
"Apa kau sedang cemburu?" tanya Razka.
"Tidak juga,aku tak mau saja dia mengambil sesuatu yang menjadi milikku," ucap Ziva ketus.
Mereka berdua pun turun ke bawah. Ayah dan Razka berjalan ke arah taman tak ada satu pun orang yang boleh memasuki area itu karena ayah dan anak itu sedang berbicara serius.
Ziva terpaksa menemani Rena di ruangan keluarga. Wanita itu melirik Ziva penuh angkuh dan sombong.
"Aku tahu Razka menikahimu karena terpaksa," sindir Rena.
"Kalau terpaksa mana mungkin dia datang melamar sendiri kepada keluargaku," sahut Ziva.
Rena terlihat kesal mendengar ucapan istri kekasihnya itu.
"Kami belum putus dan ia sangat mencintaiku," ucap Rena lagi.
"Tapi mengapa dia memilihku sebagai istrinya?" pertanyaan Ziva membuat Rena semakin kesal.
"Kau merebutnya dariku!" sentak Rena.
Ziva tersenyum tipis,"Aku tidak salah dengar?"
"Coba saja kau tidak menikah dengannya pasti dia akan kembali padaku!"
"Kembali? Itu artinya kau meninggalkannya atau sebaliknya?" cecar Ziva.
"Ayah Razka menyukaiku jadi menantunya," ucap Rena lagi.
"Kenapa tidak kau saja yang menikah dengan ayahnya?"
"Kau lihat saja, aku akan mengambil Razka darimu!" ancam Rena.
"Silahkan,aku tidak takut. Kalau memang aku masih berjodoh dengannya,sekuat apapun kau memisahkan itu tidak akan menjadi milikmu!" Ziva berusaha tegas, ia pun pergi berlalu ke kamar.
Rena menghentakkan kakinya,ia kesal mendengar ucapan Ziva.
Sementara itu di taman,ayah dan anak begitu serius berbicara.
"Ayah sudah mengetahui siapa istrimu," ucap Mario. "Kenapa kau tidak memberi tahu padaku?" tanyanya lagi.
"Biarkan itu menjadi urusanku,Yah!"
"Apa kau yakin mampu melakukannya sendiri?"
"Ziva adalah istriku, tentunya dia dalam pengawasanku," jawab Razka.
"Ayah harap kau tidak jatuh cinta padanya," pinta Mario.
Razka tersenyum tipis," Ayah tenang saja!"
"Seharusnya kau tidak perlu menikahinya," ujar Mario.
"Sudah terlanjur, Razka tidak mungkin menceraikannya."
"Ya sudah, ingat tujuan awal rencana kita!" Mario mengingatkan anaknya itu.
Selesai berbicara, Razka dan Mario kembali ke dalam rumah. Rena menghampiri Ayah Razka dan menyusulnya pulang.
"Bagaimana,apa Paman sudah berbicara pada Razka?"
tanya Rena di dalam mobil.
"Paman sudah berbicara," jawabnya berbohong. "Kau harus memberikan dia perhatian agar Razka kembali padamu!" usul Mario.
"Terima kasih,Paman!" ucap Rena tersenyum senang.
Setelah mengobrol dengan sang ayah,Razka mencari istrinya. Ia pun menyusul Ziva ke dalam kamar karena salah satu pelayannya mengatakan selesai mengobrol dengan Rena, istrinya itu pergi ke kamar dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Kau di sini?" tanya Razka saat memasuki kamar.
"Sudah selesai berbicara dengan Ayah?"
"Sudah. Ayah pun sudah pulang," jawab Razka. "Apa Rena menyakitimu?" tanyanya lagi.
"Tidak!" Ziva menggeleng kepalanya.
"Kata pelayan, wajahmu terlihat murung sesudah berbicara dengan Rena."
"Tidak, aku hanya kelelahan saja."
"Beristirahatlah!"
"Kenapa dia begitu perhatian?" tanya Ziva dalam hati.
"Besok aku akan ke luar kota,kau mau ikut atau tidak?"
"Kau mengajakku?" tanya Ziva.
"Iya, memangnya ada orang lain di kamar ini?"
"Aku tidak mau ikut, ku yakin pasti sangat membosankan jika ikut denganmu."
"Benar juga 'sih. Aku ke sana karena urusan pekerjaan."
"Nanti saja aku ikut kalau kamu mau liburan," ujar Ziva.
...****************...
Pagi harinya Razka akan berangkat ke luar kota bersama Gio. Selesai sarapan Ziva mengantar suaminya itu sampai pintu mobil.
