Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Perubahan


__ADS_3

"Jika terjadi apa-apa denganku, bagaimana aku bisa menghubungimu?"


"Kau bisa menyuruh Yusi menghubungi Gio," jawab Razka. Yusi adalah pelayan wanita usianya sudah menginjak 40 tahun.


"Berapa lama kau di sana?" tanya Ziva.


"Apa kau rindu padaku?"


"Aku hanya ingin menagih janjimu mengajakku jalan-jalan, hari kebebasanku tinggal 3 hari lagi," jelas Ziva.


"Besok sore aku sudah kembali," ucapnya.


"Aku harap kau tidak mengingkari janjimu!"


Razka berdiri dan bergegas berangkat ke luar kota.


Selepas Razka pergi, ia pun ke taman bunga melihat bunga-bunga yang ditanamnya. Kemudian ia pergi ke dapur untuk sekedar membuatkan kue lalu dibagikan kepada seluruh pelayan dan penjaga keamanan. Ia pun memanggil mereka semua.


Dia melakukan itu untuk mengusir rasa bosan selama berada di rumah suaminya. Sekaligus melepaskan rindu dengan toko kuenya yang sudah sebulan ia tinggalkan.


"Bagaimana rasanya apa enak?" tanyanya pada pelayan rumah suaminya.


"Enak, Nona!" jawab beberapa di antara mereka.


"Saya senang sekali. Nanti malam kita makan bersama," ajak Ziva pada seluruh pegawai Razka yang di rumah.


Mereka saling berpandangan menatap bingung dan heran.


"Kenapa? Kalian tidak suka?" tanya Ziva.


"Bukan begitu, Nona. Kami segan jika harus makan bersama dengan anda!" ucap salah satu pelayan.


Ziva tertawa mendengar alasan pelayan. "Tidak apa. Anggap saja sebagai komunikasi di antara kita. Kalian sebelumnya tidak pernah berkumpul bersama atau sekedar mengobrol begitu antar sesama pekerja?" tanya Ziva lagi.


Mereka menggeleng lalu diantaranya berkata,"Kami takut dipecat, Nona!"


"Untuk acara nanti malam, kalian tidak perlu takut. Saya yang akan bicara pada Tuan Razka," ucapnya menjelaskan.


Wajah mereka terlihat berbinar dan senang.


"Kalian harus bantu saya untuk mempersiapkan makanan nanti malam," perintahnya.


Para pelayan mengangguk. Ada yang belanja dan ada yang membantu memasak di dapur. Baru kali ini tuan rumah turun ke dapur atau berbaur dengan mereka. Biasanya majikan mereka menginginkan kesempurnaan. Termasuk mantan kekasih majikannya itu selalu minta dilayani bagaikan nona besar.


Malam hari pun tiba, setidaknya ada 20 orang pegawai di rumah ini. Dari penjaga keamanan, pengawal, tukang kebun, pelayan dapur dan bagian bersih-bersih isi rumah. Mereka berkumpul menjadi satu menikmati hidangan makanan bersama saling bercerita, saling bercanda dan tertawa.


"Wah, enak sekali !" ucap Rena tiba-tiba membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Kebetulan kamu datang. Ayo, ikut dengan kami makan," ajak Ziva.


"Aku tidak biasa makan dengan pegawai rendahan seperti mereka," ucap Rena dengan angkuh.

__ADS_1


"Tanpa tenaga seperti mereka, hidupmu juga akan sulit," sahut Ziva.


"Aku bisa bayar mereka!"


"Kalau mereka tidak mau bekerja? Apa uangmu itu berguna? Tidak 'kan?"


"Aku akan beri tahu Razka jika kau membuat rumahnya seperti ini!" ancam Rena.


"Silahkan saja. Siapa yang akan dibelanya?" tantang Ziva.


Rena pun mengangkat ponselnya dan berulang kali menghubungi pria itu namun tak dapat respon.


"Bagaimana? Apa dia mau mengangkat teleponmu?" ejek Ziva.


Rena menatap sinis dan mendengkus kesal, ia pun pergi meninggalkan rumah Razka dengan perasaan marah.


...****************...


Pagi ini Nessa datang ke rumah Razka. Penjaga keamanan melarangnya masuk namun mendengar keributan di luar, Ziva pun melihatnya ia mengizinkan wanita itu untuk masuk.


Ia membawa wanita itu berbicara di taman, tanpa ada yang dapat mendengar percakapan mereka.


"Ada apa Kak Nessa ke sini? Ini sangat berbahaya!"


