Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Pesta yang menyebalkan


__ADS_3

"Nona, aku akan pulang dengan taksi saja!" ucap Gio sesampainya mereka di rumah Luna.


"Tidak apa, Tuan Gio. Bawa saja, kau tidak usah khawatir," ujar Luna.


"Saya tidak mau berutang kebaikan pada anda!"


"Kau tidak perlu berutang," ucap Luna.


"Suruh besok pagi karyawan anda untuk mengambil mobil ini di rumah saya," titah Gio.


"Jadi, kau ke kantor naik apa?"


"Biar itu jadi urusan saya, Nona."


"Baiklah, tapi terima kasih buat malam ini kau mau menemani ku makan malam," ucap Luna tersenyum.


"Kalau tidak terpaksa, saya takkan mau!"


"Tuan, jangan dingin begitu. Nanti kau bisa jatuh cinta padaku," ucap Luna percaya diri. Ia pun membuka pintu mobil dan turun.


Gio pun mengendarai kendaraannya dengan cepat, ia harus ke rumah Razka untuk memberikan laporan pekerjaan.


"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah mengantuk," ujar Razka.


"Maafkan saya, Tuan!"


"Aku lihat malam ini, kau sangat berbeda. Dari cara berpakaian, apa kau baru saja pergi?"


"Oh, ini. Ya, saya baru saja menghadiri acara ulang tahun teman," jawab Gio berbohong.


"Aku baru tahu, kau punya teman di kota ini," ucap Razka.


"Tuan, ini laporannya. Silahkan diperiksa," ujar Gio.


Razka memeriksa berkas yang diberikan oleh asistennya itu. "Kerja bagus," pujinya.


Gio hanya menjawabnya dengan tersenyum.


"Apa tidak ada masalah dengan Laura Grup?"


"Tidak ada, Tuan."


"Oh, ya. Besok ada acara undangan dari Laura Grup, semacam pesta begitu. Kemungkinan dari perusahaan Papa Daniel beliau juga turut hadir dan dari kita, aku harap kau yang akan mewakilinya," tutur Razka.


"Kalau boleh saya tahu, pesta apa Tuan?"


"Pesta ulang tahun Tuan Tama," jawab Razka.


...****************...


"Sayang, dasi ku di mana?" teriak Razi memanggil istrinya.


"Tempat biasa, sayang!" Nessa masuk ke kamar.


"Tidak ada, sayang."


"Kau ini, aku tidak pernah meletakkan di mana-mana. Tetap di lemari ini," ucap Nessa. Ia pun mengambilnya dan menyerahkan dasi tersebut kepada suaminya.

__ADS_1


Razi pun memasang dasinya.


"Kau tampak tampan, sayang," puji Nessa.


"Apa kau baru tahu, jika suamimu ini tampan," ucap Razi bangga.


"Iya, aku tahu. Suamiku ini tampan tapi jangan sampai tergoda dengan wanita cantik di sana," ujar Nessa.


"Kalau tidak menemani Papa ke sana, aku tidak akan mau," ungkap Razi.


"Iya, aku percaya padamu!" ucap Nessa tersenyum.


"Kalau begitu, aku pergi!" Razi mengecup kening istrinya.


-


Malam ini, Gio mewakili Razka menghadiri acara pesta ulang tahun rekan bisnisnya. Tuan Tama dan putrinya menyambutnya dengan suka cita.


"Terima kasih, Tuan Gio. Sudah datang di acara kami," ucap Tuan Tama.


"Kami yang bangga telah diundang oleh anda di acara ini, maaf saya mewakili Tuan Razka untuk menghadirinya," tutur Gio sopan.


"Tidak masalah, Tuan. Bagi kami siapapun yang mewakili perusahaan itu sudah membuat kami senang," jelas Tuan Tama.


Luna sedari tadi selalu menatap pria yang telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.


"Selamat ulang tahun, Tama. Sehat selalu," ucap Daniel.


"Terima kasih, Daniel."


"Selamat ulang tahun, Paman!" ucap Razi juga.


"Kami baik-baik saja, Paman."


"Mari masuk, nikmati acara malam ini," ucap Tama.


"Malam, Tuan!" sapa Gio pada Daniel.


"Malam juga, Gio!"


Daniel, Tama dan Razi lebih dulu jalan. Di susul Gio dan Luna dibelakangnya.


