Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Membuka Hati


__ADS_3

"Apa kau sudah jatuh cinta pada gadis itu?" tanya Mario pada putranya.


Razka menarik sudut bibirnya lalu berkata,"Itu bukan urusan Ayah."


"Aku harap kau tak jatuh cinta. Kau juga yang akan menyesal nantinya," ujar Mario.


"Kenapa? Apa Ayah pernah patah hati karena cinta?" tanya Razka menyindir.


Mario tertawa kemudian menjawab pertanyaan sang putra."Tentunya Ayah pernah merasakan cinta pastinya dengan Mamamu."


"Razka harap Ayah berkata jujur. Lalu bagaimana dengan wanita itu yang selalu di sampingmu?"


"Ayah hanya merindukan seorang wanita di sisi hati ini."


Razka tersenyum tipis,"Benarkah? Bukan karena patah hati yang membuat Ayah menjadi pendendam?"


"Ayah tidak selemah itu!" ucap Mario.


"Harusnya memang begitu, jika mau di cap sebagai pria sejati." Ujar Razka dingin.


"Sekarang kau berubah, Nak?"


"Razka tidak berubah dan tetap begini," jawabnya.


"Itulah yang ku suka darimu," ucap Mario.


"Hari sudah malam, kapan kita mulai makan?" tanya Razka masih dengan nada dinginnya.


"Ayah lupa jika mengundang kalian makan malam," ucapnya.


Razka dan Mario berjalan bersama menuju lantai bawah, mereka menikmati makan malam bersama. Ziva dengan telaten mengambil nasi dan minuman buat suaminya. Rena yang melihatnya semakin kesal.


Tak ada obrolan di antara mereka, saling diam dan hanya suara sendok yang menari-nari di atas piring.


Selesai makan, Razka dan Ziva pamit pada Mario.


"Razka, aku ikut denganmu!" ucap Rena membuat sepasang suami istri itu menoleh.


Ziva lalu menatap sang suami, ia ingin melihat mulut suaminya berkata apa.


"Aku sudah memiliki istri, jadi jangan pernah menggodaku lagi," ucap Razka dingin kemudian ia melangkah dengan menggandeng tangan Ziva.


Rena menghentakkan kakinya. Gio mendekatinya,"Lebih baik Nona menjauh dari hidup Tuan Muda."


"Kau dan Tuanmu sama saja," ucap Rena kesal.


Sementara itu Ziva melihat tangannya di genggam."Kenapa dia tidak ikut bersama kita? Siapa tahu alamat rumahnya searah?"


"Jika kau tidak menginginkanku lagi, aku bisa bersamanya," jawab Razka dingin.


Ziva terdiam mendengar ucapan suaminya.


Sesampainya di rumah, Razka segera mengganti pakaiannya sedangkan Ziva hanya melamun.


"Kenapa melamun?"


"Masa hukumanku berakhir hari ini, apa besok aku akan kembali di dalam kamar?"


Razka mendekati istrinya yang duduk di ujung ranjang.

__ADS_1


"Kau bisa melakukan apapun di rumah ini. Jika kau ingin aku juga berada di dalam kamar bersamamu, tidak masalah," ucapnya.


"Memangnya kau mau sepanjang hari di dalam kamar? Tidak bekerja atau ke mana gitu," ujar Ziva.


"Asal bersamamu. Kenapa tidak?"


Ziva terlihat gugup saat suaminya itu menangkup wajahnya. Perlahan Razka mendekatkan bibirnya, ia segera menuntaskan hasrat selama ini. Hingga pagi harinya.


...****************...


Ziva menggeliat tubuhnya, rasanya ia enggan untuk bangkit karena terlalu lelah berduel dengan suaminya. Di tambah lagi, di luar hujan cukup deras menambah rasa malasnya.


Ia melihat sosok disampingnya yang masih tertidur pulas. Cukup lama Ziva memandangi wajah Razka.


Ia membelai rambutnya dan memperhatikan setiap inci setiap sudut wajah sang suami.


"Apa kau sudah puas memandang wajahku?" Razka terbangun karena sentuhan tangan seseorang.


Ziva segera menarik tangannya."Maaf menganggu tidurmu!"


Razka pun bangkit, ia menoleh ke arah jendela.


"Apa kau masih tetap ingin di sini?"


"Hah! A..aku akan turun membuatmu sarapan." Jawab Ziva gugup, jika dia tak mau bisa saja suaminya minta lagi.


"Di luar hujan."


"Lalu kenapa?"