"Aku mengkhawatirkan keadaanmu, Ziva!"


"Aku baik-baik saja, Kak!"


"Aku merasa bersalah pada kalian, harusnya mencegah pernikahan kalian!"


"Apa kau yakin tidak ingin keluar dari rumah ini?"


Ziva menggelengkan kepalanya. "Razka, tidak begitu buruk!"


Nessa mengernyitkan keningnya," Apa kau suka dengannya?"


"Tidak tahu,Kak. Pria itu seperti menyimpan sesuatu dan aku harus mencari tahu tentang itu."


"Selama aku bekerja dengan dia, sulit sekali mendapatkan alasan dia melakukan ini kepada keluarga kalian!"


"Aku tahu, Kak. Segera pergi dari sini, Ayah Razka di kota ini!" usir Ziva.


"Ayah? Aku tidak pernah bertemu dengannya," ucap Nessa.


"Aku juga baru beberapa hari yang lalu berjumpa, segera pergi dari sini. Razka pasti segera pulang mengetahui Kak Nessa kemari," ucap Ziva.


"Baiklah, aku akan pergi. Jaga dirimu !" ucap Nessa kemudian berlalu pergi meninggalkan Ziva.


Ziva kembali melanjutkan kegiatannya merawat tanaman dan memasak. Ia sengaja memasak makanan untuk menyambut kepulangan Razka. Entah kenapa dia begitu rindu dengan sosok pria yang menjadi suaminya itu. Mungkin karena tak ada teman di rumah ini yang bisa diajaknya berbicara kecuali pria itu.


Lagi-lagi Ziva membuatkan kue untuk dibagikan kepada seluruh pekerja di rumah Razka. Mereka begitu senang dengan sosok istri majikannya itu.

__ADS_1


Siang itu mobil Razka memasuki halaman rumah, ia melihat para penjaga keamanan sedang menikmati kue. Sopir Razka membunyikan klakson berkali-kali membuat mereka terburu-buru membuka pintu pagar.


Perintah klakson tentunya dari Razka karena Yusi menghubunginya jika Nessa datang. Jadi ia segera mempercepat kepulangannya yang seharusnya sore dia akan tiba di rumah.


Nessa sebenarnya tidak berbahaya, namun ia takut wanita itu akan membawa istrinya. Selama ia tidak di rumah para pelayan tentunya akan patuh pada Ziva.


"Kau sudah pulang, bukankah sore akan sampai?"


"Pekerjaan ku di sana sudah selesai. Kau memasak lagi?"


"Iya, aku sengaja masak begitu banyak hari ini."


"Aku sudah bilang, jangan masak terlalu banyak!"


"Sebagian biar di makan mereka," ucap Ziva arah wajahnya memandang para pekerja di rumah Razka.


Razka menghela nafasnya.


"Kau pasti lelah, biar aku sediakan makan siang untukmu !"


"Aku mau membersihkan diri," ucap Razka berjalan ke arah kamar. Ziva pun menyusul suaminya itu.


Sesampainya di kamar ,Ziva mempersiapkan pakaian buat suaminya.


"Apa Nessa tadi pagi ke sini?"


Ziva terdiam sejenak kemudian berkata iya.


"Ada apa dia menemuimu?"


"Dia ingin memastikan diriku baik-baik saja!" jawab Ziva jujur.


Razka tak bertanya lagi kemudian ia masuk ke kamar mandi.


Saat ini, ia sudah bersama dengan Ziva di ruang makan. Istrinya itu menyajikan makanan kesukaan Razka.


"Gio tak kamu ajak makan juga bersama kita?"


Razka menatap istrinya itu.


"Meja ini terlalu besar dan kursinya juga cukup banyak. Dia juga sering bersamamu ke mana dirimu pergi. Apa kalian tidak pernah makan bersama?" tanya Ziva membuat Razka menatap dirinya lagi.


"Panggil Gio!" suruhnya pada seorang pelayan.


Tak lama , Gio pun datang dan tetap setia berdiri tanpa bertanya tujuan ia dipanggil pelayan.


"Duduk!" perintah Razka.


Gio melihat ke arah suami istri itu.


"Kata suamiku duduk, kau harus menuruti perintahnya!" ucap Ziva.

__ADS_1


Gio pun akhirnya duduk bersama dengan mereka menikmati makan siang.


Ziva mempersilakan pelayan kembali ke dapur karena ia tidak tega menyuruh pelayan berdiri di sampingnya sedangkan ia menikmati makan.


__ADS_2