Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Ayah Razka


__ADS_3

"Aku bawakan bekal makan siang untukmu!"ucap Ziva ketika suaminya akan berangkat ke kantor.


Razka menatap bingung Ziva dan wadah yang dipegangnya.


"Mamaku dulu suka begini,jika Papa pergi kerja,"ucapnya lagi.


Razka mencoba tersenyum dan mengambil wadah yang diberikan oleh istrinya itu.


Ziva mengambil tangan suaminya kemudian ia kecup punggung tangannya. Hal itu membuat Razka semakin tambah bingung.


"Apa ini juga dilakukan Mamamu?"


Ziva mengangguk.


Razka pun pergi dalam hati berkata,"Sikapnya semakin manis saja, bagaimana aku bisa menghancurkan keluarganya?"


Ziva tersenyum bahagia,ia kembali ke kamar."Kata Mama jika ada yang ingin menyakitimu balaslah dengan menyayangi. Semoga saja aku bisa mengetahui apa motif dia menikahiku?"gumamnya.


Ziva membersihkan kamar tidurnya,ia melarang pelayan untuk memasuki kamar pribadinya apalagi ia sudah bersuami.


Tiba-tiba pelayan mengetuk pintu kamarnya dengan napas terburu-buru.


"Ada apa?"tanya Ziva mulai khawatir.


"Tuan besar,ayah Tuan Razka datang!"jawab pelayan.


"Ayah? Bukankah dia tidak memiliki orang tua lagi!"Ziva membatin.


Ia pun segera turun ke bawah dan melihat sosok yang di maksud.


"Jadi kau menantuku?"tanyanya pada Ziva.


Ziva berusaha tersenyum dan kembali bertanya,"Maaf anda siapa?"


"Jadi anak itu tidak mengatakan kepadamu?"


Ziva menggeleng kepalanya.


"Aku , Ayah mertuamu!"ucapnya."Mengapa kalian tidak mengundangku?"tanyanya kembali.


"Razka bilang kalau kedua orang tuanya meninggal,"


jawab Ziva jujur.


"Apa yang sedang direncanakan Razka?"batin pria paruh baya itu bertanya."Aku adalah ayah sambungnya mungkin dia tak menceritakan kepadamu,"ucap pria itu.


"Oh, begitu. Saya akan buatkan Ayah minuman,"ucap Ziva. Ia pun segera ke dapur menyiapkan minuman buat ayah suaminya.


"Aku seperti mengenal gadis itu,"ucapnya dalam hati.


Tak lama Ziva membawakan minuman buat ayah Razka.


"Kalau boleh tahu,siapa namamu?"tanya pria itu.


"Ziva."


Pria itu mengerutkan keningnya lalu kemudian bertanya,"Nama lengkapnya?"


Ziva bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan ayah mertuanya itu untuk apa dia menanyakan nama lengkapnya.


"Wajahmu mirip dengan anak temanku,"ucap pria itu karena melihat ekspresi wajah gadis didepannya itu sedikit tak suka ditanya nama lengkapnya.

__ADS_1


"Nama saya.."


"Ayah!"panggil Razka yang tiba-tiba saja muncul memotong pembicaraan mereka.


Razka kembali ke rumah karena mendapat telepon dari orang kepercayaannya jika ayah sambungnya itu datang. Ia pun segera menyuruh sopir untuk memutar balik.


"Anakku,"sahutnya memeluk tubuh gagah itu.


"Mengapa Ayah tak bilang jika akan kemari?"tanya Razka.


"Ayah mau memberikan kejutan untukmu tapi ternyata kau malah yang beri aku kejutan dengan pernikahanmu,"ucapnya.


"Ayah tinggal di luar negeri jadi aku pikir tidak akan mungkin datang,"ujar Razka berbohong.


Pria itu tertawa lalu kembali berucap,"Ayah tentunya akan datang ke pernikahanmu apalagi kau adalah anakku."


"Maafkan aku,Yah!"ucap Razka.


"Kau mengenal gadis itu di mana? Wajahnya mengingatkanku pada seseorang,"tanya pria itu lagi.


"Dia putri teman bisnisku,Yah!"jawab Razka.


"Siapa teman bisnismu itu?"tanya ayah sambungnya.


"Tak perlu tahu,pasti Ayah capek dan lelah dalam perjalanan bagaimana jika sarapan saja?"tawar Razka mengalihkan pertanyaan.


"Kau benar, Ayah sudah lapar!"


"Sayang,sediakan sarapan untuk Ayah!"perintah Razka pada Ziva dengan lembut.


Ziva mendelikkan matanya tak percaya jika suaminya itu memanggilnya dengan kata 'sayang'.


