
"Sudah berapa kali Papa katakan, jangan minum minuman itu!" Tama marah dengan sikap putrinya.
"Pa, aku hanya minum sedikit." Luna memberikan alasan.
"Sedikit, kamu bilang? Kenapa sampai mabuk?"
"Percaya padaku, Pa."
"Papa tidak percaya," ucap Tama. "Sudah dua kali, kamu diantar Tuan Gio pulang," lanjutnya lagi.
"Bagaimana bisa, Pa? Padahal dia tak ada di sana?" Luna mulai penasaran.
"Dia melihatmu muntah di pinggir jalan, Karina dan Tiara juga sudah menjelaskan alasan kamu mabuk!" jawab Tama.
Luna teringat malam itu, Dave membujuknya minum dengan alasan agar rasa kesal dan kecewa hilang. Seingatnya lagi, dia tidak meminum terlalu banyak.
"Pasti dia memberikan aku sesuatu," ucapnya.
"Papa tidak suka kau bertemu dengan pria itu!" ucap Tama.
"Iya, Pa. Aku janji tidak akan bertemu dengan dia," janjinya pada Tama.
"Satu hal lagi, jangan mempermalukan Papa!" ucap Tama tegas.
"Iya, Pa. Maafkan aku!" mohon Luna. Tama pun pergi meninggalkan kamar putrinya.
Luna memukul kepalanya karena bodohnya, ia menceritakan masalahnya dengan Gio pada Dave. Ia pun menghubungi kedua temannya dan memarahinya karena telah membiarkan dirinya pulang diantar Gio.
"Ya, ampun. Sungguh memalukan," ia merutuki dirinya.
-
-
__ADS_1
"Bagaimana, kondisi anda?" tanya Gio pada Luna saat mereka di lokasi proyek.
"Baik, terima kasih sudah mengantarku pulang," jawab Luna terkesan dingin.
"Saya harap, anda tidak salah memilih teman pria," sindir Gio.
"Apa kau pria yang baik?" Luna bertanya dengan tatapan tajam.
"Saya bukan pria yang baik, tapi bisa-bisanya seorang putri konglomerat mau dibodohi seorang pria yang tak dikenal," jawab Gio tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu berkata itu?"
"Tidak ada, cuma ingin menyadarkan wanita yang ada di depan saya," jawab Gio.
"Aku memang bodoh karena jatuh cinta pada pria yang tak pernah menyukaiku," ucap Luna dengan lantang hingga membuat beberapa pasang mata yang ada di lokasi proyek mengarah pada mereka.
Gio terdiam mendengar ucapan Luna, sedangkan wanita itu memilih pergi ke dalam mobil dan menangis.
"Apa anda tidak berniat membujuknya?" celetuk Dino yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Gio.
Luna terus menangis sesenggukan, ucapan Gio benar yang mengatakan dirinya adalah wanita bodoh. Sebelum meninggalkan lokasi, Luna mengirimkan pesan pada karyawannya untuk pulang terlebih dahulu.
-
"Kau pria sombong dan kejam Gio!" Luna menumpahkan air matanya di atas bantal.
Tama yang mendengar kejadian di proyek hanya geleng kepala melihat sikap putrinya yang selalu ingin mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
"Kenapa denganmu, Tama?" Daniel memasuki ruangan temannya itu.
"Daniel? Maaf aku tidak tahu, kalau kau di sini?"
"Apa yang terjadi?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Biasa masalah Luna," jawab Tama.
"Kenapa dengan putrimu?"
"Dia menyukai asisten menantumu, tapi pria itu tak menerimanya," jelas Tama.
"Bukankah yang di acara pesta itu mereka saling menyukai?"
"Itu hanya sandiwara saja," jawab Tama.
"Sandiwara?"
"Luna yang terlalu mengejar Gio."
"Bagaimana kalau Luna kau jodohkan saja, agar dia tak mengejar Gio lagi?"
"Dijodohkan? Tapi dengan siapa?"
"Kau yang harus memilihnya, pastikan pria itu menyukai Luna," jawab Daniel.
"Bagaimana dengan putranya Leo?" usul Daniel.
"Maksud kau Devan?"
"Ya."
"Devan dan Luna memang saling mengenal, tapi apakah putranya Leo mau menikahi putriku?"
"Coba saja tanya," ucap Daniel. "Oh, ya. Bukankah kau bilang kalau Luna akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri?"
"Iya, rencananya."
"Bagaimana jika kau suruh saja dia pergi, agar bisa melupakan Gio?" usul Daniel lagi.
__ADS_1
"Kau benar, aku suruh saja dia melanjutkan pendidikannya daripada menjodohkannya," jawab Tama tersenyum puas.