"Kalau kau ingin melanjutkan seperti tadi malam, biar kita lakukan," jawab Razka asal.


"Oh, tidak. Aku segera turun, ini mau mandi," ucap Ziva sedikit harus pegangan menuju kamar mandi.


"Tidak, terima kasih." Jawabnya dengan cepat.


Razka tersenyum saat tubuh istrinya itu masuk ke kamar mandi, ia kembali melanjutkan tidurnya.


Ziva pun selesai mandi, ia segera mengeringkan rambutnya. Jika masih basah, ia akan malu dilihat para pelayan. Dia melihat suaminya masih betah berselimut, ia pun pergi ke bawah menyiapkan sarapan.


Selesai sarapan ia kembali ke kamar membangunkan Razka. Suaminya itu masih setia memeluk bantal.


"Razka, ayo bangun. Hari sudah semakin siang," ucap Ziva menarik selimut suaminya.


Razka pun bangun kemudian menarik tubuh istrinya. Ia mencium wajah Ziva bertubi-tubi.


Ziva berusaha mendorong tubuh Razka." Kau bau, pergi mandi. Sarapan sudah ku siapkan!"


Razka pun bangkit, ia segera ke kamar mandi. Ziva menyiapkan pakaian kantor suaminya.


Cukup lama ia menunggu suaminya turun, akhirnya ia kembali naik ke atas."Kau lama sekali ke bawah!"


"Bisakah kau memasangkan dasi?"


Ziva mendekati Razka."Biasanya juga bisa sendiri," sindirnya.


Razka menarik pinggang Ziva lalu mengecup bibir istrinya.


"Apa itu juga akan menjadi kebiasaan barumu?" tanya Ziva seraya memasangkan dasi.

__ADS_1


"Iya, tiap waktu." Jawab Razka.


Ziva menarik dasi suaminya dan pria itu berteriak terkejut lehernya di tarik.


"Kau bawa saja bibirku ini," omel Ziva kemudian berlalu keluar kamar.


Razka terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya. Lalu ia turun mengikuti langkah sang istri. Mereka menikmati sarapan, sepanjang menikmati makanan Razka selalu tersenyum hal yang jarang dilakukan pria itu selama ini membuat para pelayan heran.


"Ini ponselmu, aku kembalikan!" Razka menyodorkan sebuah ponsel.


Ziva tersenyum saat Razka memberi teleponnya, ia memeluk dan mencium alat elektronik itu."Terima kasih," ucapnya.


"Hemm.."


Ziva segera menghapus layar ponselnya dan menjelajahi berbagai aplikasi yang terdapat di dalam ponselnya. Ia menelusuri setiap kontak telepon, lalu ia mengernyitkan keningnya. Kemudian menatap Razka.


"Ada apa?" tanya Razka.


"Kau menghapus beberapa kontak di teleponku?"


"Iya, aku menghapus nama yang tidak ku kenal."


"Astaga, kau tidak kenal tapi aku mengenalnya," jelas Ziva.


"Kau tidak boleh menghubungi orang lain selain aku dan keluarga inti."


"Apa kau cemburu?"


"Iya, aku cemburu sebagai seorang suami." Jawabnya.


Ziva menghela nafasnya.


"Aku mau ke kantor, nanti sore kita latihan menembak lagi," ucap Razka kemudian ia bangkit lalu mendekati Ziva dan mencium pucuk kepala istrinya.


"Siap!" Ziva mengacungkan satu jempol kanan.


"Jangan sibuk bermain ponsel, beristirahatlah biar bisa main nanti malam," ujar Razka.


"Main? Kau kira aku anak kecil," protes Ziva.


"Main yang semalam," bisik Razka.


Ziva mengerucutkan bibirnya.


"Jika tidak suka dengan tamu yang hadir hari ini, kau bisa menyuruh pengawal mengusir mereka," ucap Razka.


"Tamu? Apa ada yang datang hari ini?" tanya Ziva bingung.


"Setiap aku pergi, pasti akan ada orang yang datang mengunjungimu," jawab Razka.


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Aku hanya menebak saja," jawabnya.


"Baiklah, aku berharap tidak akan ada tamu hari ini kecuali tamu bulanan," celetuk Ziva.


"Tamu bulanan?"


"Itu biasa bagi semua wanita," jawab Ziva.

__ADS_1


"Biasa bagaimana?"


" Kau juga akan tahu, pergilah bekerja!" ujar Ziva mendorong lembut tubuh suaminya itu menuju mobil.


__ADS_2