"Ayah dalang penculiknya," ucap Razka membatin.
"Apa Papa tahu di mana penculiknya sekarang?"
"Papa tidak tahu dia di mana, kabar yang kami dapat 5 tahun lalu ia dibebaskan," jawab Daniel.
"Siapa sebenarnya yang berbohong?" pertanyaan itu membuat Razka semakin penasaran.
"Papa mau pulang," ucap Daniel bangkit.
"Iya, Pa. Hati-hati!"
Baru saja Daniel keluar ruangan seorang wanita muda sebaya dengan putrinya menyapa Razka.
"Sayang!" sapa Rena mesra ia bergelayut manja di lengan.
Razka tersenyum kikuk di hadapan mertuanya.
"Dia siapa?" tanya Daniel.
"Saya Rena kekasih Razka, Paman!
Daniel menatap tajam menantunya.
"Kau siapa? Aku tidak kenal," Razka berusaha melepaskan tangan Rena.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan gadis ini?" tanya Daniel selidik.
"Bu..bukan Paman. Ini salah paham!" ucap Razka.
"Ya, ampun kamu di sini. Ayo, keluar dari kantor ini!" Dino menarik tangan Rena.
"Aku tak mau keluar," tolak Rena.
"Ayo, keluar! Kekasihmu tidak bekerja lagi di sini." Ucap Dino.
"Dia kekasihku," ucap Rena kesal Dino menarik tangannya.
"Maaf, Paman gadis ini sedikit gila!" ucap Dino menjelaskan pada Daniel.
"Aku tidak gila!" hardik Rena.
Gio datang dengan dua penjaga keamanan kantor.
"Usir dia!" perintah Gio.
Rena pun ditarik dua pria. "Lepaskan, aku tidak gila! Razka katakan padanya aku ini kekasihmu." Wanita memberontak dan berteriak.
Razka segera mengusap lengan tangannya. Wajahnya terlihat marah. Dia tak habis pikir Rena datang di saat tidak tepat.
"Maaf, Tuan. Kami kecolongan, lain kali tidak akan membiarkan wanita itu menginjakkan kakinya di kantor ini," Dino menundukkan kepalanya.
"Apa dia memang begitu?" tanya Daniel penasaran.
"Benar, Paman. Kekasihnya pernah bekerja di sini cuma mereka putus, mantannya menghilang begitu saja. Jadi dia begitulah," ucap Dino berbohong.
"Baiklah, jika memang begitu. Kalau saja kamu berani mengkhianati putriku, Papa tidak akan tinggal diam!" Daniel memberi peringatan pada menantunya itu.
Razka menelan saliva dengan kasar.
Dino dan Gio menundukkan kepalanya memberi tanda hormat saat Daniel melangkah pergi.
Dino menghampiri atasannya itu," Bos ternyata mertua anda galak!"
"Aku peringatkan kepada kalian, jangan sampai kejadian seperti terjadi lagi," ucap Razka dingin.
"Maafkan kami, Tuan!" ucap Dino dan Gio.
Razka meninggalkan kedua bawahannya dengan perasaan kesal.
Razka memandangi jalanan dari jendela kantor. "Apa Ayah sebenarnya dalang dari penculikan Ziva? Kalau memang iya kenapa dia mengatakan kalau keluarga Ziva yang membuat Mama meninggal." Batinnya terus bertanya."Aku akan menyelidiki ayah," gumamnya.
Dia pun mengambil kunci mobil dan berlalu meninggalkan ruangannya. Melihat Razka keluar ruangan, Gio bergegas menghampirinya.
"Tuan mau ke mana?" tanya Gio.
"Ada hal penting yang harus ku bicarakan pada ayah. Kau tetap di sini saja!" ucap Razka.
"Apa anda butuh sopir?"
"Tidak, biar aku sendiri saja!" ucap Razka.
Gio dengan cepat menelepon seseorang sesaat punggung atasannya itu menghilang.
"Tuan Razka keluar kantor. Kalian awasi dan jaga dia!" perintah Gio.
Gio pun kembali bekerja menuruti perintah atasannya itu.
"Kenapa Tuan Razka pergi seorang diri?" tanya Dino.
Gio hanya menatap Dino kemudian melangkah meninggalkannya.
__ADS_1
"Hufps.. mana ada wanita yang mau mendekatinya jika dia begitu," gumam Dino melihat asisten pribadi bosnya.
"Kau mau tetap di situ saja!" ucap Gio memanggil.