"Baiklah,aku akan siapkan!"Ziva segera ke dapur di bantu pelayan menyediakan makanan dan dihidangkan di meja makan.


"Siapa nama ibumu?"tanya pria itu.


"Ayah tak tambah lauknya? Selesai makan kita akan latihan menembak lagi,"Razka berusaha mengalihkan pertanyaan sang ayah.


"Ayah memang sudah lama tidak latihan menembak,"ucapnya.


"Menembak?Apa di rumah ini ada juga tempat latihannya?"pertanyaan itu menari-nari di hati Ziva.


Selesai makan, Razka mengajak ayahnya ke tempat kebetulan sebelah rumah utama.


"Kau tidak mengajak istrimu?"tanya pria itu.


"Tidak,Yah. Dia tidak hobi,"jawab Razka berbohong.


"Apa kau sudah melaksanakan yang ku pinta?'


"Aku belum bisa masuk ke dalam keluarganya,"jawab Razka berkali-kali bohong.


"Ibumu mati karena mereka jadi kau harus benar-benar menghancurkannya,"ucap pria itu lagi.


Razka hanya mampu terdiam dan tak menyahuti ucapan pria paruh baya itu.


Selesai latihan mereka kembali ke rumah utama.


"Apa kau tidak kembali ke kantor?"


"Sepertinya tidak,Yah. Ada Dino yang ku percaya untuk urusan kantor,"jawabnya.

__ADS_1


"Ayah pamit pulang,"ucapnya kemudian pergi meninggalkan rumah anak sambungnya.


Gio mendekati atasannya,"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan,Tuan?"


"Jangan sampai Ayah tahu tentang keluarga Ziva," jawabnya.


"Tuan besar tentunya akan mencari tahu karena dia begitu penasaran dengan Nona Ziva,"ucap Gio.


"Tugasmu sekarang tetap awasi gerak-gerik istriku,"titahnya.


"Baik,Tuan!"


Razka kembali ke kamar,tapi ia tidak menemui sang istri."Di mana dia?"tanyanya lirih.


Ia pun mencari istrinya itu dan bertanya pada pelayan rumah.


"Apa kalian melihat istri saya?"


"Nona Ziva di taman bunga,Tuan!"


Ia pun melangkah menuju taman, tampak sang istri merawat bunga-bunga itu.


"Apa tiap hari kau melakukan ini?"


Ziva membalikkan badannya dan tersenyum,"Kamu tidak kembali bekerja?"


"Tidak,aku lagi malas saja ke kantor lagi."


"Oh, begitu. Ayo,kita makan siang! Mana Ayah?"


"Dia sudah pulang,"jawab Razka."Aku sudah mempekerjakan orang untuk merawat kebun,jadi kau tak perlu capek mengurusnya,"lanjutnya.


"Saat kau pergi kerja,aku sungguh bosan jika hanya di dalam kamar dan menonton televisi. Para pelayan rumah ini semua sibuk, tak punya teman bicara jadi bunga-bunga itulah yang menjadi pelipur hatiku,"ungkap Ziva tersenyum.


Razka memaksakan tersenyum."Kau tadi mau mengajakku makan?"


"Oh,iya. Apa bekalmu tadi masih ada?"


"Ada."


"Ayo,makan!"


Ziva menyediakan piring, menuangkan air putih dan mengambil nasi dan lauk buat suaminya.


"Kenapa kau tidak pernah cerita jika masih memiliki seorang ayah?"tanya Ziva di tengah obrolan makan siang.


"Dia ayah tiri,mamaku menikah dengannya ketika usia aku 11 tahun,"jelas Razka.


"Jadi apa kamu punya seorang adik?"


"Mamaku meninggal bersama adikku,"jawab Razka sendu.


"Maksudmu meninggal dalam kandungan?"


"Tidak,adikku meninggal setelah dilahirkan. Tak lama kemudian mamaku menyusulnya,"tutur Razka.


"Maaf,aku tidak bermaksud membuatmu bersedih!"ucap Ziva mengelus punggung tangan suaminya.


"Asal kau tahu kedua orang tuamu yang membuat aku kehilangan mama dan adikku!"batin Razka geram. "Tidak apa-apa,tak seharusnya aku bersedih seperti ini,"ucap Razka.


"Itu hal lumrah kok,tapi kenapa kita menikah kau tidak mengundangnya?"

__ADS_1


"Hemm...dia di luar negeri dan kami jarang bertemu semenjak mama meninggal,"ucap Razka berbohong.


"Aneh,semua keluarganya ke luar negeri dan di luar kota. Masa satu pun tidak ada perwakilan dari pihak keluarga yang menghadiri acara pernikahan dia,"ucap Ziva membatin.


__ADS_2