"Jaga dirimu, tetap waspada!" ucap Razka pada Ziva.
"Aku akan menjaga diriku," Ziva menyakinkan suaminya.
Ziva membalas senyuman dan ucapan,"Ya!"
Sebelum berangkat ke kantor, ia singgah ke pemakaman. Dari pemakaman langsung ke luar kota.
Gio dan sopir tetap menunggu di mobil. Tatapan mata asisten pribadi Razka itu tertuju pada sebuah mobil yang berjalan ke arah rumah atasannya itu.
Sementara itu di rumah, pelayan menghampiri kamar Ziva . "Nona, Tuan menyuruh saya memberikan vitamin kepada anda!"
"Letakkan saja di situ," tunjuknya ke arah sebuah meja yang ada di kamar.
"Kata Tuan, segera diminum agar Nona tidak kelelahan!"
"Saya akan meminumnya, terima kasih!"
"Kalau begitu saya permisi, Nona!"
Ziva membalas dengan mengangguk.
Masih di pemakaman, Razka cukup lama berada di tempat itu. Hampir setengah jam ia berada di sana. Ia pun kembali ke mobil.
Gio menghampiri Razka,"Apa sebaiknya kita kembali ke rumah?"
"Untuk apa?"
"Nona Ziva dalam bahaya."
Razka menatap Gio, lalu ia memerintahkan sopirnya. "Kita kembali ke rumah!"
Mobil pun kembali ke rumah. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar. Pintu diketuk Razka berulang kali. Ziva pun membukakan pintu.
"Ada apa? Kenapa kembali lagi?" tanya Ziva mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Mata Razka tertuju pada vitamin di atas nakas. Ia segera mengambil obat itu dan melihatnya.
"Ini jangan diminum!" Razka memberi peringatan.
"Memang kenapa Raz?"
"Ini bukan vitamin," jawabnya.
"Kata pelayan aku harus meminumnya," ucap Ziva.
"Ini tidak sesuai dengan vitamin yang ku beri." Razka segera ke luar kamar dan memanggil seluruh pelayan, termasuk yang mengantar vitamin kepada Ziva.
"Siapa memberi obat ini?" tanya Razka tegas.
"Bukankah Tuan yang memberikannya pada saya?" tanya pelayan tertunduk.
"Ini bukan vitamin yang saya beri. Siapa yang menyuruhmu menggantinya?" tanya Razka dingin.
"Saya tidak menggantinya," jawabnya gugup.
"Lalu siapa?"
"Saya tidak tahu!"
Gio kembali mendekati Razka,"Nona Rena tadi ke sini!"
"Jika saya tahu diantara kalian yang mengganti vitamin ini, kalian akan tahu akibatnya!" ancam Razka tegas.
Seluruh pelayan menunduk ketakutan.
"Kalian bubar!" sentaknya. Para pelayan membubarkan diri.
"Untuk apa wanita itu ke sini?"
"Saya juga kurang tahu,Tuan. Saya hanya melihat mobilnya menuju ke sini," jelas Gio.
"Awasi gerak-gerik Rena juga!" perintah Razka.
"Baik, Tuan!"
Razka kembali ke kamar, ia memberikan Ziva vitamin.
"Memangnya vitamin tadi kenapa?"
"Aku tidak tahu, tapi itu bukan vitamin. Kau harus tetap berhati-hati!"
"Iya aku akan berhati-hati. Tapi ini benar-benar vitamin juga?"
"Aku tidak mungkin membohongimu." Razka membuka bungkusan vitamin dan memberikannya 1 tablet dan segelas air putih.
"Kenapa kau begitu perhatian padaku?"
Razka menatap wajah itu kemudian membuang wajahnya. "Karena kau istriku!"
"Seandainya bukan?"
"Aku tidak mungkin mau peduli denganmu!"
Ziva tersenyum kemudian kembali bertanya,"Kenapa kau tidak jadi berangkat?"
"Aku akan berangkat setelah memastikan dirimu baik-baik saja!"
Ziva reflek memeluk suaminya,"Terima kasih. Aku yakin kau tidak sejahat yang ku pikirkan sebelumnya!"
Razka ingin membalas pelukan yang diberikan Ziva namun, ia urungkan karena ada rasa bersalah menyeruak di hatinya.
Ia mendorong lembut tubuh istrinya. "Aku berangkat, ingat pesanku!"
__ADS_1
"Jika terjadi apa-apa denganku, bagaimana aku bisa menghubungimu?"