"Malam ini kau sangat tampan," goda Luna.


Gio hanya diam tak menggubris.


"Selamat malam semua," sapa Luna pada seluruh tamu undangan. "Malam ini adalah hari spesial bagi Papa saya, selain ditambah usianya dan diberi kesehatan. Saya ingin memperkenalkan seseorang spesial di hati," ucap Luna memberikan kata sambutan.


"Apa yang kamu katakan, Nak?" bisik Tama bertanya.


"Papa, tenang saja," bisik Luna juga. Lalu ia kembali menatap para tamu, "Seseorang itu bernama Gio Andrawan!"


"Apa!" seluruh mata memandangi Gio.


"Hal gila apa yang dilakukan wanita itu?" geram Gio dalam hati.


"Wah, ternyata kau pria yang mampu menaklukkan hati pewaris tunggal Laura Grup," ucap salah satu tamu.

__ADS_1


"Sejak kapan Gio dan Luna saling menyukai?" tanya Daniel pada Razi.


"Aku juga tidak tahu, Pa." Jawab Razi.


"Bukankah dia asisten Tuan Razka?" bisik-bisik para tamu.


Luna berjalan mendekati Gio yang masih bingung, ia ingin saja meninggalkan gedung tapi itu hanya akan mempermalukan keduanya.


Luna memeluk dirinya lalu berbisik, "Jangan menolakku, aku punya foto kita berdua.


Gio pun memaksakan tersenyum, Luna menggenggam tangannya dan menampilkan senyuman yang indah kepada seluruh tamu undangan.


Tepukan saling bersahutan diantara para tamu.


Saat para tamu, menikmati hidangan yang telah disediakan. "Saya ingin berbicara dengan anda!" bisiknya di telinga Luna.


"Bicara saja di sini!" ucapnya.


"Saya ingin bicara berdua saja," ucap Gio.


"Baiklah!" Luna berjalan lebih dulu, mencari tempat yang jauh dari para tamu dan orang lalu lalang.


"Apa maksud Nona dengan semua ini?" tanya Gio berusaha menahan amarahnya.


"Bukankah ini baik untuk perusahaan kita?"


"Nona bilang baik?" Gio mulai berbicara menaikkan nadanya.


"Semakin banyak pemberitaan tentang kita, maka itu mampu mengenalkan perusahaan kita pada semua orang," jelas Luna santai.


"Tapi, ini cara tidak baik. Anda telah merugikan saya," ucap Gio.


"Hei, harusnya kau bangga bisa bersama dengan ku!"


"Bangga? Apa yang saya bisa banggakan dari wanita yang mau menang sendiri, mengambil keputusannya tanpa bertanya pada orang lain?" tanya Gio.


"Aku egois?"


"Iya, anda wanita egois yang pernah saya temui!" ucap Gio tegas. Ia pun meninggalkan Luna yang terdiam.


Gio kembali bergabung dengan para tamu undangan yang lainnya.


"Ternyata kau punya kekasih, aku pikir kau hanya selalu ada di samping Razka," ucap Razi.


"Tuan, ini tidak seperti anda lihat," ujar Gio.


"Banyak pria yang ingin menikah dengannya, tapi kau beruntung dia sendiri yang memilihmu," ungkap Razi.


Gio hanya membalas ucapan Razi dengan tersenyum. Lalu ia pergi meninggalkan acara lebih awal sebelumnya ia berpamitan pada mertua dan ipar Razka kemudian kepada pemilik pesta malam ini.


Setelah pembicaraan mereka berdua di taman hotel, Luna seakan menghilang dari acara. Gio tidak memperdulikan wanita itu.


Malam ini, ia mempercepat laju kendaraannya agar ia segera sampai di rumah. Karena ia begitu malu dengan kejadian tadi, seorang wanita mengaku bahwa dirinya adalah orang yang spesial.


Sesampainya di rumah, Gio menghempaskan tubuhnya di ranjang dan memijit keningnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Kenapa dia melakukan hal bodoh seperti tadi?" batin Gio.

__ADS_1


"Apa benar tujuan dia melakukan ini, demi sebuah sensasi?" gumamnya. "Pesta ini sungguh menyebalkan!" ucapnya.


Baru beberapa menit memejamkan mata, ponselnya berdering dengan malas ia mengangkatnya. "Dia bukan urusanku!" ucapnya dengan mata terpejam.


__ADS_2